Jumat, 06 September 2019

Sang Guru

          Hari ini, sebelum saya berangkat kuliah saya sempat berbincang - bincang dengan kawan satu kamar saya, dia membicarakan mengenai pengalamannya sewaktu mengikuti acara Ngopi Asik semalam, dia berbicara mulai dari materi yang disampaikan, hingga momen-momen mengesankan dan lucu.

         Kemudian kawan saya menyinggung sedikit tentang bapak dosen yang saya anggap kurang kompeten, dan sempat saya tulis di blog beberapa hari lalu, kebetulan hari ini adalah giliran mata kuliah beliau, dan hanya mata kuliah beliau saja.

         Kawan saya bercerita banyak mengenai beliau, dan kawan saya ini mendapatkan info dari salah satu kating yang menjadi pengurus Ngopi Asik. Dia mengatakan bahwa dulu bapak dosen ini tidaklah demikian, beliau begitu kompeten dalam bidangnya bahkan beliau diangkat menjadi seorang Asisten Profesor saat dibangku kuliah dulu.

          Hal ini menunjukan bahwasannya bapak ini sangatlah profesional, hingga dipercaya menjadi seorang ASPROF. Kemudian kawan saya menyatakan bahwa beliau berubah menjadi seperti ini karena beliau mengalami sebuah tragedi, yang tragedi itu sangat traumatis bagi beliau hingga mengganggu psikisnya. Entah tragedi mengerikan apa yang terjadi, namun satu yang jelas, kejadian tersebut begitu mengerikan menurut beliau hingga beliau berubah menjadi seperti itu.

          Kemudian muncul sebuah pernyataan. "Kenapa UTM masih mempertahankan beliau, jika memang tidak di anggap kopeten lagi?" Ya... Itu karena dikhawatirkan, apabila beliau diberhentikam, kondisinya akan jauh lebih buruk dan sampai ke titik depresi tau hal yang lebih ekstrim lagi. Maka dari itu, pihak kampus lebih memilih mempeetahankan beliau walaupun besae juga taruhannya.

          Kemudian kamipun berangkat kekampus sambil memikirkan dosa kita yang langsung menjudge bapak dosen tersebut, tanpa melihat latar belakang dan faktor pemicu beliau menjadk seperti itu.

          Sesampainya dikampus, kami duduk daj bersiap menerima materi dari pak dosen Antropologi tersebut. Selang beberapa menit, beliau pun datang dan mulai mengajar dengan cara beliau yang unik. Meskipun penjelasannya kurang jelas, namun tatapan mata beliau terlihat jika beliau serius dan bersungguh-sungguh untuk menyampaikan materinya kepada kami.

          Mulai pagi ini, pandangan saya mengenai beliau berubah, dari yang awalnya menyepelekan menjadi hormat dan merasa miris juga, karena kepintaran beliau merupakan aset yang seharusnya dijaga, namun ternyata tidak.

          Beliau memang tidak mengajarkan materi Antropologi kepada kami secara langsung. Namun beliau mengajarkan kami bagaimana cara kami untuk bisa menghargai, dan menuntun kami agar kami mempelajari Antropologi lewat dirinya yang istimewa tersebut.

          Beliau juga mengajarkan kami mengenai menilai orang lain, kita tidak boleh menghakimi seseorang hanya berdasarkan dengan apa yang kita semata, terkadang kita juga harus melihat seseorang dari apa yang tidak nampak dalam dirinya.

         Terima kasih pak, sudah mengajarkan ilmu yang sangat berharga kepada kami semua yang terlalu congkak dengan kedangkalan ilmu yang kami miliki. Kami akan berusaha agar lebih bisa menghargai orang lain lagi dengan walau dengan kekurangan yang ia miliki.
Sungguh bapak, engkau adalah sebuah simbol Seorang Guru Sejati.

#We love you pak Dosen :')

          

2 komentar: