Malam ini saya berencana kumpul bersama kawan-kawan saya sambil mengerjakan tugas, mood saya sangat baik pada saat itu. Bahkan saya berangkat dengan rasa suka cita, dengan harapan selain bisa mengerjakan tugas, kami juga bisa membahas hal-hal yang menarik seperti Filsafat, Kebebasan Berpikir, dan hal yang menyangkut kehidupan lainnya.
Malam pun semakin menunjukan kesunyiannya, dan kami masih terjebak dalam belenggu pena yang mengukir sebuah goresan dengan iming - iming masa depan cerah dengan sebuah ijazah. Setelah dirasa cukup kami mengerjakan tugas, kami beristirahat sejenak dengan sedikit memanikan ponsel kami sembari ditemani secangkir teh yang menambah syahdunya lingsir wengi.
Perlahan bibirku pun menyentuh secangkir teh dan menenggaknya secara perlahan, harum teh yang khas memanjakan lubang hidung, hangatnya yang mengusir sepi, dan segarnya yang menolak dahaga membuat kami semakin syahdu dan larut dalam manisnya malam ini. Kemudian kenikmatan tersebut tiba - tiba sirna ketika saya melihat berita bahwa Bendera Bintang Kejora telah berkibar disalah satu kantor milik Negara, dan melihat hal tersebut saya seperti merasa terhina, karena bagaimana mungkin kita hanya diam saja melihat hal tersebut, saya ingin action untuk negara ini, namun apalah daya, saya belum punya kuasa apa - apa untuk merubah negara ini.
Kemudian saya lanjutkan scrol di beranda fb saya dengan perasaan agak marah dan kecewa, lalu saya melihat berita bahwa ada disakah satu masjid yang mulai mengajak jamaah nya untuk mendirikan khilafah dan mereka semua dengan lantangnya meneriakkan khilafah - khilafah. Kemudian saya tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut dan memilih untuk melanjutkan scrol beranda fb saya.
Kemudian saya melihat berita Bapak Presiden yang membahas mengenai pemindahan ibu kota. belum lagi berita tersebut yang memaparkan tentang kekurangan dan dampak yang akan ditimbulkan jika ibukota pindah. Maka semakin tersungkurlah harapan saya mengenai nasib negara ini, saya seperti disungkurkan oleh negara ini sendiri, dan terkapar oleh kenyataan - kenyataan ini.
Saya berpikir, haruskah kita semua fokus kepada itu, padahal masih ada masalah yang lebih urgent lagi dibanding hal tersebut, dan hal ini tidak bisa di anggap sepele karena mengancam keutuhan NKRI, dan pastinya akan banyak oknum-oknum dari luar yang memanfaatkan momen ini untuk menghancurkan Indonesia, jika pemindahan ibukota akan berdampak buruk bagi keutuhan di Indonesia, mengapa harus dilakukan. Bukannya harusnya kita lebih fokus kepada masalah-masalah saudara kita di Papua dan juga Idiologi Khilafah ini, namun sekali lagi, apalah daya hamba.
Diri ini hanya salah satu debu yang berserakan di atas muka bumi ini yang tidak lain dan tidak bukan keberadaannya sangat tidak di inginkan dan mengganggu peradaban saja.
:')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar