Judul : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Isi : 535 hlm
ISBN : 979-97312-3-2
Novel ini menceritakan kehidupan pada tahun 1898 yang berlatar tempat dikota Surabaya, yang tentu saja itu adalah masa pendudukan Hindia Belanda. Namun bukan penindasan Tentara Belanda kepada Rakyat Indonesia yang digambarkan oleh penulis, melainkan lebih kepada keadaan kota Surabaya pada masa itu dan Romansa antara Minke dengan Anelis. Meskipun ada beberapa momen yang menceritakan tentang penindasan Rakyat Indonesia seperti saat Jean Marais bercerita sewaktu dia bergabung dengan Tentara Belanda dan terlibat pada Perang Aceh. Namun menurut saya tetap saja buku ini berfokus untuk menceritakan kondisi kota Surabaya pada massa itu.
Selain tokoh Minke, Bumi Manusia yang berlatar di Surabaya pada masa kedudukan Hindia Belanda 1898 ini juga menggambarkan seorang "nyai" bernama Nyai Ontosoroh, dan bisa kita lihat pandangan orang mengenai "nyai" pada massa itu adalah buruk, walaupun Nyai Ontosoroh ini sangatlah beda dengan Nyai² lainnya.
Sosok Minke sendiri disebut oleh penulis terinspirasi dari sosok Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar berbahasa Melayu pertama di Indonesia yang belakangan dikenal juga sebagai Bapak Pers Nasional seperti yang tertulis dilaman CNN INDONESIA saat menceritakan sinopsis novel ini.
Penulis novel ini juga sering memberikan gambaran² yang jika dibedah lebih dalam lagi kita bisa menemukan pesan yang ingin disampaikan penulis seperti penderitaan seorang Nyai Ontosoroh ketika "dijual" oleh ayahnya sendiri kepada Tuan Mallema yang bisa kita simpulkan bahwa kehidupan wanita pada masa itu bagaikan boneka yang tidak diberikan Hak Asasi apapun, bahkan digambarkan pada novel itu digambarkan jika Nyai Ontosoroh hanya bisa terdiam dan pasrah saat tuan Mallema menciuminya, meneluknya, dan melempar²kannya bagai Boneka Mainannya. Dan dari pengalaman beliau tersebut, kemudian beliau memiliki tekad untuk mendidik Anelis putrinya dengan keras agar tidak bergantung terus kepada pria dan membiarkan Anelis memilih pria pujaannya sendiri.
Kelebihan : Buku ini seolah membawa pembaca kedalam keadaan pada zaman itu, dan merasakan apa yang dirasakan tokoh, dengan demikian, pesan yang disampaikan bisa benar² masuk dengan mudah kepada pembaca.
Kekurangan : Buku ini banyak menggunakan istilah² yang sulit dipahami, mulai dari majas, bahasa yang tinggi, dan istilah² asing, jadi mungkin buku ini tidak cocok untuk anak² atau orang yang baru mulai membaca novel beraliran sastra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar