Novel ini menceritakan seorang anak bernama Hasan yang hidup ditengah keluarga agamis, kedua orang tua nya pun penganut ilmu tarekat yang sangat kuat, dan mereka juga sering melakukan amalan-amalan yang berat. Setelah Hasan menginjak diusia dewasa, ia mengemukakan keinginannya untuk mempelajari amalan yang kedua orang tuanya amalkan tersebut.
Karena tekat Hasan yang kuat inilah yang membuat Hasan tidak keberatan menjalani serangkaian amalan yang berat, bahkan Hasan pernah mengurung dirinya selama 3 hari, tidak makan, tidak minum, dan tidak bersosialisasi dengan orang lain, juga mandi selama 40 kali dalam sehari.
Karena seringnya Hasan mengamalkan amalan yang berat seperti itu, membuat Hasan merasa mampu dan berkeinginan untuk menyadarkan orang-orang yang tersesat dimuka bumi ini. Setelah itu bertemulah Hasan dengan kawan lamanya yang bernama Rusli, ia adalah seorang yang idealis dan selalu melihat segala sesuatu berdasarkan fakta/material (terlihat), dan bisa dikatakan bahwa dia adalah seorang atheis. Bahkan semasa kecilnya, dia sering mengganggu Hasan saat sholat di masjid, namun itu tidaklah menjadi penghalang antara mereka, akan tetapi membuat mereka tetap bersahabat hingga mereka dipertemukan kembali.
Mereka bertemu disebuah rumah sakit saat Hasan hendak menebus obat di loket, pada saat itu, Rusli yang ditemani seorang perempuan yang diakui sebagai adiknya pun bertemu, sontak saja Hasan begitu heran, karena ia mengetahui jika Rusli adalah anak tunggal. Kemudian Hasan mengira itu adalah istrinya, ketika Hasan penasaran dan mengorek informasi lebih dalam lagi mengenai perempuan yang bernama Kartini tersebut, dan ternyata perempuan tersebut adalah wanita yang ditolongnya karena kabur dari cengkraman seorang rentenir dari arab yang menikahi Kartini dan ibunya secara paksa.
Kemudian Hasanpun jatuh cinta dan memutuskan untuk menikahi kartini, namun cinta mereka terhalang oleh restu orang tua Hasan, karena Hasan sudah dijodohkan oleh adik angkatnya yang bernama Fatimah. Selain ity, kedua orang tua Hasan tidak merestui mereka karena perilaku Hasan yang kian brutal dan mendekati murtad karena sering bergaul dengan Rusli dan Kartini tersebut. Sontak hal itu membuat Hasan marah dan tetap memutuskan untuk menikahi Kartini.
Hasan pun menikahi Kartini, namun mereka tidaklah merasakan kebahagiaan, karena kehidupan kartini yang bebas, membuat Hasan sering terbakar api cemburu. Dan pada suatu malam, terlihat Kartini baru pulang dengan Anwar, yang menjadi teman akrabnya. Tentu saja itu membuat Hasan marah dan bermain fisik terhadap kartini.
Kartini pun melarikan diri dan bertemu Anwar, kemudian dia menceritakan semuanya dan Anwar mengajaknya untuk menginap di hotel. Kartini pun tak menaruh curiga kepada Anwar yang sudah menjadi sahabat karibnya itu. Namun, ketika Kartini menyadari bahwa Anwar mencoba untuk merenggut harga dirinya, ia pun melarikan diri dari hotel tersebut, dan di susul oleh Anwar.
Hasan pun merasa menyesal telah berbuat demikian terhadap kartini juga kedua orang tuanya, khususnya pada ayahnya. Mendengar ayahnya sakit keras dia memutuskan untuk menemui ayahnya. Ditengah perjalanan penyakit TBC nya kambuh, namun Hasan menguatkan diri untuk terus berjalan sambil terngiang-ngiang dikepalanya suara kutukan, cemoohan, dan amarah ayahnya yang mencela perbuatannya dan keputusannya untuk menjadi seorang yang murtad.
Karena Hasan sudah tidak kuat lagi, ia memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dan ia menemukan sebuah penginapan, yang penginapan tersebut adalah penginapan yang baru saja ditempati Kartini dan Anwar. Hasan melihat ke daftar tamu dan melihat ada nama Anwar dan Kartini. Sontak ia langsung berlari membelah kesunyian malam tanpa mempedulikan penyakit yang dideritanya. Sirine tanda bahaya pun berbunyi keras. Meraung-raung mengacaukan sunyinya malam, namun hal itu tidaklah dipedulikan oleh Hasan karena Hasan sudah gelap mata.
Kemudian terdengar suara tembakan Dooorr! Hasanpun terjatuh dan mengingat segala dosa-dosanya, kemudian didalam hati kecilnya, ia tidak ingin berakhir sebagai orang yang Kafir! Ia pun berteriak "Allah hu Akbar!" Sebelum akhirnya ia bergulung-gulung ke aspal, dan tidak bergerak lagi.
Selamat datang kakak - kakak senior, saya harap kakak menikmati catatan harian dan perjalanan saya. Spirit Mahasiswa!✒️📷🖋️
Selasa, 10 September 2019
Resensi novel Atheis
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar