Saya membuka mata dan alangkah terkejutnya ketika saya mengetahui jika saya kesiangan,dan belum melaksanakan sholat subuh. Kemudian saya bergegas berbenah diri dan sholat subuh dengan cara meng-qodo' nya.
Tidur saya terlalu lelap karena mungkin kelelahan dan saya memang mulai tidur pukul 03.15 dini hari, mungkin itu yang menjadi faktor kesiangan saya. Pagi itu memang terasa berbeda, karena saya tidak lagi ada di pulau Madura, akan tetapi sudah ada di pulau Jawa, tepatnya di Kota Mojokerto.
Saya melakukan observasi disana dan merasa sangat heran dan kagum melihat kemajuan kota tersebut, pembangunan yang merata, masyarakat yang guyub rukun, kota yang kental akan budaya, dan tidak menolak moderenisasi juga. Jadi kemudian saya berpikir, alangkah indahnya jika kota saya Jember bisa seperti ini. Namun tentu saja itu sangatlah tidak relevan, jika saya membandingkan kota Jember dengan Mojokerto. Karena dari segi keluasan sendiri, Jember dan Mojokerto sangatlah terpaut jauh, jadi mungkin faktor itu yang membuat Jember pembangunannya kurang merata, tidak seperti kota Mojokerto.
Kemudian saya bertanya, mengapa kota ini sangat kental dengan budaya jawa timur, apalagi dari segi arsitektur. Bahkan alun-alun dan pemkotnya pun memiliki desain arsitektur ala kerajaan-kerajaan majapahit. Setelah saya bertanya kepada beberapa narasumber yang itu adalah penduduk asli sana, beliau menuturkan bahwa kota ini adalah peninggalan dari kerajaan Majapahit, tepatnya oleh panglima Majapahit, Patih Gajah Mada. Jadi tidaklah mengherankan jika kota ini sangat kental dengan budaya jawanya.
Kemudian saya jadi terpacu agar bisa menjadi orang yang berpengaruh di kota saya nantinya, agar bisa memperbaiki kota saya tercinta. Jember.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar