Rabu, 11 September 2019

Masa Lahloe

          Malam ini, sepulangnya dari sidoarjo saya langsung ke warkop kandang kopi didepan kampus. Karena memang teman-teman ingin membahas perihal Roro yang dikeluarkan daei grub oleh mas Raju, selain itu juga bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan.

          Lelah? Tidak! Karena saya senang bisa bertemu kembali dengan kawan-kawan saya setelah 3 hari melakukan perjalanan dalam rangka "Ngubek Kuto", ya....itu adalah istilah yang saya buat untuk menamai perjalanan saya ini.

           Nama itu memiliki arti "Mengobok Kota", maknanya...saya berusaha mengobok kota itu hingga saya menemukan sesuatu yang bermanfaat yang bisa saya jadikan acuan untuk memperbaiki kota tercinta saya Jember.

           Kemudian sampailah saya di warkop tersebut dan bertemu dengan kawan-kawan lainnya. Kita sharing-sharing pada awalnya, namun pada akhirnya kami saling berpendapat dan mengemukakan bagaimana penilaian pertama saat kita bertemu.

           Kebanyakan mereka menilai saya sebagai sosok yang pendiam, pintar, dan cuek/sedikit bicara, juga suka mengemukakan pendapat. Namun semakin hari setelah mereka mengenal saya, semua argumen itu luntur karena rupanya saya tidaklah seorang yang pendiam, karena saya adalah orang yang gokil dan justru humoris. Dan mereka kecewa telah menilai saya seperti itu 😂.

           Kemudian saya pun membuat klarifikasi, jika penilaian mereka tidaklah 100% salah, karena saya pernah pada posisi anak yang pendiam, juga pada posisi anak brandal dan brutal... ea...! 😂

            Sayapun mulai bercerita mengenai diri saya, dan kenapa saya menjadi seperti itu. Setelah mereka tau tentang masa lalu saya, kebanyakan dari mereka terkejut dan seolah tidak percaya, namun itulah adanya.

           Setelah saya selesai mengemukakan masa lalu saya, kemudian teman2 jadi ikut mengemukakan masa lalu mereka, dan saya juga agak terkejut, juga heran. Karena ternyata mereka memiliki latar belakang yang agak sedih juga sedih sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar