Kamis, 12 Desember 2019

Resensi Novel Love In The Time Of Colera

Judul : Love In The Time Of Cholera
Penerjemah : Ermelinda
Halaman : 649
Penerbit : Ecosystem
Penulis : Gabriel Garcia Marquez

       Love in the Time of Colre adalah salah satu roman terpopuler yang ditulis oleh pemenang nobel sastra asal Kolombia, Gabriel Garcia Marquez. Dalam Love in the Time of Cholera, kita di bawa pada suatu kisah hidup Florentino Ariza, lelaki yang rela berkorban demi cinta sejati dalam hidupnya, Fermina Daza.

        Diceritakan, Florentino Ariza adalah anak haram hasil hubungan ibunya, Transito Ariza dengan seorang pengusaha terkenal. Meski di awal hidup Florentino sang ayah membiayai hidupnya, ia tetap tidak diakui sebagai anak sah (ini pula yang meyebabkan Florentino tidak memakai nama akhir ayahnya, melainkan nama belakang keluarga ibunya), sehingga ia tinggal dalam kesederhanaan bersama Transito Ariza ketika ayahnya wafat. Beruntung, ia memiliki paman yang teramat menyayanginya seperti anak sendiri, Leon XII. Pada cerita-cerita berikutnya, Florentino tidak akan menjadi apa-apa jika bukan jasa dari sang paman ini.

           Hidup di desa yang terkena wabah kolera saat masa kolonial Spanyol, Florentino Ariza kecil adalah anak pemalu dan penyendiri. Maka, ketika atasan tempat ia bekerja sebagai kurir menmintanya untuk menyampaikan telegram ke rumah Fermina Daza, ia hanya bisa termenung menatapi mata indah milik Fermina Daza yang didambanya. Pada suatu kesempatan, akhirnya Florentino berani menyampaikan surat cintanya, yang kemudian bersambung menjadi sebuah jalinan cinta yang memabukkan yang hanya bisa diekspresikan lewat surat karena ayah Fermina Daza, Lorenzo Daza tidak akan meyetujui mereka.

            Ketika apada akhirnya cinta sembunyi-sembunyi yang dirajut Fermina dan Florentina terendus Lorenzo, ia segera memboyong putri semata wayangnya tersebut ke rumah kerabatnya yang jauh dan kembali belasan tahun kemudian. Selama itu, Florentino menunggu dengan sabar. Namun, alangkah mengejutkan bahwa ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Florentino harus menelan penolakan dari Fermina Daza yang sebenarnya juga masih mencintainya.

           Fermina menjalankan hidupnya dan menikah karena terpaksa dengan Dr. Juvenal Urbino yang berasal dari keluarga terpandang. Mereka menikah dalam ketidakharmonisan rumah tangga selama setengah abad hingga akhirnya kematian Dr. Juvenal Urbino memisahkan mereka. Yang membuat roman ini megah adalah kisah kesetiaan Florentino Ariza yang lagi-lagi bersedia menunggu selama setengah abad tersebut demi menjalankan hidup dengan wanita terkasihnya. Meski kali ia menunggu dengan kegetiran yang amat sangat dalam, dan ia bukanlah tipe yang benar-benar bersih dari pengkhianatan. Ia melanggar janjinya sendiri untuk menjaga keperjakaannya selama menunggu Fermina Daza dan bermain api cinta semu dengan banya wanita. Namun, kematian Dr. Juvenal Urbino akhirnya membawa berkah bagi dirinya dan ia berhasil menghabiskan sisa hidupnya dengan Fermina Daza.

          Dalam novel ini, latar kemiskinan dan penjajahan di kawasan Amerika Latin sangat kental terasa. Dengan lihai, Marquez meracik cerita para tokoh-tokohnya dengan berbagai jenis karakter, tidak ada tokoh yang benar-benar baik dan benar-benar jahat, semuanya persis seperti panggung kehidupan seperti pada novel Kejahatan dan Hukuman yang usai saya baca sebelumnya.

Resensi Kejahatan dan Hukuman

Judul : Kejahatan dan Hukuman
Penulis : Fyodor Dostoyevsky
ISBN : 978-979-461-988-9
Halaman : 448
Terbit : 2016
Penerbit :Yayasan Pustaka Obor Indonesia

          Kejahatan dan hukuman adalah novel karya Fyodor Dostoyevsky yang menggambarkan suasana Kepekaan perasaan, pemikiran, kepahitan hidup, intrik, cinta, konflik, kekeluargaan dan persahabatan ditampilkan dengan budaya Rusia.

         Novel ini menceritakan mengenai seorang Mahasiswa bernama Rodion Romanovich Raskolnikov (Rodya) dengan segala permasalahan sosial dan personalnya. Kemiskinan telah membungkam cita-cita, realita kehidupan, juga pikiran, dan terkadang mengguncang psikisnya.

          Hingga pada suatu massa ia bertemu dengan seorang wanita tua lintah darat bernama Alyona Ivanovna yang dinilai kerap memeras dengan memberikan bunga yang mencekik orang yang ingin menggadaikan barang-barang dan membuat orang tersebut semakin jatuh miskin.

          Pada suatu malam, Rodya yang berada dikedai minum mendengar percakapan gila dua orang pemuda yang mendiskusikan untuk membunuh Alyona Ivanovna yang notabennya adalah orang terkaya diantara kemiskinan penduduk didaerah itu, mereka juga mengatakan jika hartanya dibagikan cukup untuk menghidupi orang-orang miskin disekitarnya.

          Oleh sebab itulah kemudian ide gila terlintas dalam benak Rodya, ia berencana untuk menghabisi nyawa wanita tersebut dengan pertimbangan lebih baik membunuh satu orang kaya namun mensejahterakan orang banyak, daripada mempertahankan nyawa satu orang namun menyengsarakan orang lain.

          Pada saat proses pembunuhannya digambarkan jelas oleh sang penulis sehingga saya beranggapan bahwa novel ini akan sangat berbahaya apabila ada seoarng psikopat atau pembunuh bayaran yang membacanya. Dibandingkan novel The Cathcer In The Rye saya lebih setuju novel inilah yang justru harus disukai oleh para pembunuh karena penggambarang pembunuhan sadis itu digambarkan secara jelas. Apalagi dikisahkan bahwa pembunuhan tersebut nyaris tak terendus jejaknya.

             Berbulan-bulan Rodya menanggung beban karena pembunuhan perdananya tersebut. Apalagi dia menghabisi 2 orang sekaligus yaitu Alyona dan adiknya yang sama sekali tak direncanakan oleh Rodya sebelumnya.

            Peristiwa tersebut benar-benar mengguncang jiwa dan mentalnya, dia hanya bisa menyimpang barang jarahan dan kaos kaki yang masih memiliki bercak darah yang memang itu adalah kaos kaki satu-satunya.

           Dounia, adik perempuannya dan Pulcheria Aleksandrovna, ibunya yang tinggal di desa, ayahnya telah meninggal. Kedua perempuan itu datang ke Sankt-Peterburg karena mengikuti tunangan Dounia dan kearena mendengar kabar Rodya sakit.
           Rodya dan ibunya kerap berkirim surat, dalam suratnya, Pulcheria mengatakan bahwa Dounia akan menikah dengan seorang lelaki kaya dan terhormat. Hal itu tentu bisa membuat masalah-masalah finansial keluarga mereka selesai. Tapi Rodya tidak suka dengan alasan itu dan tidak suka dengan Luzhin, tunangan Dounia. Hal tersebut menambah kerumitan hidup Rodya. Di tengah konflik yang menimpanya bertubi-tubi, ia bertemu dengan seorang gadis bernama Sonia. Ia memiliki ketertarikan khusus pada gadis itu. Ia memandang gadis itu memiliki penderitaan yang sama dengannya, kemiskinan dan pahitnya hidup. Ia bersimpati kepada Sonia. Keterlibatan Sonia dalam masalah-masalah yang membelit Rodya, membuat Rodya jatuh hari pada Sonia. Mereka saling jatuh cinta dan Sonia mendampingi Rodya di Siberia.

           Keterampilan Fyodor dalam membungkus cerita ini dengan tidak ditampilkannya secara jelas antara perwatakan antagonis ataupun protagonis yang membuat novel ini seolah-olah memang benar adanya terjadi dan kita dibawa kepada peristiwa tersebut. Namun karena ini merupakan novel terjemahan jadi saya pribadi agak kesulitan untuk memahami makna dan alur ceritanya.

Resensi Novel Arus Balik

Judul Buku : Arus Balik
Penulis        : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit      : Hasta Mitra, 2002
Tebal           : 1192 hlm
ISBN            : 979-8659-04-x

         Arus balik merupakan rangkaian dari tetralogi Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, dan satu naskah yang masih hilang. Seperti karyanya yang lain, Pram kerap menyajikan sebuah cerita yang akan membawa pembaca ikut masuk kedalam cerita tersebut dengan pertimbangan estetika gaya bahasanya.

        Pramodya ananta toer merupakan salah satu sastrawan populer dan bisa dibilang Master Piece khususnya pada bidang Novel Sastra. Pram dengan keikutsertaannya dalam sebuah organisasi yang dianggap sebagai organisasi berbau komunis membuat dirinya hampir menghabiskan seumur hidupnya dalam tahanan di pulau Buru. Bahkan beberapa naskahnyapun dibakar.

         Novel ini menceritakan mengenai kemunduran zaman yang dialami oleh Nusantara, setelah keruntuhan kerajaan Majapahit.

         Kerajaan Majapahit yang menguasai hampir semua negara Indonesia hingga Singapura dan Malaysia yang hanya menjadi dongeng massa lalu pada rakyat zaman itu.

         Layaknya judul pada novelnya, Nusantara yang dulunya mercusuar dari selatan yang menghembuskan angin ke utara, kini harus menerima kenyataan bahwa arus telah berbalik kepada kemunduran yang menyakitkan.

          Wafatnya Adipatih Gajah Mada menjadi titik awal keruntuhan kerajaan Majapahit yang pada massa itu konflik dan perang saudara berkecamuk hingga pada puncaknya, kerajaan Majapahit benar-benar lenyap setelah kehadiran agama Islam ditanah Jawa.

           Kerajaan-kerajaan yang dahulunya dalam kekuasaan Majapahit akhirnya melepaskan diri, para keturunan Majapahit pun lebih memilih berkonsentrasi dengan kerajaan yang masih tersisa, termasuk Raja Tuban Wilwatika yang tidak ingin memperluas daerah kekuasaanya.  "Kedamaian rakyat jauh lebih berarti" ucapnya. Namun hidupnya akan terus berubah bukan hanya karena arus yang terus bergerak namun juga karena faktor eksternal (kedatangan portugis) dan faktor internal (munculnya demak),  namun ada faktor yang tak kalah penting yaitu kehadiran sosok pemuda yang bernama galeng yang muncul ditengah pergejolakan arus tersebut.

          Galeng adalah pemuda desa yang memiliki ketangkasan, kecerdasaan, dan keberanian dibandingkan pemuda lain. Kemampuan nya itu pun di tambah selama masih tinggal di desa, dia sering mendengar "ocehan" dari Rama Cluring yang katanya pernah merasakan kehebatan Majapahit. Kemampuan fisik disertai luasnya wawasan, menjadi modal penting Galeng untuk masuk sebagai pemeran dalam arus balik Nusantara saat itu. Hasilnya babak itu di mulai saat Galeng menghadiri kejuaraan di Tuban bersama kekasihnya Idayu. 

            Kemenengan Galeng sebagai juara dalam kejuaran itu menjadi titik awal pergulatan pemuda desa itu. Munculnya konflik seperti pengkhianatan, kehidupan feodal, munculnya para penjilat yang menambah konflik dalam kerajaan Tuban. Kedatangan Portugis menguasai Kerajaan Malaka menjadi babak awal Galeng sebagai duta Tuban dalam peperangan merebut Malaka, yang di pimpin oleh Adipati Unus (Laksamana Demak), walau akhirnya pasukan Nusantara kalah karena belum bersatunya pasukan kerajaan tersebut.

             Pram pun menyungguhkan, bagaimana rakyat Nusantara saat itu bisa berkerja sama dengan pasukan Portugal (Peranggi). Mulai dari Kerajaan Blambangan dan para pasukan pemberontak Ki Aji Benggala, membuat kita mengetahui cara para penjajah setahap demi setahap mendapat peluang untuk menaklukan Nusantara. Tapi disini, kemampuan Galeng sebagai tokoh Protagonis akhirnya muncul dan daya karismanya mengalahkan aura Raja Walwatika.

           Selain menyajikan pergejolakan kerajaan, kolonialisme, percintaan yang cukup mendominasi. Novel ini juga menyelipkan kisah perjuangan pernyebaran agama islam lewat tokoh firman, seorang musafir yang diutus oleh Sunan Bonang untuk menyebarkan agama Islam ditanah Jawa. Walau tak banyak, namun disinilah letak drama pergulatan seorang firman yang berperang melawan budaya Hindu-Budha yang masih kental di Nusantara, hingga hanya sedikit masyarakat pedalaman yang memeluk agama Islam.

            Pada akhirnya, tanah Jawa yang merupakan daerah yang tenang dan damai berubah menjadi arena pertempuran. Dan galeng yang nantinya berubah menjadi Wiragaleng akhirnya berperan sebagai sosok pahlawan yang akan mengusir Portugis dan akan mempersatukan Nusantara layaknya Mahapatih Gajah Mada.

           Namun seperti yang dikatakan pramodya, bahwa arus telah berbalik, jadi kita hanya bisa melawan dan menekan lebih keras arus tersebut agar Indonesia kembali menjadi Nusantara yang berjaya tak hanya pada massa lalunya, namun juga pada massa ini, dan massa depan nantinya.

Rabu, 11 Desember 2019

Jangan panggil aku mahasiswa paman!

        Masuk kedalam Universitas dan menyandang gelar Mahasiswa merupakan dambaan bagi setiap remaja yang telah usai menyelesaikan studinya di massa putih abu-abu.

        Memang gelar mahasiswa terkesan keren, karena dalam stratifikasi sosial, Mahasiswa tergolong kalangan menengah keatas setelah pengusaha. Namun tak banyak yang menyadari, menyandang gelar mahasiswa juga memberikan tekanan untuk beberapa orang, karena mindset beberapa masyarakat yang masih terbuai oleh idealis kapitalis menuntut bahwa menyandang gelar mahasiswa adalah suatu jaminan gemilang dimasa mendatang.

          Padahal premis tersebut tidak bisa dipukul ratakan kepada setiap mahasiswa, karena kesuksesan seseorang tergantung kepada takdirnya yang telah ditetapkan oleh tuhan bagi mereka yang beriman, dan tergantung kepada usaha yang mereka lakukan bagi setiap mereka yang berpikir rasional.

          Fenomena tersebut menjadi unik karena dewasa ini tak senang untuk menyandang gelar mahasiswa, saya sendiripun masih lebih suka disebut siswa. Dimana belum ada tuntutan yang memberatkan pikiran yang sudah dikacaukan oleh kehidupan kampus apalagi oleh tuntutan Tri Darma Mahasiswa.

           Kita dituntut dapat mengatasi segala peemasalahan, tak hanya persoalan personal, juga persoalan masyarakat bahkan negara.

          "Kita adalah agen of change! Tak seharusnya kita sebagai mahasiswa hanya hidup dalam kamar kos dan mengikuti perkuliahan saja! Saat negara sedang sakit! Maka saatnya kita turun kejalan!" Orasi tersebut terdengar sangat idealis ditelinga kami para MABA yang masih kebingungan akan tugas kami sebagai mahasiswa.

            Mahasiswa baru adalah sasaran empuk bagi beberapa oknum, karena tidak sedikit banyak Maba yang melakukan demo massa bermodalkan ikut-ikutan tanpa memiliki dasar yang kuat atas tuntutannya, melainkan hanya untuk memenuhi eksistensi insta story belaka.

          Masih hangat dibenak kita tentang aksi turun kejalan mahasiswa yang menolak pengesahan RKUHP yang terkesan ngawur. Banyak mahasiswa yang memanfaatkan momen tersebut sebagai ajang adu caption melalui selembar kertas demo yang di junjung kesana kemari.

          Kerap aksi tersebut diwarnai dengan aksi konyol pendemo dari kalangan mahasiswa yang membawa kertas demo dan hanya menginginkan mencari spot foto yang bermutu.

         Menurut saya itu bukanlah aksi, tapi hanya keinginan dalam memenuhi eksistensi ketenaran.

         Aksi-aksi tersebut terkesan lucu dan ironi, karena yang sekarang mereka tuntut yang sekarang sedang duduk dikursi empuk DPR adalah orang-orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan sekarang ini. Mereka juga kerap berdemo hingga larut malam, sebut saja beberapa orang yang ada diatas sana adalah alumni mahasiswa aktivis yang kerap melakukan demonstrasi dan orasi yang berisi sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam peristiwa 1998.

         Dan bagaimana bisa kita yang sekarang sedang berteriak dalam rangka memperjuangkan keadilan bagi masyarakat, dan hanya melakukan aksi selama satu sampai 3 hari yakin bahwa idealisme kita tidak akan terbeli oleh iming-iming jabatan dan gaji buta. Mereka saja yang kerap melakukan aksi besar-besaran dikala itu.

           Aku benci disebut mahasiswa! Karena mahasiswa selalu membicarakan sesuatu yang terkesan idealis, bahkan terlalu utopis dan sukar sekali untuk diwujudkan. Mereka ingin merubah tatanan negara yang bobrok, yang dinilai telah melenceng kepada tujuan utama negara Indonesia. Namun mereka tak sadar telah menjadi bobrok dengan tidak mengikuti kegiatan perkuliahan dikelas dengan dalih membela masyarakat, melawan dan membantah dosen, namun terkadang menjilat pantat dosen dengan harapan mendapat Nilai A.

            Pada akhirnya, saat sudah semester tua barulah tersadar bahwa kita tidaklah mendapatkan apa-apa selama ada diperkuliahan, akhirnya mereka mencoba mengikuti beberapa organisasi dan terjebak dalam politik praktis dalam kampus yang tentu saja sama bobroknya dengan politik praktis di suatu negara. Merek saling senggol, menerkam, dan memakan saudaranya sendiri, siapa yang kuat itu yang menang. Hukum manusia tak lagi berlaku, Homo Homini Lupus pun terlihat pada massa ini. Semua idealisme mengenai peradilan hanya terkesan Omong Kosong, semua yang diperjuangkan sia-sia.

             Jika ditanya "mengapa ikut politik kampus?" Mereka pasti menjawab "membangun relasi dan mencari ilmu yang tidak didapat dalam perkuliahan" yang kemudian generasi inilah yang akan menggantikan generasi yang didemo oleh mahasiswa-mahasiswa selanjutnya.

          Sehingga semua hanya terkesan seperti siklus dialegtika yang kemudian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya mahasiswalah yang menjadi borok atas setiap kebobrokan negara.

Maka dari itu, panggil saja aku siswa kampus paman.

Gak singkron

         Hay guys! Kali ini gue mo ngebahas tentang sistem pembelajaran di negara kita. Haha... Agak kejauhan keknya sih, tapi ya gitulah,

         Menurut kalian udah sesuai belum sih sistem yang dah diterapin sama pemerintah tentang sistem pendidikan dinegara kita buat kita?

         Misal aja nih tentang program full day dan zonasi yang sempat viral dan jadi ladang cari makan beberapa siaran tv yang nyari dan nggoreng fenomena itu. Hmm.... gimana menurut lu pada?

          Pasti bingung, haha... Jujur ini tulisan gue yang paling kagak jelas, bahasanya aneh, campuran, dan terkesan kek gak relevan sama topik yang dibahas.

          Oke deh balik ke topik. Kita jan terlalu jauh ngebahas tentang negara, kita bahas tentang hal kecil dulu deh. Misal aja nih tentang guru yang gak konsisten ama muridnya.

          Guru-guru bilang ke muridnya kalo nilai tuh kagak penting, yang penting kita tuh paham sama teorinya, dan mereka katanya lebih menghargai nilai jelek tapi jujur ketimbang nilai bagus hasil nyontek. Hmm...

           Tapi premis tersebut berbanding terbalik dengan semua realita yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan negara Indonesia, dimana semua murid merasa terancam apabila mendapat nilai jelek karena merasa takut tidak naik kelas, atau seorang mahasiswa yang hanya iya-iya saja dan terkesan menjilat juga mencium pantat dosen dengan harapan mendapat nilai cumlaude, padahal sudah bukan rahasia lagi jika mahasiswa dituntut kritis dan wajar bila skeptis, tapi realitanya?

           Semua idealisme itu terkesan terbeli oleh kepahitan realita yang menyayat-nyayat keadaan dan juga mendoktrin semua pikiran masyarakat agar menyalahkan sistem pemerintah yang dinilai salah. Padahal tidak semuanya kesalahan terletak pada yang diatas.

           Mungkin melalui goresan maya kecil ini bisa merubah keadaan walau sedikit atau setidaknya memberikan penjelasan juga membuka pemikiran anda-anda sekalian.

Salam literasi :'v

Selasa, 10 Desember 2019

Fastabiqul Khoirot, ghoiri Fastabiqul Haq

          "Sejak kapan sih ada takaran baik dan buruk?"

          Pertanyaan yang terdengar receh namun sulit untuk menjawabnya, dan ketika ada yang bisa menjawab pasti akan terus terbantah dan terjebak dalam dunia Dialegtika yang abadi.

           Akan banyak teori yang bermunculan bila membahas fenomena tersebut, namun anehnya kelahiran 1 teori akan melahirkan 10 bantahan terhadap teori tersebut, selalu mendebatkan hal itu yang terkesan kurang kerjaan,

    hahaha... Gak, cuma becanda... Sans..sans...

           Meskipun banyak teori yang terbantahkan namun ada satu teori yang menurut saya banyak di anut oleh banyak orang yaitu tentang teori kontrak sosial, teori ini cukup banyak disetujui oleh banyak masyarakat karena sepertinya memang teori inilah yang menurut saya paling rasional dan masuk akal.

          Teori kontrak sosial merupakan sebuah perjanjian yang mencakup hukum, norma, etika, dan lain sebagainya, yang disetujui oleh kelompok atau komunitas tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa memang tidak ada takaran yang pas mengenai fenomena ini. Namun melalui teori ini, kita dapat memahami bahwa sejatinya takaran etika itu memang tidak bisa di generalisasikan, karena semua norma atau klasifikasi baik buruk itu hanya berlaku pada komunitas-komunitas yang telah membuat norma dan batasan etikanya masing-masing.

             Jadi kita sebenarnya tak perlu memusingkan mengenai nilai baik dan buruk, indah dan jelek, atau berlomba dalam kebenaran. Karena itu semua kembali pada perspektif dan individu masing-masing.

             Tuhan saja tak memerintahkan kita untuk menjadi yang benar, karena gelar maha benar hanya milik tuhan. Misalkan dalam islam Allah SWT hanya berfirman Fastabiqhul khoirot bukannya Fastabiqul haq, karena kita hidup bukan untuk menjadi benar dan berlomba mencari kebenaran, namun memerintahkan kita berlomba dalam kebaikan.

Jadi mulai sekarang jangan saling menghakimi ya...

Filsafat Dasar

Tidak ada pengertian yang pakem mengenai filsafat sebenarnya, karena kata Muhammad Hatta
"kita tidak perlu mengetahui apa itu filsafat untuk brlajar filsafat. Namun kita dapat memaknai sendiri apa itu filsafat setelah kita belajar filsafat."

Karena memang, semakin kita mengenal filsafat maka semakin kita pusing dibuatnya. Karena ada premis yang cukup menarik dari seorang dosen "kamu belum belajar filsafat jika kamu belum bingung".

Sontak pernyataan tersebut membuat saya bertanya-tanya, mengapa bisa demikian? Bukannya tujuan kita belajar itu supaya tidak bingung atau paham ya? Aneh....

Jika ditelisik dari segi bahasa, Filsafat memiliki 2 kata yaitu Filo (cinta) dan Sofi (kebijaksanaan).

Mungkin pernyataan bahwa nama adalah sebuah doa sangat pas bila dikaitkan dengan arti filsafat tersebut, karena mungkin dulu penamaan filsafat bertujuan agar semua filsuf maupun orang yang belajar filsafat dapat memiliki rasa cinta dan kebijaksanaan yang tinggi kepada semua persoalan.

Secara teori, dasar filsafat dibagi menjadi tiga :

1. Ontologi (wujud/hakikat) = adalah tentang bagaimana wujud atau objek dari filsafat tersebut.

2. Epistimologi (sumber ilmu pengetahuan) = adalah tentang bagaimana kita dapat mengetahui fungsi dari filsafat ilmu tersebut.

3. Aksiologi (penerapan) = adalah tentang bagaimana penerapan filsafat ilmu itu digunakan.

Misalkan ketiga unsur ini kita analogikan kepada sebuah gelas, kira-kira hasilnya akan seperti ini.
Gelas akan berperan sebagai ontologi (wujud benda), dan proses pemikiran bagaimana kita dapat mengetahui fungsi gelas tersebut adalah Epistimologi (sumber ilmu pengetahuan), dan kita tahu bahwa fungsi gelas itu ternyata sebagai tempat minuman itu adalah aksiologi (penerapan).

Adapun ciri-ciri yang dimiliki filsafat adalah :
1. Radikal (mengakar/tuntas)
    Sudah menjadi hal yang maklum dalam dunia para filsuf, bahwasannya dalam memikirkan suatu masalah mereka harus terus dituntut berpikir secara radikal atau berpikir hingga kedasar-dasarnya atau mengakar.

2. Universal (umum)
    Filsafat harus memiliki paham yang objektif, bukannya subjektif, karena sejatinya filsafat itu haruslah bisa diterima oleh masyarakat luas. Meskipun sebenarnya ada aliran filsafat yang seolah memiliki paham dogmatis, namun kebanyakan itu terletak pada aliran-aliran filsafat kuno seperti filsafat naturalisme.

3. Konseptual (terkonsep)

4. Koheren & Konsisten (tetap dan saling berhubungan)

5. Sistematis (terstruktur)

6. Komperhensif (menyeluruh)

7. Bebas (tidak subjektif atau terikat)

8. Bertanggung jawab (dapat dipertanggung jawabkan)

9. Rasional & logis
    Bukan filsafat namanya jika belum rasional (masuk akal) dan logis (dapat dikonfirmasi oleh panca indra).

Selasa, 26 November 2019

Baru Keluar Goa

        "Ahoy umat manusia!" Saya adalah seseorang yang baru saja keluar dari goa karena bertapa selama 50 tahun dalam rangka pembersihan dosa. Saya membawa misi untuk mengajarkan apa yang bisa kalian lakukan dalam rangka peleburan dosa.

        Saya ingin menuntun kalian, para insan untuk menjadi sejatinya insan, hingga kalian menyadari apa yang dimaksud seorang insan yang sebenarnya

          Mungkin kalian sekarang masih dalam belantara kesesatan yang nyata, namun saya disini berperan sebagai lentera yang menerangi setiap jiwa-jiwa yang mungkar.

   Sayapun berjalan hingga menemukan sebuah desa yang dibalut dalam keramaian.

   Tentu saja saya langsung melontarkan fatwah

         "Wahai penduduk desa! Marilah kita sama² bermunajat kepada hyang widji, janganlah kalian terlena pada sesuatu yang fana dan sementara, sejatinya hidup adalah kembali kepadanya, bukan terlena atas setiap cobaan yang diberikan olehnya"

           *Prok! Bogem mentah tiba-tiba mendarat di pipi sebelah kanan ku hingga membuat saya tersungkur. "Kenapa anda memukul saya?!" Raungku sambil meringis menahan sakit. Dia hanya tersenyum mendengar umpatanku. "Kenapa kau tersenyum?!" Gusarku.

          Kemudian ia menarik kerah bajuku dan membangunkanku. Kemudian membersihkan debu yang menempel di badan dan pakaian. Kemudian ia pergi dengan senyum manis liciknya.

         Lalu hati ini bergumam sinis "apa dia sudah gila? Atau dia seorang psikopat?!" Saya masih dirundung kebingungan yang amat mendalam.

         Akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa wilayah ini mungkin tidak cocok untuk dakwah² saya. Kemudian saya berlanjut ke desa selanjutnya.

Lalu tiba-tiba *Jedug! Bola berukuran kepala manusia menghantam tempurung kepalaku. "Aduh! Apa lagi ini gusti.....?!" Cibir hati ini.

          Tak lama seorang anak datang dengan menertawakanku dan mengambil bola tersebut. Saat bocah itu berbalik saya menarik pakaiannya dan hendak menanyakan mengapa dia menertawakan saya? Namun ia melempar bola itu kewajah dan mengenai mata kanan saya hingga saya tertunduk menahan sakit.

           "Gusti.... Mengapa dunia ini begitu aneh?!" Gundahku merengek kepada sang hyang widji. Kemudian akhirnya saya mengambil sebuah belatih dan menghunuskannya kepada anak itu. Sontak itu membuat teman anak itu berteriak dan menarik perhatian orang-orang dewasa.

         Orang-orang ini pun melihat kejadian itu dan dengan tatapan kejamnya mereka berlari menghampiri saya dengan membawa senjatanya masing².

        "Kejar dia!" "Bunuh orang itu!" Teriakan itulah yang membuat gentar jiwa dan ragaku, kaki inipun seolah memiliki kehendak sendiri dan berlari tanpa perintah. Saya berlari sekencang mungkin hingga akhirnya saya terpojok karena mendapati jalan buntu.

        Merekapun mengepung dan berencana membunuh saya, "Oh gusti... Bantulah hambamu yang mencoba membawa insan yang sesat ini kedalam karuniamu gusti..." Hati ini tak ada hentinya bermunajat, dan meminta pertolongan, hingga pada akhirnya mereka menyerangku dan aku membela diri.

        "Hiaaaa.....!!" Jleb! Sring! Jris! Jruess! Jreett!

         Tak terasa semua massa itu terkapar dan saya tetap dalam posisi kuda² bertahan, itu adalah pembunuhan masal pertama saya, bola mata ini rasanya ingin melompat dari kantungnya melihat mayat² itu. Nafas terengah-engah dan dengan perasaan bersalah yang menyelimuti jiwa.

        Saya bersimpuh diantara puluhan mayat, dan dengan gemetar memandang belatih dan kedua tangan yang bermandikan darah yang saya anggap pendosa.

         Kemudian terbesit dalam nurani, "siapa yang sebenarnya pendosa? Aku? Atau para mayat ini?!"

        "Aku mungkin bukan tidak sesat, namun aku adalah pendosa, aku adalah manusia yang tak pantas disebut seorang insan, aku adalah seorang durjana yang tak tau hinanya"

"Huaaa......!"

         Sayapun berniat mengakhiri hidup dengan belatih yang sama, namun masih ada gejolak dalam nurani bahwa dosa orang yang mengakhiri hidupnya adalah dineraka selama-lamanya. Akhirnya diri inipun berniat untuk bertapa dalam goa 100 tahun mungkin, dalam rangka penyucian dosa ini.

    Jlek! Jlek! Jlek! Langkah kaki ini mengantar saya kedalam goa dan saya mulai bersila diatas batu pensucian.

           Jresss! Tanpa pikir panjang, belatih inipun menoyak daging, darah pun menodai batu suci ini hingga akhirnya saya sudah telah terputus pada hal duniawi dan menunggu apakah nanti saya bisa terlahir kembali.
  

Kamis, 21 November 2019

Shit!

      "Kriuukkkk!" Bunyi perutku meraung memohon mulut untuk membantu menyuapkan makanan padanya. Entah apa yang merasukiku, tanpa ada yang menyuruh sayapun mencari sumber pengenyagan yang bisa memuaskan perut ini.

       Sebenarnya awalan itu tidak ada kaitannya dengan kejadian yang ingin saya tulis ini, namun itu hanyalah secuil curahan hati saya mengenai kondisi yang selalu saya alami di pagi hari. Hahaha.....

                  Oke kita mulai saja ya...

       Ini adalah kisah seorang insan, anak manusia yang menapaki jejak kehidupan, ia lahir kedunia dari keluarga yang tidak miskin, kurang kaya, tapi sederhana. Ia piawai dalam beberapa hal, bisa dibilang multi talent, katanya...

        Mulai dari mencaci, menghina, menggurui, dan menghakimi orang lain itulah keahlian diri ini Haha.... Mungkin memang terkesan jelek, namun sebenarnya tidaklah demikian. Karena sejujurnya diri ini jauh lebih buruk dari pada itu Hahaha.... Buruk, bahkan saya merasa seakan-akan semua keburukan makhluk di dunia ada dalam diri ini. Dan yang jauh lebih buruk dari pada itu adalah diri ini tidak menyadari bahwasannya orang² disekitar merasa jijik, benci, dan terganggu dengan sifat diri ini.

          "Tak tau diri!" Itulah mungkin julukan yang pas untuk diri ini. Karena maskipun mereka sudah menyalakan kode keras bahwasannya mereka terganggu atas kehadiran diri ini. Namun diri ini serasa telah menutup mata, dan telinga sehingga tidak bisa merasakan kode itu.

          Saya sadar, bahwa saya bahwa saya bukanlah nabi, jadi tak sepatutnya diri ini menggurui dan menceramahi apalagi menghakimi mereka yang ada disekitarku, dan memandang sebelah mata mereka yang ada disekitar. Sekali lagi diri ini bukanlah nabi diantara kalian. Jadi tak sepantasnya diri ini bersikap arogan.

           "Sombong!" Julukan lain yang melekat pada diri ini, karena diri ini kerap memamerkan kebolehan yang tak seberapa ini kepada hal layak. "Jijik Cok!" Mungkin kata itulah yang ingin mereka lontarkan pada diri ini, namun diri ini tak kunjung menyadari. "Bangsat!"

             Kadang saya juga bingung, mengapa diri ini bisa demikian, karena diri ini juga tak kunjung sadar atas perilaku yang diperbuat, "Anjing memang!"

              Bagaikan kaum Majusi yang kehilangan api, diri ini juga terkadang merasakan bingung "kenapa mereka menjauhi ku? Padahal kan diri ini hanya ingin berbagi pengetahuan berbalut kesombongan saja, apa yang salah sih?!"

             Entah mereka yang tak asik, ataukah diri ini yang over arogan?!

            Mungkin ini sudah waktunya untuk diri ini meninggalkan cangkang dan mencari dunia lain yang menerima saya. Namun semakin diri ini mencari dunia Ideal Milik Plato semakin diri ini tenggelam kepada ekspektasi Utopis yang membawa diri ini pada kenyataan yang distopis.

             "Kenapa sih?! Whats wrong baby?!" Apakah seharusnya saya sendiri yang merubah diri ini? Namun kelihatannya mustahil. Selama diri ini masih memiliki Egosentris yang cukup tinggi, maka selamanya saya tak akan bisa merubah diri ini. Bahkan diri saya sendiri. "Fuck you All! Bitch!"

              Okelah... Sepertinya bukannya saya harus mencari dunia Ideal milik Plato, tapi sudah seharusnya diri ini merubah sikap agar bisa menciptakan sendiri dunia Idial milikku sendiri...

            Haha....oke, doakan saja ya teman²

*"H0r0R.....".....Ng3r1".....

Sebuah Rasa

          Kutarik nafas dalam² dan kuhembuskan kembali dengan perlahan, itulah yang aku lakukan pagi ini. Ini bukanlah kali pertamanya aku begadang sampai pagi, dan layaknya begadang seperti biasanya, saya juga merasakan kantuk, namun tak begitu berarti.
           Yah... Begitulah, aku menghabiskan malam bersama kawan² seperjuangan saya. Mereka bukan hanya kawan, namun semacam ada ikatan darah namun tak sedarah entah apa itu namanya, yang jelas saya nyaman ketika bersama mereka.
            Walau terkadang kami sering terjebak dalam sebuah dialektika kehidupan yang memaksa kami untuk berdebat sekalipun itu hal yang receh, namun tetap saja itu tak mengurangi, bahkan itu malah membuat varian baru dalam rasa persaudaraan tersebut.
             Entah saya yang terlalu idealis hingga saya melupakan semua sisi buruk mereka ataukah memang mereka benar² tempat ke 2 saya untuk pulang. Namun satu hal yang pasti, berkat mereka saya akhirnya mengetahui sebuah rasa persaudaraan tanpa harus berpatok pada sebuah ikatan.
               Tak banyak sih yang bisa ku ungkapkan untuk mereka, hanya ingin berbisik lembut ditelinga saudaraku bahwa aku sangat menyayangi kalian semua, ibarat sepasang kaki, kalianlah pasangan kaki untuk saya, karena tanpa kalian, saya merasa pincang dan tak sempurna. Namun tentu saja kalimat itu tak terucap karena sudah pasti itu akan menjadi bumerang sehingga saya akan jadi bulan-bulanan mereka saja..
                Hahaha.... Terkadang mereka juga bangsat, namun tak bisa dipungkiri itulah varian rasa yang telah tercipta seperti apa yang saya katakan tadi. Varian itu tidaklah membuat saya muak atau bahkan jenuh, akan tetapi ingin sekali hati ini untuk menambahkan varian rasa dalam sebuah cangkir persaudaraan ini.
                 Saya senang walau ada diantara mereka yang menjadikan saya sebagai bulan-bulanan dan ada juga sebagian dari mereka yang menjadi korban bulan-bulanan saya. Namun itulah rasa hang saya bicarakan, semua teraduk larut dalam sebuah cangkir persaudaraan yang nikmat.
                 Teruntuk kalian, wahai para saudara tak sedarahku. Jagalah ukuwah ini, boleh saja kita saling mencela atau menghina terbalut sebuah tawa, namun jangan sampai menimbulkan perpecahan dan perceraian diantara kita. Karena harta terbaik yang kumiliki sekarang ini adalah kalian

Selasa, 19 November 2019

Pulang

Judul : Pulang
Penulis : Leila S Chudori
Tema : Sejarah
Halaman : 464

          Dalam buku ini, pihak korban yang menjadi tokoh utama ialah para terduga komunis. Mereka mengalami berbagai pelanggaran hak asasi, kehilangan status kewarganegaraan, sampai pada pelecehan seksual yang dilakukan aparat pemerintah saat melakukan interogasi. Di akhir bukunya, Leila menuliskan bahwa ia melakukan sejumlah wawancara terhadap beberapa tahanan politik saat menulis buku ini, jadi kemungkinan besar ada banyak fakta di balik status buku ini sebagai fiksi.

          Secara singkat novel ini menceritakan tentang tokoh bernama Dimas, seorang eksil politik yang terpaksa mengembara ke berbagai negara karena paspornya dicabut oleh pemerintah Indonesia kala itu. Hal yang menarik ialah tokoh Dimas yang digambarkan memiliki tendensi politik netral. Ia bergaul dengan banyak simpatisan komunis, namun ia juga sering berdiskusi dengan tokoh lajur kanan. Walaupun begitu, ia dan keturunannya tetap terkena imbas atas tuduhan komunis yang seolah menempel permanen di wajahnya.

           Selain mengungkap sisi lain dari peristiwa G30S PKI, novel ini juga berlatar belakang kisruh paris 1968 dan juga Lengsernya orba dengan bergantinya Sistem pemerintahan menjadi Reformasi pada tahun 1998.

Kelebihan : Novel ini mengungkap kejadian yang tidak diungkap oleh media masa, jadi kita juga bisa menilai kejadian tersebut dari dua sisi, dan tidak melulu menyalahkan para anggota dari PKI.

Kekurangan : Banyak menggunakan istilah asing yang tidak semuanya diberikan keterangan dibawah bukunya.

Selasa, 05 November 2019

Go Set a Watcman

Judul : Go Set a Watchman
Penulis : Harper Lee
Rilis : 2015
Halaman : 288
Penerbit : Mizan
Bahasa : Indonesia

          Go Set a Watchman mengisahkan kehidupan para tokoh di To Kill A Mockingbird 20 tahun kemudian. Jean Louise Finch/Scout kembali ke Maycomb Alabama untuk mengunjungi ayahnya, Atticus yang sudah mulai menua. Namun, kota kelahirannya tak lagi seperti dulu, begitu pun sang ayah. Scout harus berjuang mengatasi masalah-masalah pribadi dan politis tentang sang ayah dan kota kecil yang dulu membentuk siapa dirinya.

          Novel ini mengisahkan bagaimana Scout menerima dan beradaptasi dengan perubahan dan peristiwa-peristiwa menggemparkan yang membentuk Amerika di pertengahan 1950-an, Go Set a Watchman memberikan pandangan baru tentang kisah klasik karya Harper Lee. Menggugah, lucu sekaligus menggebrak tatanan sosial masyarakat Amerika saat itu.

Kekurangan : cerita yang disajikan kurang menarik karena konflik yang ditampilkan kurang nyata dan terkesan monoton. Selain itu dalam novel ini juga didominasi oleh ingatan/flashback si tokoh utama pada cerita To Kill a Mockingbird

Kelebihan : Sampul menarik, bahasa yang digunakan ringan, Konflik yang disajikan cukup menarik walaupun hanya berupa flashback dan konflik perseorangan saja.

Jumat, 25 Oktober 2019

Resensi Novel Heart of Darknes

Judul : Heart of Darkness

Pengarang : Joseph ConradI

ISBN : 1-85715-174-7

Tebal Buku : 110 halaman


Kisah ini dibuka oleh sosok bernama Marlow pemuda asal Inggris yang memiliki semangat tinggi dan ditunjuk untuk menjdi seorang nahkoda kapal uap memasuki pedalaman Afrika dengan misi khusus dari perwakilan perdagangan Belgia, untuk mengangkut ‘dagangan-penting’ serta mencari pria bernama Kurtz yang diketahui berada di pelosok belantara Afrika. Bertindak selaku narator, sosok Marlow  menuturkan pengalaman pertamanya memasuki belantara Afrika. Naif dan dipicu semangat untuk melakukan aksi yang menegangkan, petualangan yang mendebarkan, tiada yang bisa mempersiapkan hati serta jiwa pemuda Marlow saat menyaksikan dari dekat kehidupan peradaban masyarakat Afrika (tepatnya di wilayah Kongo) pada masa koloni kerajaan Belgia. Dari uraian, ditangkap bahwa sumber utama ‘perdagangan’ adalah gading yang bernilai tinggi dan sangat sulit untuk dikumpulkan (dan berbahaya pula bagi para pemburu yang tak berpengalaman).


Secara perlahan, pembaca dibawa memasuki dunia lain, menyaksikan perlakuan orang-orang kulit putih terhadap penduduk asli yang bisa diibaratkan makhluk tak berharga, hanya bisa dimanfaatkan tenaganya semaksimal mungkin. Perdagangan lain yang tak disembunyikan bahkan disahkan oleh hukum sert otoritas setempat, perdagangan budak antara sesama kaum Afrika. Mereka ditangkap dari desa masing-masing, hanya dipilih yang cukup sehat dan muda, sisanya dibunuh. Kebebasan apa pun lenyap, hak kehidupan kaum budak ini ditentukan sangat tipis batasnya dengan hewan peliharaan, yang acapkali mendapat perlakuan lebih baik. Dirantai di leher dan kaki, diharuskan mengangkut hasil tambang menelusuri medan yang berat dan jauh, tanpa ransum ataupun bekal yang memadai. Jika ada yang tewas, tubuhnya dibiarkan begitu saja untuk digantikan budak lain yang tak kalah menyedihkan kondisinya.


Ketidak-pedulian akan keberadaan kaum Afrika yang digambarkan sebagai ‘makhluk primitif’ ... bodoh, tidak berbudaya, kanibal dan tidak memiliki akhlak atau pun moral, yang justru menjelang akhir kisah menjadi sebuah kontradiksi pada pemikiran Marlow. Pergulatan dalam benak serta jiwa Marlow, terungkap cukup jelas sepanjang deskripsi yang ia tuturkan. Antara rasa takut dan keingin-tahuan menelusuri dunia yang sama sekali berbeda, antara rasa jijik hingga muak, bergulat dengan perasaan manusiawi dari hati nuraninya. Dengan menggunakan sosok Kurtz sebagai pedoman moral – pria yang tak pernah dikenal selain legenda akan keahliannya sebagai pemburu gading ternama, karakter Marlow akhirnya harus berhadapan dengan realita bahwa kepahlawanan yang diagung-agungkan oleh masyarakat (terutama kalangan penguasa Eropa), ternyata justru berbalik 180 derajat yang mengguncang batinnya.


Kurtz sang pemburu gading yang legendaris, tidak lagi memiliki sosok pria perkasa, fisiknya hancur beserta jiwanya, berontak akan misi yang mengharuskan dirinya meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari peradaban yang masih perawan dengan cara apa pun (termasuk melenyapkan siapa pun yang dianggap sebagai penghalang), dan hati nurani yang akhirnya mengakui makhluk-makhluk yang dianggap primitif dan tak berbudaya itu juga manusia, dengan akhlak dan moral yang masih polos. Heart of Darkness mengisahkan perjalanan manusia menelusuri kegelapan pikiran manusia diujung kegilaan, mempertanyakan kebenaran, terombang-ambing antara realita dunia nyata dengan realita dunia impian.

Lebih dari 100 tahun setelah diterbitkan pertama kali, novel ini masih populer. Saya percaya, penulisan Heart of Darkness didorong oleh rasa bersalah. Conrad menghabiskan enam bulan bekerja di Kong pada tahun 1890, sebagai agen yang tidak disengaja, hampir rahasia, dari genosida pertama di era modern. Jutaan orang Kongo dibantai untuk meraup laba bagi raja Belgia, Leopold II. Sepuluh juta orang diperkirakan meninggal dunia. 
Apa yang Conrad lihat di Kongo itu membara dalam  jiwanya selama delapan tahun sampai, dalam beberapa bulan, dia menuliskan novel yang menghantui ini. Kekuatan novel ini berupa kecamannya yang fasih terhadap kesombongan kolonialisme dan pemikiran mengerikan bahwa umat manusia telah benar-benar berperilaku seperti itu. Tapi kekuatan sebenarnya bagi saya adalah ketika saya memungutnya lagi, saya tahu bahwa saya akan kembali menemukan sesuatu yang  baru.

Selain itu, novel ini juga ditulis dalam tatanan yang agak rumit, yakni hanya lurus dan tidak memiliki jarak Tab seperti penulisan paragraf pada biasanya. Hal ini mungkin karena penulis ingin menyampaikan pesan berupa kerumitan, kekacauan dan keresahan yang terjadi pada cerita tersebut. Cerita itu juga saat dibedah lebih dalam lagi ternyata masih memiliki Relevansi dengan kehidupan saat ini. Seperti saat munculnya manusia kanibal yang menurut saya itu adalah hasil dari penganalogian wujud seorang koruptor, bahkan lebih kejam dari pada koruptor.

Kelebihan : memiliki makna dan pesan yang dalam, yang disajikan melalui adegan² yang bersifat Metafora.

Kekurangan : Format terkesan rumit, karena tidak menggunakan susunan paragraf seperti biasanya. 

Sabtu, 19 Oktober 2019

Resensi Novel Lelaki Harimau

Judul : Lelaki Harimau
Penulis : Eka Kurniawan
Genre Fiksi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 204 halaman

          Pada bagian awal diceritakan bahwa Margio adalah bocah yang menggiring babi ke dalam perangkap. Namun di sore ketika seharusnya beristirahat menanti musim perburuan, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan pengkhianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. “Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau di dalam tubuhku.”

           Bagi saya ceritanya tidak mudah ditebak. Selain menggunakan alur maju mundur yang cepat, dalam novel ini juga saya temukan beberapa kosakata baru, seperti surau, lenguhan, pejal, begundal, pelor, dan masih banyak lagi. Kata-kata yang sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah saya temukan di novel-novel lain.

           Nama tokoh-tokohnya pun unik. Di sini semua tokohnya memiliki peran yang penting dan membuat saya bersimpati pada tokoh-tokohnya, terutama pada Margio, Nuraeni, dan Komar bin Syueb. Lelaki Harimau bisa dibilang novel psikologis-magis meskipun sisi magis yang ditampilkan hanyalah sedikit. 

            Dan menurut saya, Eka Kurniawan adalah seorang penulis yang sangat cerdas dalam memadupadakan kata dan memainkan plot cerita. Ini terlihat dari caranya menyampaikan gagasannya, kata-kata yang digunakannya, dan plot maju mundur yang tidak biasa.

Resensi Buku Bumi Manusia

Judul : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara

Isi : 535 hlm
ISBN : 979-97312-3-2

          Novel ini menceritakan kehidupan pada tahun 1898 yang berlatar tempat dikota Surabaya, yang tentu saja itu adalah masa pendudukan Hindia Belanda. Namun bukan penindasan Tentara Belanda kepada Rakyat Indonesia yang digambarkan oleh penulis, melainkan lebih kepada keadaan kota Surabaya pada masa itu dan Romansa antara Minke dengan Anelis. Meskipun ada beberapa momen yang menceritakan tentang penindasan Rakyat Indonesia seperti saat Jean Marais bercerita sewaktu dia bergabung dengan Tentara Belanda dan terlibat pada Perang Aceh. Namun menurut saya tetap saja buku ini berfokus untuk menceritakan kondisi kota Surabaya pada massa itu.

          Selain tokoh Minke, Bumi Manusia yang berlatar di Surabaya pada masa kedudukan Hindia Belanda 1898 ini juga menggambarkan seorang "nyai" bernama Nyai Ontosoroh, dan bisa kita lihat pandangan orang mengenai "nyai" pada massa itu adalah buruk, walaupun Nyai Ontosoroh ini sangatlah beda dengan Nyai² lainnya.
           Sosok Minke sendiri disebut oleh penulis terinspirasi dari sosok Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar berbahasa Melayu pertama di Indonesia yang belakangan dikenal juga sebagai Bapak Pers Nasional seperti yang tertulis dilaman CNN INDONESIA saat menceritakan sinopsis novel ini.

            Penulis novel ini juga sering memberikan gambaran² yang jika dibedah lebih dalam lagi kita bisa menemukan pesan yang ingin disampaikan penulis seperti penderitaan seorang Nyai Ontosoroh ketika "dijual" oleh ayahnya sendiri kepada Tuan Mallema yang bisa kita simpulkan bahwa kehidupan wanita pada masa itu bagaikan boneka yang tidak diberikan Hak Asasi apapun, bahkan digambarkan pada novel itu digambarkan jika Nyai Ontosoroh hanya bisa terdiam dan pasrah saat tuan Mallema menciuminya, meneluknya, dan melempar²kannya bagai Boneka Mainannya. Dan dari pengalaman beliau tersebut, kemudian beliau memiliki tekad untuk mendidik Anelis putrinya dengan keras agar tidak bergantung terus kepada pria dan membiarkan Anelis memilih pria pujaannya sendiri.

Kelebihan : Buku ini seolah membawa pembaca kedalam keadaan pada zaman itu, dan merasakan apa yang dirasakan tokoh, dengan demikian, pesan yang disampaikan bisa benar² masuk dengan mudah kepada pembaca.

Kekurangan : Buku ini banyak menggunakan istilah² yang sulit dipahami, mulai dari majas, bahasa yang tinggi, dan istilah² asing, jadi mungkin buku ini tidak cocok untuk anak² atau orang yang baru mulai membaca novel beraliran sastra.

Kamis, 12 September 2019

Sebatas Hamba part.2

          Pagi ini terasa begitu monoton, bahkan sholatpun menjadi semakin terasa hambar dan tak ada sensasi sedikitpun, sangat berbeda jauh dengan dulu.

          Entah apakah kini Allah benar-benar marah dan benci kepadaku atau Allah masih sayang kepadaku dan sedang memberikan teguran atas kesalahan-kesalahanku.

          Saya ingin menangis, menangis dan berteriak sekencang-kencangnya, namun hati terlalu keras untuk bisa berteriak dengan linangan air mata. Aku benci diriku yang sekarang, diriku yang terasa terus dan semakin jauh kepada tuhan. Bahkan saat sholatku telatpun aku tak merasakan kekhawatiran.

          Waktu pun berjalan begitu lambat, dalam perasaanku. Dan aku merasa setiap langkah dan hembusan nafasku adalah dosa dan laknat dari Allah, tuhan saya. Saya merasa pernah menyesal mempertanyakan dan mencoba mencari kebenaran tentang tuhan, bukan malah mengeratkan, namun saya merasa semakin jauh dan nyaris terpisah kedekatan saya kepada tuhan saya.

          Kemudian, saya mencoba fokus pada agama saya dulu, dan mengesampingkan pemikiran-pemikiran radikal dan rasionalitas yang berlebih yang saya miliki ini. Namun semua seperti sia-sia. Pemikiran radikal saya tetap ada dan saya merasa tetap jauh kepada tuhan.

         Kemudian saya mencoba melupakan masalah saya, dan kebetulan waktu itu kawan-kawan saya mengajak saya untuk berkumpul, dan malam ini seperti tuhan kembali dekat dengan saya, saya merasa seperti saat saya berada dirumah, saat dimana saya dekat dengan Allah SWT. Meskipun saya belum merasakan kenikmatan saat sholat, namun saya merasa bahwa saya sudah mulai dekat dan hubungan saya mulai baik dengan tuhan saya.

          Buktinya, saya butuh pengalihan dari masalah saya ini, teman2 saya mengajak saya untuk kumpul, dan ketika saya lapar dan uang nipis, tiba2 juga kawan saya menghubungi saya jika saya disuruh makan disana karena mereka masak nasi dan lauk terlalu banyak. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi selain ucapan "Alhamdulillah hirabbil 'alamin" saya merasa sangat bersyukur, bukan karena saya mendapat rezeki itu. Namun karena saya bisa dekat lagi dengan tuhan saya.

          Kemudian saya mencoba untuk sholat isya', ya...meskipun masih terasa hambar, namun masih sedikit ada sensasi rasa tenang, nyaman, damai, dan tentram saat dan setelah sholat. Saya pun merasa bersyukur sekali karena bisa dekat kembali kepada sang maha kuasa Allah SWT.

          Lalu bagaimana dengan proses pencarian tuhan dan pikiran2 radikal saya? Entahlah.... Biarkanlah waktu yang berbicara, dan tuhan yang merestuinya 😔😊

Rabu, 11 September 2019

Sebatas Hamba

          Astaghfirullah Halladzim.....Astaghfirullah Halladzim....Astaghfirullah Halladzim.... Berulang kali kata itu terucap dalam hati dan bibir saya, namun tetap tidaklah bergetar hati ini, seolah hanya merasakan hambar dan bahkan saat saya melaksanakan sholatpun saya tidak merasakan kenikmatan. Berbeda saat saya melaksanakan sholat dirumah dulu.

          Saya merasa seperti semakin jauh dan jauh kepada tuhan saya... Allah SWT. Semua itu berawal dari rasa penasaran saya yang ingin mengetahui keberadaan tuhan dan mencoba menerapkan konsep kebebasan berpikir saya. Namun seperti yang pernah dituturkan oleh mas Time/mas Birar bahwa "semakin kamu mencoba mengetahui keberadaan tuhan, semakin jauh pula kamu dengan tuhan. Namun semakin jauh kamu, semakin banyak yang kamu dapat, dan tidak ada jaminan kamu bisa kembali ketitik awal syariat"

            Dan kini, mulai ada penyesalan dalam diri saya ketika saya mencoba menerapkan konsep-konsep tersebut, memang ini sangatlah bermanfaat dalam segi Habluminanas atau berhubungan antar manusia, namun ini sangatlah menganggu Hablinallah saya.

           Kemudian saya mencoba mengungkapkan keluh kesah saya kepada mas Time, dan mas Time memberikan perumpamaan kepada saya. "Jika hubungan Tuhan kepada hambanya diibaratkan sebuah hubungan romantisme pacaran, maka kamu dulu saat ada dirumah ibarat baru awal pacaran, dan sekarang sedang ada konflik. Namun percayalah jika nantinya setelah ada pertengkaran/konflik ini, maka hubunganmu akan semakin erat lagi"

            Dan sayapun meng-amini pernyataan beliau, karena memang tidak ada hubungan tanpa masalah. Namun beliau juga menuturkan "ya...meskipun sekarang hubungan kamu sedang ada masalah, ya bukan berarti kamu jadi lepas tanggung jawab begitu aja. Kamu juga harus mencoba memperbaiki hubunganmu dengan merayu Tuhammu!."

         Beliau juga bercerita mengenai perjalanannya mencari tuhan. Beliau pernah mengalami masalah seperti ini. "Jika dibilang putus. Saya sudah putus 2X, bahkan pernah saya mendengar kalimat Allah namun hati saya biasa saja dan saya tidak bereaksi apa-apa". Hal itu membuat saya semakin takut, saya takut jika jalan yang saya tempuh adalah salah. Dan saya takut hingga akhir hayat saya, saya berada dijalan yang salah. 😔😢

Masa Lahloe

          Malam ini, sepulangnya dari sidoarjo saya langsung ke warkop kandang kopi didepan kampus. Karena memang teman-teman ingin membahas perihal Roro yang dikeluarkan daei grub oleh mas Raju, selain itu juga bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan.

          Lelah? Tidak! Karena saya senang bisa bertemu kembali dengan kawan-kawan saya setelah 3 hari melakukan perjalanan dalam rangka "Ngubek Kuto", ya....itu adalah istilah yang saya buat untuk menamai perjalanan saya ini.

           Nama itu memiliki arti "Mengobok Kota", maknanya...saya berusaha mengobok kota itu hingga saya menemukan sesuatu yang bermanfaat yang bisa saya jadikan acuan untuk memperbaiki kota tercinta saya Jember.

           Kemudian sampailah saya di warkop tersebut dan bertemu dengan kawan-kawan lainnya. Kita sharing-sharing pada awalnya, namun pada akhirnya kami saling berpendapat dan mengemukakan bagaimana penilaian pertama saat kita bertemu.

           Kebanyakan mereka menilai saya sebagai sosok yang pendiam, pintar, dan cuek/sedikit bicara, juga suka mengemukakan pendapat. Namun semakin hari setelah mereka mengenal saya, semua argumen itu luntur karena rupanya saya tidaklah seorang yang pendiam, karena saya adalah orang yang gokil dan justru humoris. Dan mereka kecewa telah menilai saya seperti itu 😂.

           Kemudian saya pun membuat klarifikasi, jika penilaian mereka tidaklah 100% salah, karena saya pernah pada posisi anak yang pendiam, juga pada posisi anak brandal dan brutal... ea...! 😂

            Sayapun mulai bercerita mengenai diri saya, dan kenapa saya menjadi seperti itu. Setelah mereka tau tentang masa lalu saya, kebanyakan dari mereka terkejut dan seolah tidak percaya, namun itulah adanya.

           Setelah saya selesai mengemukakan masa lalu saya, kemudian teman2 jadi ikut mengemukakan masa lalu mereka, dan saya juga agak terkejut, juga heran. Karena ternyata mereka memiliki latar belakang yang agak sedih juga sedih sekali.

Ngubek Kutho bg.2

          Dari mojokerto saya pindah ke kota Sidoarjo, tepatnya didesa Prambon. sama seperti di kota sebelumnya, saya kesana dalam rangka refreshing dan sedikit melakukan observasi juga.

          Kebetulan disana saya langsung disambut dengan lomba 17 Agustusan yang agak terlambat. Meskipun agak terlambat, namun itu tidaklah mempengaruhi semangat dan antusias warga untuk memeriahkan acara tersebut. Kemudian saya mendokumentasikan kegiatan tersebut dengan tujuan saya edit dan saya upload di medsos nantinya.

          Setelah itu saya dan kawan saya meninggalkan lokasi tersebut karena sudah masuk waktu dzuhur dan makan siang. Setelah itu saya melihat - lihat kota sidoarjo tersebut, tepatnya di desa Prambon. Ternyata di daerah yang sangat dekat dengan ibukota Jawa Timur memiliki kesamaan terhadap kota saya Jember, yang bisa dibilang, Salah Satu Pucuknya Pulau Jawa Timur. Yaitu mengenai pembangunan yang kurang merata antara pusat kota dengan desa.

          Seperti terjadi kesenjangan dalam segi pembangunan, entah apa penyebabnya. Namun saya menyimpulkan bahwa, semakin kota tersebut maju dalam kategori ke-industriannya. Maka, akan besar pula tingkat kesenjangan dalam segi pembangunan antara pusat kota dengan desa disekelilingnya. Namun itu hanyalah argumen saya, dan saya juga masih mencari tau apa penyebab utamanya.

Ngubek Kutho

          Saya membuka mata dan alangkah terkejutnya ketika saya mengetahui jika saya kesiangan,dan belum melaksanakan sholat subuh. Kemudian saya bergegas berbenah diri dan sholat subuh dengan cara meng-qodo' nya.

          Tidur saya terlalu lelap karena mungkin kelelahan dan saya memang mulai tidur pukul 03.15 dini hari, mungkin itu yang menjadi faktor kesiangan saya. Pagi itu memang terasa berbeda, karena saya tidak lagi ada di pulau Madura, akan tetapi sudah ada di pulau Jawa, tepatnya di Kota Mojokerto.

          Saya melakukan observasi disana dan merasa sangat heran dan kagum melihat kemajuan kota tersebut, pembangunan yang merata, masyarakat yang guyub rukun, kota yang kental akan budaya, dan tidak menolak moderenisasi juga. Jadi kemudian saya berpikir, alangkah indahnya jika kota saya Jember bisa seperti ini. Namun tentu saja itu sangatlah tidak relevan, jika saya membandingkan kota Jember dengan Mojokerto. Karena dari segi keluasan sendiri, Jember dan Mojokerto sangatlah terpaut jauh, jadi mungkin faktor itu yang membuat Jember pembangunannya kurang merata, tidak seperti kota Mojokerto.

         Kemudian saya bertanya, mengapa kota ini sangat kental dengan budaya jawa timur, apalagi dari segi arsitektur. Bahkan alun-alun dan pemkotnya pun memiliki desain arsitektur ala kerajaan-kerajaan majapahit. Setelah saya bertanya kepada beberapa narasumber yang itu adalah penduduk asli sana, beliau menuturkan bahwa kota ini adalah peninggalan dari kerajaan Majapahit, tepatnya oleh panglima Majapahit, Patih Gajah Mada. Jadi tidaklah mengherankan jika kota ini sangat kental dengan budaya jawanya.

          Kemudian saya jadi terpacu agar bisa menjadi orang yang berpengaruh di kota saya nantinya, agar bisa memperbaiki kota saya tercinta. Jember.

Selasa, 10 September 2019

Pemikiran Sederhana

          *Ngeng...! Saya dan Hilmy pergi dari pulau Madura menuju ke Sidoarjo. Kami bernagkat pada malam hari, banyak kendaraan lalu lalang dan muda - mudi yang sedang menikmati malam.

           Saya melihat sekitar, dengan tujuan mencari bahan untuk saya tulis di blog ini sebagai penugasan dan ilmu baru juga tentunya. Namun sepertinya tidak ada yang menarik. Entah otak saya yang sedang buntu atau memang kenyataannya begitu.

           Kemudian saya menatap ke lampu merah, dan sesekali melihat langit malam yang begitu indahnya dengan dihiasi cahaya bintang dan rembulan. Kemudian terbesit dipikiran saya. "Kenapa Allah tidak menciptakan Pagi/Siang saja? Mengapa harus ada malam?"

          Setelah itu saya mulai memikirkan hal tersebut, mungkin itu hal yang sepele. Mungkin hal yang sifatnya sepele itu akan menjadi luar biasa ketika kita menemukan jawabannya. Kemudian mulailah terjadi konflik didalam pemikiran saya. "Kenapa sih harus ada malam?!" Pertanyaan itu terua yang selalu terngiang-ngiang dikepala saya, dan saya menjadi tidak tenang, bahkan menyesal sudah berpikir demikian. 😂

           Namun saya mencoba berpikir lebih keras lagi, dan sedikit mengutuk pikiran saya sendiri, mengapa hanya sampai segini pemikiran saya. Pertanyaan itu masih menghantui pikiran saya. Mengikuti setiap kegiatan, dan seolah - olah mengejek pikiran saya, karena saya masih belum bisa memecahkannya.

          Akhirnya saya mencoba memikirkan hal yang paling sederhana untuk memecahkan pertanyaan saya. Saya membayangkan, bagaimana jadinya jika didunia ini hanya ada pagi dan siang saja.

          Kemudian saya pun tertawa sendiri, karena saya membayangkan pasti tidak akan ada istilah sekolah terlambat karena memang tidak ada pembeda mana waktu siang mana waktu malam. Dan kemudian saya agak ngeri juga membayangkan jika tidak ada malam. Pasti dunia akan kacau karena alokasi waktu yang tidak jelas. Kita bisa begadang dan tanpa tau jika itu sudah esok hari, kemudian saya tertawa lagi. 😂 Bayangkan saja, misalkan kita sedang ada di kedai, buat push rank... Gak nyadar keasyikan nge-ML, eh gak taunya udah 3 hari main game, gak sekolah dan gak istirahat. Dan lebih parahnya mungkin banyak yang mati karena kurang istirahat 😂

          

Pembentukan Karakter?

          Malam ini saya mengikuti malam Inagurasi Universitas Trunojoyo Madura, semua tampak indah pada awalnya, dan mungkin hanya ada cacat sedikit, yang itu disebabkan oleh pesertanya sendiri.

          Kemudian saya mulai untuk bergabung dengan kawan satu kelompok ospek universitas kemarin, kita bernostalgia dan bersuka ria bersama, tak terasa sudah cukup lama kami berbincang hingga pada akhirnya seksi acara mengumumkan kepada peserta bahwa acara akan segera dimulai.

          Kemudian masuk lah kami dengan mengisi absen terlebih dahulu dan kami juga dicek oleh petugas, takutnya membawa barang-barang yang dilarang, yang sebelumnya diberitahukan kepada peserta, seperti Miras, Sajam,Makanan & minuman, dan alat berbahaya lainnya.

          Kamipun masuk dan lampu mulai dimatikan karena memang acaranya akan segera dimulai. Setelah itu kami melihat banyak sekali perform yang terbaik dari para penampil, seperti Nanggala, Dancer, dan B-Sing. Namun meskipun acaranya seru dan semua bisa menikmatinya. Namun apalah daya, rasa kantuk mulai datang dan saya tidak bisa berbuat banyak untuk melawan kecuali menuruti kebutuhan kantuk saya ini 😂.

          Semua berjalan sesuai dengan mestinya, namun saat saya mendengar suara sirine yang tidak asing lagi ditelinga saya, tentu saja saya langsung terjaga dari tidur saya tersebut. Ternyata benar dugaan saya, itu adalah sirine KPK dan mereka masuk bukan untuk membentak - bentak lagi, namun untuk meminta maaf dan wejangan kepada kami dengan sedikit guyonan. Mereka juga berjoged dan seru2 an bersama kami.

          Tidak ada yang aneh pada malam itu, semua tampak sempurna dan nyaris tanpa cela, namun mindset saya berubah ketika kita bernyanyi dan berjoged bersama, semua terlihat para putra dan putri bercampur jadi satu, berjoged ria saling berdempet dan bersenggolan. Mungkin untuk sebagian orang itu biasa saja. Namun untuk saya itu sungguh tidak bisa di anggap biasa saja! Karena sudah 2 minggu kita mengikuti ospek dan sudah digembor2 kan mengenai pendidikan dan pembentukan karakter, namun semua itu hancur seketika hanya dengan 1 malam saja. Indah sekali.... 😊

          Semua menjadi semakin anarkis! Ketika lagu debu jalanan dikumandangkan, semua anak laki-laki mulai membentuk lingkaran dan melakukan Moshing, dan seperti yang kita tau, Moshing tidak bisa di anggap sebagai tarian yang ramah. Karena itu bukan hanya sekedar tarian biasa, melainkan melibatkan kontak fisik pula.

           Sayapun jenuh, dan memutuskan untuk meninggalkan kerumunan ini dan berharap menemukan kebaikan dan kedamaian di belakang. Dan saya mulai menuju kepintu keluar dan harapan saya tentang bisa menemukan kedamaian dan kebaikan ternyata salah. Justru saya menemukan kejanggalan lain, dimana BEM membuka stand jualan minuman, dan saya cuma bisa tersenyum, dan memikirkan apa sebenarnya maksud mereka melarang kami membawa makanan & minuman kepada kami, dan mereka malah membuka Stand di dalam gedung.

"Sungguh malam yang sangat indah"

Resensi novel Atheis

          Novel ini menceritakan seorang anak bernama Hasan yang hidup ditengah keluarga agamis, kedua orang tua nya pun penganut ilmu tarekat yang sangat kuat, dan mereka juga sering melakukan amalan-amalan yang berat. Setelah Hasan menginjak diusia dewasa, ia mengemukakan keinginannya untuk mempelajari amalan yang kedua orang tuanya amalkan tersebut.
          Karena tekat Hasan yang kuat inilah yang membuat Hasan tidak keberatan menjalani serangkaian amalan yang berat, bahkan Hasan pernah mengurung dirinya selama 3 hari, tidak makan, tidak minum, dan tidak bersosialisasi dengan orang lain, juga mandi selama 40 kali dalam sehari.
          Karena seringnya Hasan mengamalkan amalan yang berat seperti itu, membuat Hasan merasa mampu dan berkeinginan untuk menyadarkan orang-orang yang tersesat dimuka bumi ini. Setelah itu bertemulah Hasan dengan kawan lamanya yang bernama Rusli, ia adalah seorang yang idealis dan selalu melihat segala sesuatu berdasarkan fakta/material (terlihat), dan bisa dikatakan bahwa dia adalah seorang atheis. Bahkan semasa kecilnya, dia sering mengganggu Hasan saat sholat di masjid, namun itu tidaklah menjadi penghalang antara mereka, akan tetapi membuat mereka tetap bersahabat hingga mereka dipertemukan kembali.
          Mereka bertemu disebuah rumah sakit saat Hasan hendak menebus obat di loket, pada saat itu, Rusli yang ditemani seorang perempuan yang diakui sebagai adiknya pun bertemu, sontak saja Hasan begitu heran, karena ia mengetahui jika Rusli adalah anak tunggal. Kemudian Hasan mengira itu adalah istrinya, ketika Hasan penasaran dan mengorek informasi lebih dalam lagi mengenai perempuan yang bernama Kartini tersebut, dan ternyata perempuan tersebut adalah wanita yang ditolongnya karena kabur dari cengkraman seorang rentenir dari arab yang menikahi Kartini dan ibunya secara paksa.
          Kemudian Hasanpun jatuh cinta dan memutuskan untuk menikahi kartini, namun cinta mereka terhalang oleh restu orang tua Hasan, karena Hasan sudah dijodohkan oleh adik angkatnya yang bernama Fatimah. Selain ity, kedua orang tua Hasan tidak merestui mereka karena perilaku Hasan yang kian brutal dan mendekati murtad karena sering bergaul dengan Rusli dan Kartini tersebut. Sontak hal itu membuat Hasan marah dan tetap memutuskan untuk menikahi Kartini.
          Hasan pun menikahi Kartini, namun mereka tidaklah merasakan kebahagiaan, karena kehidupan kartini yang bebas, membuat Hasan sering terbakar api cemburu. Dan pada suatu malam, terlihat Kartini baru pulang dengan Anwar, yang menjadi teman akrabnya. Tentu saja itu membuat Hasan marah dan bermain fisik terhadap kartini.
          Kartini pun melarikan diri dan bertemu Anwar, kemudian dia menceritakan semuanya dan Anwar mengajaknya untuk menginap di hotel. Kartini pun tak menaruh curiga kepada Anwar yang sudah menjadi sahabat karibnya itu. Namun, ketika Kartini menyadari bahwa Anwar mencoba untuk merenggut harga dirinya, ia pun melarikan diri dari hotel tersebut, dan di susul oleh Anwar.
          Hasan pun merasa menyesal telah berbuat demikian terhadap kartini juga kedua orang tuanya, khususnya pada ayahnya. Mendengar ayahnya sakit keras dia memutuskan untuk menemui ayahnya. Ditengah perjalanan penyakit TBC nya kambuh, namun Hasan menguatkan diri untuk terus berjalan sambil terngiang-ngiang dikepalanya suara kutukan, cemoohan, dan amarah ayahnya yang mencela perbuatannya dan keputusannya untuk menjadi seorang yang murtad.
           Karena Hasan sudah tidak kuat lagi, ia memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dan ia menemukan sebuah penginapan, yang penginapan tersebut adalah penginapan yang baru saja ditempati Kartini dan Anwar. Hasan melihat ke daftar tamu dan melihat ada nama Anwar dan Kartini. Sontak ia langsung berlari membelah kesunyian malam tanpa mempedulikan penyakit yang dideritanya. Sirine tanda bahaya pun berbunyi keras. Meraung-raung mengacaukan sunyinya malam, namun hal itu tidaklah dipedulikan oleh Hasan karena Hasan sudah gelap mata.
          Kemudian terdengar suara tembakan Dooorr! Hasanpun terjatuh dan mengingat segala dosa-dosanya, kemudian didalam hati kecilnya, ia tidak ingin berakhir sebagai orang yang Kafir! Ia pun berteriak "Allah hu Akbar!" Sebelum akhirnya ia bergulung-gulung ke aspal, dan tidak bergerak lagi.

Jumat, 06 September 2019

Sang Guru

          Hari ini, sebelum saya berangkat kuliah saya sempat berbincang - bincang dengan kawan satu kamar saya, dia membicarakan mengenai pengalamannya sewaktu mengikuti acara Ngopi Asik semalam, dia berbicara mulai dari materi yang disampaikan, hingga momen-momen mengesankan dan lucu.

         Kemudian kawan saya menyinggung sedikit tentang bapak dosen yang saya anggap kurang kompeten, dan sempat saya tulis di blog beberapa hari lalu, kebetulan hari ini adalah giliran mata kuliah beliau, dan hanya mata kuliah beliau saja.

         Kawan saya bercerita banyak mengenai beliau, dan kawan saya ini mendapatkan info dari salah satu kating yang menjadi pengurus Ngopi Asik. Dia mengatakan bahwa dulu bapak dosen ini tidaklah demikian, beliau begitu kompeten dalam bidangnya bahkan beliau diangkat menjadi seorang Asisten Profesor saat dibangku kuliah dulu.

          Hal ini menunjukan bahwasannya bapak ini sangatlah profesional, hingga dipercaya menjadi seorang ASPROF. Kemudian kawan saya menyatakan bahwa beliau berubah menjadi seperti ini karena beliau mengalami sebuah tragedi, yang tragedi itu sangat traumatis bagi beliau hingga mengganggu psikisnya. Entah tragedi mengerikan apa yang terjadi, namun satu yang jelas, kejadian tersebut begitu mengerikan menurut beliau hingga beliau berubah menjadi seperti itu.

          Kemudian muncul sebuah pernyataan. "Kenapa UTM masih mempertahankan beliau, jika memang tidak di anggap kopeten lagi?" Ya... Itu karena dikhawatirkan, apabila beliau diberhentikam, kondisinya akan jauh lebih buruk dan sampai ke titik depresi tau hal yang lebih ekstrim lagi. Maka dari itu, pihak kampus lebih memilih mempeetahankan beliau walaupun besae juga taruhannya.

          Kemudian kamipun berangkat kekampus sambil memikirkan dosa kita yang langsung menjudge bapak dosen tersebut, tanpa melihat latar belakang dan faktor pemicu beliau menjadk seperti itu.

          Sesampainya dikampus, kami duduk daj bersiap menerima materi dari pak dosen Antropologi tersebut. Selang beberapa menit, beliau pun datang dan mulai mengajar dengan cara beliau yang unik. Meskipun penjelasannya kurang jelas, namun tatapan mata beliau terlihat jika beliau serius dan bersungguh-sungguh untuk menyampaikan materinya kepada kami.

          Mulai pagi ini, pandangan saya mengenai beliau berubah, dari yang awalnya menyepelekan menjadi hormat dan merasa miris juga, karena kepintaran beliau merupakan aset yang seharusnya dijaga, namun ternyata tidak.

          Beliau memang tidak mengajarkan materi Antropologi kepada kami secara langsung. Namun beliau mengajarkan kami bagaimana cara kami untuk bisa menghargai, dan menuntun kami agar kami mempelajari Antropologi lewat dirinya yang istimewa tersebut.

          Beliau juga mengajarkan kami mengenai menilai orang lain, kita tidak boleh menghakimi seseorang hanya berdasarkan dengan apa yang kita semata, terkadang kita juga harus melihat seseorang dari apa yang tidak nampak dalam dirinya.

         Terima kasih pak, sudah mengajarkan ilmu yang sangat berharga kepada kami semua yang terlalu congkak dengan kedangkalan ilmu yang kami miliki. Kami akan berusaha agar lebih bisa menghargai orang lain lagi dengan walau dengan kekurangan yang ia miliki.
Sungguh bapak, engkau adalah sebuah simbol Seorang Guru Sejati.

#We love you pak Dosen :')

          

Rabu, 04 September 2019

Kenapa?!

          Malam ini saya dan kawan satu angkatan di SM mengadakan Meet Up kembali di Warkop Shelter, namun sebelum itu kami mampir dulu ke Sekber untuk mengambil buku bacaan untuk kami baca dan dipresentasikan kembali minggu depan.

          Saya berangkat ke Sekber ditemani dengan Hilmy menaiki sepeda motor. Sesampainya disana, kami disambut dengan salaman dan sapaan hangat Mas Adam yang sedang bermain gitar, Mas Time yang sedang menggoreng cabai, dan Mbak Idah yang sedang mengupas bawang merah.

          Kemudian kami duduk di kursi, dan berbincang bincang sedikit. Kemudian mbak Idah memberikan buku bacaan tersebut dan saya kebagian buku Lelaki Harimau, saya belum tau pasti buku ini menceritakan apa, namun sepertinya buku ini menarik untuk dibaca. Saya pun akhirnya mulai membaca, namun saya agak sulit untuk memahami bahasa yang dipakai karena lumayan banyak juga menggunakan gaya bahasa yang agak tinggi.

          Setelah semua sudah kumpul di sekret dan kamipun sudah makan bersama dengan mbak dan mas nya, kamipun segera berangkat ke Shelter agar tidak terlalu larut pulangnya karena memang kami terkendala oleh kawan-kawan yang ada di asrama, mereka tidak boleh keluar melebihi jam 22.00.

          Sesampainya disana, kami segera memesan dan mulai membuat blogrol. Sebenarnya tujuan kami meet up bukan hanya membuat blogrol saja. Namun juga ingin mendiskusikan dan menanyakan mengapa Roro ingin keluar, namun Roro masih belum bisa dihubungi pada saat itu. Kemudian setelah beberapa saat, Roro membalas pesan kami dan dia menjelaskan bahwa dirinya baru saja sampai di kos. Entah dari mana dia, namun itulah yang dikatakan oleh dia.

          Kemudian salah satu dari kami pun menjemput Roro dan Eka yang baru saja keluar dari Asrama, setelah menunggu beberapa saat akhirnya Roro pun kami sambut dengan sambutan khas kami. Kemudian kami mulai menanyakan beberapa hal kepada roro, mengenai alasan dia keluar SM, dan kami berusaha semaksimal mungkin agar dia tidak keluar, dan kami pun akhirnya mengantungkan harapan kami kepada Taki, karena Roro hanya mau cerita kepada Taki saja.

          Karena saya harus membantu kawan - kawan yang belum membuat blogrol, saya pun tidak menyimak percakapan mereka, karena si Roro juga tidak mau percakapannya terdengar oleh orang lain. Mereka berbincang 4 mata, entah apa saja yang mereka bincangkan saya tidak tau, karena saya terlalu sibuk membantu teman-teman. Namun 1 yang saya tangkap dari Roro, dia sepertinya hanya menginginkan perhatian lebih dari kita semua selaku kawan seperjuangannya, karena mungkin Roro menganggap kita terlalu acuh, padahal tidaklah demikian.

          Roro merasa kita sebagai kawannya kuranglah perhatian padanya, namun apa mau dikata, itu adalah prasangka dia yang menjadi hak asasi bagi dirinya untuk menilai kita semua selaku kawan seperjuangannya. Entah itu benar atau tidak, jika analisa saya benar, maka kami selaku kawan-kawan anda akan berusaha memantaskan diri agar kita tidak terpecah belah, namun apabila analisa saya salah. Cukuplah kamu tau apa yang ada dipikiran saya, dan saya meminta maaf atas kesalahan saya.

          Setelah itu, semua yang tinggal di asrama pulang dan kemudian disusul oleh kita semua, karena tugas kita telah usai dan selesai. Saya hanya berharap tidak ada perpecahan ditengah kekeluargaan kita. Jika memang kamu (Roro) memutuskan untuk mundur, maka jangan lupakan kami sebagai saudara, jika itu terlalu berat. Maka anggap saja kita sebagai kawan, bukannya lawan

:)

Malam

          Malam ini saya dan kawan-kawan seperjuangan saya di SM ada kegiatan Meet Up untuk mempresentasikan hasil dari pemahaman kita selama 1 minggu dari membaca buku. Saya deg-deg an pada awalnya, namun setelah bebarap menit saya mulai bisa beradaptasi dengan keadaan.

          Kemudian presentasi pun dimulai dan yang mengawali presentasi adalah Cahya atau biasa dipanggil cimeng. Cimeng menceritakan dengan cukup detail bagaimana cerita tersebut dikisahkan, hingga sepertinya kami tidak perlu membaca lagi buku yang dibaca oleh cimeng. Namun, mbak Idah akhirnya menghentikan presentasi cimeng yang terlalu gamblang, jadi pada bagian akhirnya kita tidak tau seperti apa cerita tersebut.

          Diskusipun dimulai dan Kita mulai menanyakan mulai dari hal yang sepele atau bersifat teknis, hingga ke yang bersifat pokok atau makna tersirat & pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dalam novel tersebut. Yang menjadi fokus saya malah ke latar belakang tokoh utama yang ada dinovel tersebut yang dikisahkan sebagai seseorang yang apatis dan sedikit peduli terhadap sesama dan lingkungan sekitar, bahkan saat ibunya meninggal pun dia tidak menangis dalam kisahnya tersebut. Dan dia juga menembak seorang warga Arab karena warga Arab tersebut mengacungkan sebilah pisau kepadanya, Maka dari situlah yang saya ingin tanyakan kepada cimeng.

          Namun cimeng sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalunya, sehingga dia menjadi kepribadian yang seperti itu, karena di novelnya sendiri tidak diceritakan secara rinci bagaimana masa lalu si tokoh utama ini. Akhirnya kami semuapun mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalunya tokoh utama ini.

          Setelah sudah cukup lama beradu argumen mengenai hal ini kemudian giliran mas Time memberikan pertanyaan, beliau menanyakan apa maksud penulis menggambarkan sosok si tokoh utama ini menjadi seorang yang apatis dan dinilai tidak berprikemanusiaan karena tidak menangis saat ibunya meninggal dan malah pergi berkencan dan nonton film komedi, satu hari setelah ibunya telah tiada.

          Karena tidak ada yang tau, akhirnya mas Time pun memberikan sebuah pernyataan yang sama sekali tidak terlintas dipikiran kita. Maksud dari sang penulis ini menggambarkan sosok marsold menjadi seseorang yang acuh terlebih saat ibunya meninggal adalah, karena sang penulis ingin menunjukan bahwa kita seharusnya tidak melakukan hal yang sia-sia. Seperti marsold yang tidak menangisi ibunya ketika ibunya wafat, karena meskipun dia menangis hingga air matanya mengering dan berganti tangis darah, itu tidak akan bisa merubah realita, Dan ibunya juga akan tetap wafat, tidak mungkin karena tangisannya itu ibunya dapat hidup kembali. Kira-kira seperti itulah makna tersirat yang coba untuk disampaikan oleh sang penulis lewat novel tersebut.

          Sebenarnya masih banyak hal absurd dan makna-makna yang terkadung dalam novel tersebut, namun saat itu sudah larut malam, dan akhirnya saya & adji mendapat giliran presentasi hasil baca kita 1 minggu ini. Setelah selesai presentasi dan sesi tanya jawab juga diskusi, akhirnya pertemuan ini berakhir pada pukul 00.56 dan saya pun akhirnya pulang ke kos.

Selasa, 03 September 2019

Drastis!

          Pagi ini diawali dengan materi dengan mas Citra, beliau adalah salah satu dari 4 pendiri SM, beliau memaparkan materi yang bisa dibilang cukup unik dan antimainstream. Karena beliau menyampaikan materi Filsafat Ilmu, namun dari sudut pandang yang berbeda. Jika Filsafat selalu identik dengan hal Materialis (wujud nyata/kasat mata), beliau memaparkan hal yang sebaliknya. Beliau mencoba menjelaskan keberadaan kekuatan diluar indra dan nalar manusia. Ya... Keberadaan hal Imaterialis (tidak kasat mata).

          Keberadaan hal Imaterial sebenarnya bukanlah hal yang baru ditelinga kita, bahkan di kitab suci kita Al-Qur'an itu juga kita di wajibkan untuk beriman (percaya) kepada hal yang bersifat Imaterial (ghaib). Karena tuhan kita (Allah SWT) juga bersifat ghaib.

          Kemudian, mas Citra mencoba memberikan pemahaman kepada kami, beliau mengatakan, mampukan kita melihat wajah tuhan di setiap apa yang kita lihat, Karena sesungguhnya semua yang terjadi di atas muka bumi ini adalah kehendak tuhan. Meskipun kami belum bisa melakukan hal tersebut, namun mas Citra membuat kami semua membuka mata akan ada kuasa tuhan disetiap kejadian, bahkan di hal yang terkecil sekalipun.

          Beliau memaparkan jika kita tidak bisa melihat hal Imaterial tersebut bukan karena hal tersebut tidak ada. Namun karena kita masih memiliki Tabir Penghalang, yang menghalangi pandangan kita terhadap hal-hal tersebut, tabir itu bisa tercipta karena dosa - dosa juga keburukan - keburukan kita. Namun hikmah dari hal tersebut adalah, kita sebagai manusia bisa melakukan hal yang selayaknya manusia normal lakukan. Bayangkan saja jika TABIR tersebut dibuka, dan kita bisa melihat hal - hal nonmateri seperti isi hati, pikiran, tujuan, alasan sifat orang lain, dan kenyataan - kenyataan didunia ini, maka sudah dipastikan, kita tidak akan mampu untuk menyangga beban seberat itu. Dan mungkin dunia akan dipenuhi oleh orang - orang gila.

          Kemudian pagi berlanjut ke siang, dan sayapun pulang ke kos an bersama Aryo, karena sepeda motor Aryo masih belum ditemukan usai insiden kemarin, akhirya dia berjalan bersama saya.

          Sesampainya di kos, saya langsung tidur karena kelelahan, dan hari ini pun berubah drastis, dari yang semula menarik dan seru, menjadi hari yang OVER MEMBOSANKAN!

           Kemudian seperti yang saya bicarakan tadi, tak ada hal yang istimewa, bahkan sampai saya melakukan perjalanan hingga sampai di kampus. Pelajarannya pun sungguh membosankan dan tidak ada sensasi serunya sedikit pun. Bahkan dosennya pun seperti salah saat membawakan materinya, hal itu terbukti ketika saya bertanya kepada beliau, apakah materi yang beliau bawakan itu benar, dan saya bandingkan dengan pengetahuan yang saya di SMK dahulu, beliau malah menjawab "saya juga bingung sebenarnya mana yang benar". Woowww! Sungguh luar biasa bukan.

          Setelah saya merasa tidak puas dengan pelajaran beliau, saya pun tidak menanyakan hal apapun lagi agar beliau segera mengakhiri mata kuliah beliau dan agar kami bisa segera sholat ashar dan pulang.

          Setelah itu saya berencana untuk ngopi dengan kawan-kawan saya. Namun karena mood saya sudah rusak gara-gara matkul siang tadi akhirnya saya memutuskan untuk tidur dan bermimpi.

Negri Ngeri

          Malam ini saya berencana kumpul bersama kawan-kawan saya sambil mengerjakan tugas, mood saya sangat baik pada saat itu. Bahkan saya berangkat dengan rasa suka cita, dengan harapan selain bisa mengerjakan tugas, kami juga bisa membahas hal-hal yang menarik seperti Filsafat, Kebebasan Berpikir, dan hal yang menyangkut kehidupan lainnya.

          Malam pun semakin menunjukan kesunyiannya, dan kami masih terjebak dalam belenggu pena yang mengukir sebuah goresan dengan iming - iming masa depan cerah dengan sebuah ijazah. Setelah dirasa cukup kami mengerjakan tugas, kami beristirahat sejenak dengan sedikit memanikan ponsel kami sembari ditemani secangkir teh yang menambah syahdunya lingsir wengi.

          Perlahan bibirku pun menyentuh secangkir teh dan menenggaknya secara perlahan, harum teh yang khas memanjakan lubang hidung, hangatnya yang mengusir sepi, dan segarnya yang menolak dahaga membuat kami semakin syahdu dan larut dalam manisnya malam ini. Kemudian kenikmatan tersebut tiba - tiba sirna ketika saya melihat berita bahwa Bendera Bintang Kejora telah berkibar disalah satu kantor milik Negara, dan melihat hal tersebut saya seperti merasa terhina, karena bagaimana mungkin kita hanya diam saja melihat hal tersebut, saya ingin action untuk negara ini, namun apalah daya, saya belum punya kuasa apa - apa untuk merubah negara ini.

          Kemudian saya lanjutkan scrol di beranda fb saya dengan perasaan agak marah dan kecewa, lalu saya melihat berita bahwa ada disakah satu masjid yang mulai mengajak jamaah nya untuk mendirikan khilafah dan mereka semua dengan lantangnya meneriakkan khilafah - khilafah. Kemudian saya tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut dan memilih untuk melanjutkan scrol beranda fb saya.

          Kemudian saya melihat berita Bapak Presiden yang membahas mengenai pemindahan ibu kota. belum lagi berita tersebut yang memaparkan tentang kekurangan dan dampak yang akan ditimbulkan jika ibukota pindah. Maka semakin tersungkurlah harapan saya mengenai nasib negara ini, saya seperti disungkurkan oleh negara ini sendiri, dan terkapar oleh kenyataan - kenyataan ini.

          Saya berpikir, haruskah kita semua fokus kepada itu, padahal masih ada masalah yang lebih urgent lagi dibanding hal tersebut, dan hal ini tidak bisa di anggap sepele karena mengancam keutuhan NKRI, dan pastinya akan banyak oknum-oknum dari luar yang memanfaatkan momen ini untuk menghancurkan Indonesia, jika pemindahan ibukota akan berdampak buruk bagi keutuhan di Indonesia, mengapa harus dilakukan. Bukannya harusnya kita lebih fokus kepada masalah-masalah saudara kita di Papua dan juga Idiologi Khilafah ini, namun sekali lagi, apalah daya hamba.

          Diri ini hanya salah satu debu yang berserakan di atas muka bumi ini yang tidak lain dan tidak bukan keberadaannya sangat tidak di inginkan dan mengganggu peradaban saja.

:')

         

         

Sabtu, 31 Agustus 2019

Agent Of Change!

          Pagi ini saya, Hilmy, Adji, dan Mas Raju sedang sarapan bersama di sebelah barat sekber. Kami menikmati setiap suapan nasi yang masuk kedalam mulut sebagai tanda rasa syukur kami kepada sang ilahi rabbi.

          Sampai pada akhirnya, makanan kami telah habis, dan kamipun memulai obrolan santai kami. Obrolan kami dimulai dari ilmu apa yang kami dapat, dan kami disuruh untuk menyebutkan 3 hal yang kami dapat oleh mas Raju, akhirnya kamipun menyebutkan 3 hal tersebut dan beliau menyayangkan karena kita hanya mendapat pelajaran yang tersirat saja, dan terpaku kepada hal yang tinggi, seperti yang menyangkut idiologi, kenegaraan, lingkungan, dan hal yang lain.

          Tanpa disadari, banyak hal sepele yang pengaruhnya itu sangat besar, khususnya bagi masyarakat kita di Indonesia. Seperti kenapa orang Cina cenderung memakai pakaian santai seperti boxer dan kaos oblong saja ketika berbelanja di Mall, namun mereka membeli barang yang bisa dikatakan banyak. Dan kenapa malah orang Indonesia memakai baju rapi, bagus, dan keren, namun pada kenyataannya hanya foto-foto saja. Padahal sejatinya Mall itu untuk berbelanja, bukan sebagai tempat fashion show atau tempat untuk memamerkan apa yang kita miliki.

          Beliau juga menuturkan jika masyarakat kita sekarang ini telah bertransisi menjadi masyarakat Bungkus, karena banyak dari kita lebih mementingkan apa barang - barang BRANDID, yang terkadang kita ini tidak membutuhkan barang tersebut sebenarnya. Namun karena demi "GENGSI!" Apapun rela dibeli.

          Padahal, sejatinya pakaian adalah untuk menutup badan agar tidak telanjang, sepatu & sendal sebagai alas kaki, dan celana tetap pada hakikatnya yaitu sebagai penutup tubuh bagian bawah. Namun semua fungsi tersebut telah digantikan oleh fungsi yang lebih primer di masa kini, yaitu adalah fungsi PAMER, berapa banyak orang yang rela membeli barang brandid dengan harga selangit, demi memperoleh sebuah pengakuan. Dan lebih mirisnya lagi, mereka lebih suka membeli di Toko atau swalayan dan mall-mall besar yang sudah jelas milik pengusaha kaya walau harganya terpaut jauh dari harga di pasar tradisional, dan kita juga cenderung menawar harga baeang yang ada di pasar tradisional. Jadi kita lebih suka memperkaya pengusaha kaya, dan memiskinkan pedagang kecil.

          Dan mindset itulah yang harus kita rubah, agar kita tidak lagi gengsi untuk memakai pakaian yang biasa-biasa saja ketika di Mall, kita lebih prioritaskan Fungsi dari pada Gengsi, dan kita juga harus lebih memprioritaskan pedagang kecil agar kita bisa berpartisipasi dalam mensejahterakan rakyat kecil.

          Kemudian mas Raju memberi kami tugas untuk berbincang dengan orang yang belum kami kenal, beliau meminta kami untuk mencari informasi dari orang yang tidak kami kenal tersebut, dan menuliskan di blog ini.

          Akhirnya saya mulai pergi ke masjid dan menemui mas Ibnu, selaku pengurus masjid di kampus UTM, dengan modus mencari kunci kos saya. Kemudian saya bicara bahwa kunci saya sudah ketemu dan saya mulai bertanya tanya mengenai beliau, mulai dari asalnya darimana dan basa-basi lainnya. Kemudian kami mulai ngobrol mengenai hal yang agak personal dan pribadi, dan beliau memaparkan jika beliau ikut salah satu Ormek.

          Kemudian beliau bertanya kepada saya, apakah saya ikut Ormek atau tidak, dan saya bilang jika masih bingung, dan dengan nada berusaha mempengaruhi agar saya tertarik, entah itu hanya nethink saya ataukah memang fakta, namun saya berusaha tidak terlihat ilfil dan malah cenderung bersikap seperti tertarik agar bisa mendapat informasi yang banyak, namun beliau masih agak membatasi dan tidak terlalu terbuka, mungkin karena saya masih belum tentu untuk masuk ke Ormeknya beliau, jadi beliau masih belum bisa terbuka mengenai ormek beliau kepada saya.

          Setelah saya rasa cukup dan takutnya beliau malah curiga terhadap saya, dan akhirnya saya kembali ke kos untuk istirahat.