Kamis, 12 September 2019

Sebatas Hamba part.2

          Pagi ini terasa begitu monoton, bahkan sholatpun menjadi semakin terasa hambar dan tak ada sensasi sedikitpun, sangat berbeda jauh dengan dulu.

          Entah apakah kini Allah benar-benar marah dan benci kepadaku atau Allah masih sayang kepadaku dan sedang memberikan teguran atas kesalahan-kesalahanku.

          Saya ingin menangis, menangis dan berteriak sekencang-kencangnya, namun hati terlalu keras untuk bisa berteriak dengan linangan air mata. Aku benci diriku yang sekarang, diriku yang terasa terus dan semakin jauh kepada tuhan. Bahkan saat sholatku telatpun aku tak merasakan kekhawatiran.

          Waktu pun berjalan begitu lambat, dalam perasaanku. Dan aku merasa setiap langkah dan hembusan nafasku adalah dosa dan laknat dari Allah, tuhan saya. Saya merasa pernah menyesal mempertanyakan dan mencoba mencari kebenaran tentang tuhan, bukan malah mengeratkan, namun saya merasa semakin jauh dan nyaris terpisah kedekatan saya kepada tuhan saya.

          Kemudian, saya mencoba fokus pada agama saya dulu, dan mengesampingkan pemikiran-pemikiran radikal dan rasionalitas yang berlebih yang saya miliki ini. Namun semua seperti sia-sia. Pemikiran radikal saya tetap ada dan saya merasa tetap jauh kepada tuhan.

         Kemudian saya mencoba melupakan masalah saya, dan kebetulan waktu itu kawan-kawan saya mengajak saya untuk berkumpul, dan malam ini seperti tuhan kembali dekat dengan saya, saya merasa seperti saat saya berada dirumah, saat dimana saya dekat dengan Allah SWT. Meskipun saya belum merasakan kenikmatan saat sholat, namun saya merasa bahwa saya sudah mulai dekat dan hubungan saya mulai baik dengan tuhan saya.

          Buktinya, saya butuh pengalihan dari masalah saya ini, teman2 saya mengajak saya untuk kumpul, dan ketika saya lapar dan uang nipis, tiba2 juga kawan saya menghubungi saya jika saya disuruh makan disana karena mereka masak nasi dan lauk terlalu banyak. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi selain ucapan "Alhamdulillah hirabbil 'alamin" saya merasa sangat bersyukur, bukan karena saya mendapat rezeki itu. Namun karena saya bisa dekat lagi dengan tuhan saya.

          Kemudian saya mencoba untuk sholat isya', ya...meskipun masih terasa hambar, namun masih sedikit ada sensasi rasa tenang, nyaman, damai, dan tentram saat dan setelah sholat. Saya pun merasa bersyukur sekali karena bisa dekat kembali kepada sang maha kuasa Allah SWT.

          Lalu bagaimana dengan proses pencarian tuhan dan pikiran2 radikal saya? Entahlah.... Biarkanlah waktu yang berbicara, dan tuhan yang merestuinya 😔😊

Rabu, 11 September 2019

Sebatas Hamba

          Astaghfirullah Halladzim.....Astaghfirullah Halladzim....Astaghfirullah Halladzim.... Berulang kali kata itu terucap dalam hati dan bibir saya, namun tetap tidaklah bergetar hati ini, seolah hanya merasakan hambar dan bahkan saat saya melaksanakan sholatpun saya tidak merasakan kenikmatan. Berbeda saat saya melaksanakan sholat dirumah dulu.

          Saya merasa seperti semakin jauh dan jauh kepada tuhan saya... Allah SWT. Semua itu berawal dari rasa penasaran saya yang ingin mengetahui keberadaan tuhan dan mencoba menerapkan konsep kebebasan berpikir saya. Namun seperti yang pernah dituturkan oleh mas Time/mas Birar bahwa "semakin kamu mencoba mengetahui keberadaan tuhan, semakin jauh pula kamu dengan tuhan. Namun semakin jauh kamu, semakin banyak yang kamu dapat, dan tidak ada jaminan kamu bisa kembali ketitik awal syariat"

            Dan kini, mulai ada penyesalan dalam diri saya ketika saya mencoba menerapkan konsep-konsep tersebut, memang ini sangatlah bermanfaat dalam segi Habluminanas atau berhubungan antar manusia, namun ini sangatlah menganggu Hablinallah saya.

           Kemudian saya mencoba mengungkapkan keluh kesah saya kepada mas Time, dan mas Time memberikan perumpamaan kepada saya. "Jika hubungan Tuhan kepada hambanya diibaratkan sebuah hubungan romantisme pacaran, maka kamu dulu saat ada dirumah ibarat baru awal pacaran, dan sekarang sedang ada konflik. Namun percayalah jika nantinya setelah ada pertengkaran/konflik ini, maka hubunganmu akan semakin erat lagi"

            Dan sayapun meng-amini pernyataan beliau, karena memang tidak ada hubungan tanpa masalah. Namun beliau juga menuturkan "ya...meskipun sekarang hubungan kamu sedang ada masalah, ya bukan berarti kamu jadi lepas tanggung jawab begitu aja. Kamu juga harus mencoba memperbaiki hubunganmu dengan merayu Tuhammu!."

         Beliau juga bercerita mengenai perjalanannya mencari tuhan. Beliau pernah mengalami masalah seperti ini. "Jika dibilang putus. Saya sudah putus 2X, bahkan pernah saya mendengar kalimat Allah namun hati saya biasa saja dan saya tidak bereaksi apa-apa". Hal itu membuat saya semakin takut, saya takut jika jalan yang saya tempuh adalah salah. Dan saya takut hingga akhir hayat saya, saya berada dijalan yang salah. 😔😢

Masa Lahloe

          Malam ini, sepulangnya dari sidoarjo saya langsung ke warkop kandang kopi didepan kampus. Karena memang teman-teman ingin membahas perihal Roro yang dikeluarkan daei grub oleh mas Raju, selain itu juga bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan.

          Lelah? Tidak! Karena saya senang bisa bertemu kembali dengan kawan-kawan saya setelah 3 hari melakukan perjalanan dalam rangka "Ngubek Kuto", ya....itu adalah istilah yang saya buat untuk menamai perjalanan saya ini.

           Nama itu memiliki arti "Mengobok Kota", maknanya...saya berusaha mengobok kota itu hingga saya menemukan sesuatu yang bermanfaat yang bisa saya jadikan acuan untuk memperbaiki kota tercinta saya Jember.

           Kemudian sampailah saya di warkop tersebut dan bertemu dengan kawan-kawan lainnya. Kita sharing-sharing pada awalnya, namun pada akhirnya kami saling berpendapat dan mengemukakan bagaimana penilaian pertama saat kita bertemu.

           Kebanyakan mereka menilai saya sebagai sosok yang pendiam, pintar, dan cuek/sedikit bicara, juga suka mengemukakan pendapat. Namun semakin hari setelah mereka mengenal saya, semua argumen itu luntur karena rupanya saya tidaklah seorang yang pendiam, karena saya adalah orang yang gokil dan justru humoris. Dan mereka kecewa telah menilai saya seperti itu 😂.

           Kemudian saya pun membuat klarifikasi, jika penilaian mereka tidaklah 100% salah, karena saya pernah pada posisi anak yang pendiam, juga pada posisi anak brandal dan brutal... ea...! 😂

            Sayapun mulai bercerita mengenai diri saya, dan kenapa saya menjadi seperti itu. Setelah mereka tau tentang masa lalu saya, kebanyakan dari mereka terkejut dan seolah tidak percaya, namun itulah adanya.

           Setelah saya selesai mengemukakan masa lalu saya, kemudian teman2 jadi ikut mengemukakan masa lalu mereka, dan saya juga agak terkejut, juga heran. Karena ternyata mereka memiliki latar belakang yang agak sedih juga sedih sekali.

Ngubek Kutho bg.2

          Dari mojokerto saya pindah ke kota Sidoarjo, tepatnya didesa Prambon. sama seperti di kota sebelumnya, saya kesana dalam rangka refreshing dan sedikit melakukan observasi juga.

          Kebetulan disana saya langsung disambut dengan lomba 17 Agustusan yang agak terlambat. Meskipun agak terlambat, namun itu tidaklah mempengaruhi semangat dan antusias warga untuk memeriahkan acara tersebut. Kemudian saya mendokumentasikan kegiatan tersebut dengan tujuan saya edit dan saya upload di medsos nantinya.

          Setelah itu saya dan kawan saya meninggalkan lokasi tersebut karena sudah masuk waktu dzuhur dan makan siang. Setelah itu saya melihat - lihat kota sidoarjo tersebut, tepatnya di desa Prambon. Ternyata di daerah yang sangat dekat dengan ibukota Jawa Timur memiliki kesamaan terhadap kota saya Jember, yang bisa dibilang, Salah Satu Pucuknya Pulau Jawa Timur. Yaitu mengenai pembangunan yang kurang merata antara pusat kota dengan desa.

          Seperti terjadi kesenjangan dalam segi pembangunan, entah apa penyebabnya. Namun saya menyimpulkan bahwa, semakin kota tersebut maju dalam kategori ke-industriannya. Maka, akan besar pula tingkat kesenjangan dalam segi pembangunan antara pusat kota dengan desa disekelilingnya. Namun itu hanyalah argumen saya, dan saya juga masih mencari tau apa penyebab utamanya.

Ngubek Kutho

          Saya membuka mata dan alangkah terkejutnya ketika saya mengetahui jika saya kesiangan,dan belum melaksanakan sholat subuh. Kemudian saya bergegas berbenah diri dan sholat subuh dengan cara meng-qodo' nya.

          Tidur saya terlalu lelap karena mungkin kelelahan dan saya memang mulai tidur pukul 03.15 dini hari, mungkin itu yang menjadi faktor kesiangan saya. Pagi itu memang terasa berbeda, karena saya tidak lagi ada di pulau Madura, akan tetapi sudah ada di pulau Jawa, tepatnya di Kota Mojokerto.

          Saya melakukan observasi disana dan merasa sangat heran dan kagum melihat kemajuan kota tersebut, pembangunan yang merata, masyarakat yang guyub rukun, kota yang kental akan budaya, dan tidak menolak moderenisasi juga. Jadi kemudian saya berpikir, alangkah indahnya jika kota saya Jember bisa seperti ini. Namun tentu saja itu sangatlah tidak relevan, jika saya membandingkan kota Jember dengan Mojokerto. Karena dari segi keluasan sendiri, Jember dan Mojokerto sangatlah terpaut jauh, jadi mungkin faktor itu yang membuat Jember pembangunannya kurang merata, tidak seperti kota Mojokerto.

         Kemudian saya bertanya, mengapa kota ini sangat kental dengan budaya jawa timur, apalagi dari segi arsitektur. Bahkan alun-alun dan pemkotnya pun memiliki desain arsitektur ala kerajaan-kerajaan majapahit. Setelah saya bertanya kepada beberapa narasumber yang itu adalah penduduk asli sana, beliau menuturkan bahwa kota ini adalah peninggalan dari kerajaan Majapahit, tepatnya oleh panglima Majapahit, Patih Gajah Mada. Jadi tidaklah mengherankan jika kota ini sangat kental dengan budaya jawanya.

          Kemudian saya jadi terpacu agar bisa menjadi orang yang berpengaruh di kota saya nantinya, agar bisa memperbaiki kota saya tercinta. Jember.

Selasa, 10 September 2019

Pemikiran Sederhana

          *Ngeng...! Saya dan Hilmy pergi dari pulau Madura menuju ke Sidoarjo. Kami bernagkat pada malam hari, banyak kendaraan lalu lalang dan muda - mudi yang sedang menikmati malam.

           Saya melihat sekitar, dengan tujuan mencari bahan untuk saya tulis di blog ini sebagai penugasan dan ilmu baru juga tentunya. Namun sepertinya tidak ada yang menarik. Entah otak saya yang sedang buntu atau memang kenyataannya begitu.

           Kemudian saya menatap ke lampu merah, dan sesekali melihat langit malam yang begitu indahnya dengan dihiasi cahaya bintang dan rembulan. Kemudian terbesit dipikiran saya. "Kenapa Allah tidak menciptakan Pagi/Siang saja? Mengapa harus ada malam?"

          Setelah itu saya mulai memikirkan hal tersebut, mungkin itu hal yang sepele. Mungkin hal yang sifatnya sepele itu akan menjadi luar biasa ketika kita menemukan jawabannya. Kemudian mulailah terjadi konflik didalam pemikiran saya. "Kenapa sih harus ada malam?!" Pertanyaan itu terua yang selalu terngiang-ngiang dikepala saya, dan saya menjadi tidak tenang, bahkan menyesal sudah berpikir demikian. 😂

           Namun saya mencoba berpikir lebih keras lagi, dan sedikit mengutuk pikiran saya sendiri, mengapa hanya sampai segini pemikiran saya. Pertanyaan itu masih menghantui pikiran saya. Mengikuti setiap kegiatan, dan seolah - olah mengejek pikiran saya, karena saya masih belum bisa memecahkannya.

          Akhirnya saya mencoba memikirkan hal yang paling sederhana untuk memecahkan pertanyaan saya. Saya membayangkan, bagaimana jadinya jika didunia ini hanya ada pagi dan siang saja.

          Kemudian saya pun tertawa sendiri, karena saya membayangkan pasti tidak akan ada istilah sekolah terlambat karena memang tidak ada pembeda mana waktu siang mana waktu malam. Dan kemudian saya agak ngeri juga membayangkan jika tidak ada malam. Pasti dunia akan kacau karena alokasi waktu yang tidak jelas. Kita bisa begadang dan tanpa tau jika itu sudah esok hari, kemudian saya tertawa lagi. 😂 Bayangkan saja, misalkan kita sedang ada di kedai, buat push rank... Gak nyadar keasyikan nge-ML, eh gak taunya udah 3 hari main game, gak sekolah dan gak istirahat. Dan lebih parahnya mungkin banyak yang mati karena kurang istirahat 😂

          

Pembentukan Karakter?

          Malam ini saya mengikuti malam Inagurasi Universitas Trunojoyo Madura, semua tampak indah pada awalnya, dan mungkin hanya ada cacat sedikit, yang itu disebabkan oleh pesertanya sendiri.

          Kemudian saya mulai untuk bergabung dengan kawan satu kelompok ospek universitas kemarin, kita bernostalgia dan bersuka ria bersama, tak terasa sudah cukup lama kami berbincang hingga pada akhirnya seksi acara mengumumkan kepada peserta bahwa acara akan segera dimulai.

          Kemudian masuk lah kami dengan mengisi absen terlebih dahulu dan kami juga dicek oleh petugas, takutnya membawa barang-barang yang dilarang, yang sebelumnya diberitahukan kepada peserta, seperti Miras, Sajam,Makanan & minuman, dan alat berbahaya lainnya.

          Kamipun masuk dan lampu mulai dimatikan karena memang acaranya akan segera dimulai. Setelah itu kami melihat banyak sekali perform yang terbaik dari para penampil, seperti Nanggala, Dancer, dan B-Sing. Namun meskipun acaranya seru dan semua bisa menikmatinya. Namun apalah daya, rasa kantuk mulai datang dan saya tidak bisa berbuat banyak untuk melawan kecuali menuruti kebutuhan kantuk saya ini 😂.

          Semua berjalan sesuai dengan mestinya, namun saat saya mendengar suara sirine yang tidak asing lagi ditelinga saya, tentu saja saya langsung terjaga dari tidur saya tersebut. Ternyata benar dugaan saya, itu adalah sirine KPK dan mereka masuk bukan untuk membentak - bentak lagi, namun untuk meminta maaf dan wejangan kepada kami dengan sedikit guyonan. Mereka juga berjoged dan seru2 an bersama kami.

          Tidak ada yang aneh pada malam itu, semua tampak sempurna dan nyaris tanpa cela, namun mindset saya berubah ketika kita bernyanyi dan berjoged bersama, semua terlihat para putra dan putri bercampur jadi satu, berjoged ria saling berdempet dan bersenggolan. Mungkin untuk sebagian orang itu biasa saja. Namun untuk saya itu sungguh tidak bisa di anggap biasa saja! Karena sudah 2 minggu kita mengikuti ospek dan sudah digembor2 kan mengenai pendidikan dan pembentukan karakter, namun semua itu hancur seketika hanya dengan 1 malam saja. Indah sekali.... 😊

          Semua menjadi semakin anarkis! Ketika lagu debu jalanan dikumandangkan, semua anak laki-laki mulai membentuk lingkaran dan melakukan Moshing, dan seperti yang kita tau, Moshing tidak bisa di anggap sebagai tarian yang ramah. Karena itu bukan hanya sekedar tarian biasa, melainkan melibatkan kontak fisik pula.

           Sayapun jenuh, dan memutuskan untuk meninggalkan kerumunan ini dan berharap menemukan kebaikan dan kedamaian di belakang. Dan saya mulai menuju kepintu keluar dan harapan saya tentang bisa menemukan kedamaian dan kebaikan ternyata salah. Justru saya menemukan kejanggalan lain, dimana BEM membuka stand jualan minuman, dan saya cuma bisa tersenyum, dan memikirkan apa sebenarnya maksud mereka melarang kami membawa makanan & minuman kepada kami, dan mereka malah membuka Stand di dalam gedung.

"Sungguh malam yang sangat indah"

Resensi novel Atheis

          Novel ini menceritakan seorang anak bernama Hasan yang hidup ditengah keluarga agamis, kedua orang tua nya pun penganut ilmu tarekat yang sangat kuat, dan mereka juga sering melakukan amalan-amalan yang berat. Setelah Hasan menginjak diusia dewasa, ia mengemukakan keinginannya untuk mempelajari amalan yang kedua orang tuanya amalkan tersebut.
          Karena tekat Hasan yang kuat inilah yang membuat Hasan tidak keberatan menjalani serangkaian amalan yang berat, bahkan Hasan pernah mengurung dirinya selama 3 hari, tidak makan, tidak minum, dan tidak bersosialisasi dengan orang lain, juga mandi selama 40 kali dalam sehari.
          Karena seringnya Hasan mengamalkan amalan yang berat seperti itu, membuat Hasan merasa mampu dan berkeinginan untuk menyadarkan orang-orang yang tersesat dimuka bumi ini. Setelah itu bertemulah Hasan dengan kawan lamanya yang bernama Rusli, ia adalah seorang yang idealis dan selalu melihat segala sesuatu berdasarkan fakta/material (terlihat), dan bisa dikatakan bahwa dia adalah seorang atheis. Bahkan semasa kecilnya, dia sering mengganggu Hasan saat sholat di masjid, namun itu tidaklah menjadi penghalang antara mereka, akan tetapi membuat mereka tetap bersahabat hingga mereka dipertemukan kembali.
          Mereka bertemu disebuah rumah sakit saat Hasan hendak menebus obat di loket, pada saat itu, Rusli yang ditemani seorang perempuan yang diakui sebagai adiknya pun bertemu, sontak saja Hasan begitu heran, karena ia mengetahui jika Rusli adalah anak tunggal. Kemudian Hasan mengira itu adalah istrinya, ketika Hasan penasaran dan mengorek informasi lebih dalam lagi mengenai perempuan yang bernama Kartini tersebut, dan ternyata perempuan tersebut adalah wanita yang ditolongnya karena kabur dari cengkraman seorang rentenir dari arab yang menikahi Kartini dan ibunya secara paksa.
          Kemudian Hasanpun jatuh cinta dan memutuskan untuk menikahi kartini, namun cinta mereka terhalang oleh restu orang tua Hasan, karena Hasan sudah dijodohkan oleh adik angkatnya yang bernama Fatimah. Selain ity, kedua orang tua Hasan tidak merestui mereka karena perilaku Hasan yang kian brutal dan mendekati murtad karena sering bergaul dengan Rusli dan Kartini tersebut. Sontak hal itu membuat Hasan marah dan tetap memutuskan untuk menikahi Kartini.
          Hasan pun menikahi Kartini, namun mereka tidaklah merasakan kebahagiaan, karena kehidupan kartini yang bebas, membuat Hasan sering terbakar api cemburu. Dan pada suatu malam, terlihat Kartini baru pulang dengan Anwar, yang menjadi teman akrabnya. Tentu saja itu membuat Hasan marah dan bermain fisik terhadap kartini.
          Kartini pun melarikan diri dan bertemu Anwar, kemudian dia menceritakan semuanya dan Anwar mengajaknya untuk menginap di hotel. Kartini pun tak menaruh curiga kepada Anwar yang sudah menjadi sahabat karibnya itu. Namun, ketika Kartini menyadari bahwa Anwar mencoba untuk merenggut harga dirinya, ia pun melarikan diri dari hotel tersebut, dan di susul oleh Anwar.
          Hasan pun merasa menyesal telah berbuat demikian terhadap kartini juga kedua orang tuanya, khususnya pada ayahnya. Mendengar ayahnya sakit keras dia memutuskan untuk menemui ayahnya. Ditengah perjalanan penyakit TBC nya kambuh, namun Hasan menguatkan diri untuk terus berjalan sambil terngiang-ngiang dikepalanya suara kutukan, cemoohan, dan amarah ayahnya yang mencela perbuatannya dan keputusannya untuk menjadi seorang yang murtad.
           Karena Hasan sudah tidak kuat lagi, ia memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dan ia menemukan sebuah penginapan, yang penginapan tersebut adalah penginapan yang baru saja ditempati Kartini dan Anwar. Hasan melihat ke daftar tamu dan melihat ada nama Anwar dan Kartini. Sontak ia langsung berlari membelah kesunyian malam tanpa mempedulikan penyakit yang dideritanya. Sirine tanda bahaya pun berbunyi keras. Meraung-raung mengacaukan sunyinya malam, namun hal itu tidaklah dipedulikan oleh Hasan karena Hasan sudah gelap mata.
          Kemudian terdengar suara tembakan Dooorr! Hasanpun terjatuh dan mengingat segala dosa-dosanya, kemudian didalam hati kecilnya, ia tidak ingin berakhir sebagai orang yang Kafir! Ia pun berteriak "Allah hu Akbar!" Sebelum akhirnya ia bergulung-gulung ke aspal, dan tidak bergerak lagi.

Jumat, 06 September 2019

Sang Guru

          Hari ini, sebelum saya berangkat kuliah saya sempat berbincang - bincang dengan kawan satu kamar saya, dia membicarakan mengenai pengalamannya sewaktu mengikuti acara Ngopi Asik semalam, dia berbicara mulai dari materi yang disampaikan, hingga momen-momen mengesankan dan lucu.

         Kemudian kawan saya menyinggung sedikit tentang bapak dosen yang saya anggap kurang kompeten, dan sempat saya tulis di blog beberapa hari lalu, kebetulan hari ini adalah giliran mata kuliah beliau, dan hanya mata kuliah beliau saja.

         Kawan saya bercerita banyak mengenai beliau, dan kawan saya ini mendapatkan info dari salah satu kating yang menjadi pengurus Ngopi Asik. Dia mengatakan bahwa dulu bapak dosen ini tidaklah demikian, beliau begitu kompeten dalam bidangnya bahkan beliau diangkat menjadi seorang Asisten Profesor saat dibangku kuliah dulu.

          Hal ini menunjukan bahwasannya bapak ini sangatlah profesional, hingga dipercaya menjadi seorang ASPROF. Kemudian kawan saya menyatakan bahwa beliau berubah menjadi seperti ini karena beliau mengalami sebuah tragedi, yang tragedi itu sangat traumatis bagi beliau hingga mengganggu psikisnya. Entah tragedi mengerikan apa yang terjadi, namun satu yang jelas, kejadian tersebut begitu mengerikan menurut beliau hingga beliau berubah menjadi seperti itu.

          Kemudian muncul sebuah pernyataan. "Kenapa UTM masih mempertahankan beliau, jika memang tidak di anggap kopeten lagi?" Ya... Itu karena dikhawatirkan, apabila beliau diberhentikam, kondisinya akan jauh lebih buruk dan sampai ke titik depresi tau hal yang lebih ekstrim lagi. Maka dari itu, pihak kampus lebih memilih mempeetahankan beliau walaupun besae juga taruhannya.

          Kemudian kamipun berangkat kekampus sambil memikirkan dosa kita yang langsung menjudge bapak dosen tersebut, tanpa melihat latar belakang dan faktor pemicu beliau menjadk seperti itu.

          Sesampainya dikampus, kami duduk daj bersiap menerima materi dari pak dosen Antropologi tersebut. Selang beberapa menit, beliau pun datang dan mulai mengajar dengan cara beliau yang unik. Meskipun penjelasannya kurang jelas, namun tatapan mata beliau terlihat jika beliau serius dan bersungguh-sungguh untuk menyampaikan materinya kepada kami.

          Mulai pagi ini, pandangan saya mengenai beliau berubah, dari yang awalnya menyepelekan menjadi hormat dan merasa miris juga, karena kepintaran beliau merupakan aset yang seharusnya dijaga, namun ternyata tidak.

          Beliau memang tidak mengajarkan materi Antropologi kepada kami secara langsung. Namun beliau mengajarkan kami bagaimana cara kami untuk bisa menghargai, dan menuntun kami agar kami mempelajari Antropologi lewat dirinya yang istimewa tersebut.

          Beliau juga mengajarkan kami mengenai menilai orang lain, kita tidak boleh menghakimi seseorang hanya berdasarkan dengan apa yang kita semata, terkadang kita juga harus melihat seseorang dari apa yang tidak nampak dalam dirinya.

         Terima kasih pak, sudah mengajarkan ilmu yang sangat berharga kepada kami semua yang terlalu congkak dengan kedangkalan ilmu yang kami miliki. Kami akan berusaha agar lebih bisa menghargai orang lain lagi dengan walau dengan kekurangan yang ia miliki.
Sungguh bapak, engkau adalah sebuah simbol Seorang Guru Sejati.

#We love you pak Dosen :')

          

Rabu, 04 September 2019

Kenapa?!

          Malam ini saya dan kawan satu angkatan di SM mengadakan Meet Up kembali di Warkop Shelter, namun sebelum itu kami mampir dulu ke Sekber untuk mengambil buku bacaan untuk kami baca dan dipresentasikan kembali minggu depan.

          Saya berangkat ke Sekber ditemani dengan Hilmy menaiki sepeda motor. Sesampainya disana, kami disambut dengan salaman dan sapaan hangat Mas Adam yang sedang bermain gitar, Mas Time yang sedang menggoreng cabai, dan Mbak Idah yang sedang mengupas bawang merah.

          Kemudian kami duduk di kursi, dan berbincang bincang sedikit. Kemudian mbak Idah memberikan buku bacaan tersebut dan saya kebagian buku Lelaki Harimau, saya belum tau pasti buku ini menceritakan apa, namun sepertinya buku ini menarik untuk dibaca. Saya pun akhirnya mulai membaca, namun saya agak sulit untuk memahami bahasa yang dipakai karena lumayan banyak juga menggunakan gaya bahasa yang agak tinggi.

          Setelah semua sudah kumpul di sekret dan kamipun sudah makan bersama dengan mbak dan mas nya, kamipun segera berangkat ke Shelter agar tidak terlalu larut pulangnya karena memang kami terkendala oleh kawan-kawan yang ada di asrama, mereka tidak boleh keluar melebihi jam 22.00.

          Sesampainya disana, kami segera memesan dan mulai membuat blogrol. Sebenarnya tujuan kami meet up bukan hanya membuat blogrol saja. Namun juga ingin mendiskusikan dan menanyakan mengapa Roro ingin keluar, namun Roro masih belum bisa dihubungi pada saat itu. Kemudian setelah beberapa saat, Roro membalas pesan kami dan dia menjelaskan bahwa dirinya baru saja sampai di kos. Entah dari mana dia, namun itulah yang dikatakan oleh dia.

          Kemudian salah satu dari kami pun menjemput Roro dan Eka yang baru saja keluar dari Asrama, setelah menunggu beberapa saat akhirnya Roro pun kami sambut dengan sambutan khas kami. Kemudian kami mulai menanyakan beberapa hal kepada roro, mengenai alasan dia keluar SM, dan kami berusaha semaksimal mungkin agar dia tidak keluar, dan kami pun akhirnya mengantungkan harapan kami kepada Taki, karena Roro hanya mau cerita kepada Taki saja.

          Karena saya harus membantu kawan - kawan yang belum membuat blogrol, saya pun tidak menyimak percakapan mereka, karena si Roro juga tidak mau percakapannya terdengar oleh orang lain. Mereka berbincang 4 mata, entah apa saja yang mereka bincangkan saya tidak tau, karena saya terlalu sibuk membantu teman-teman. Namun 1 yang saya tangkap dari Roro, dia sepertinya hanya menginginkan perhatian lebih dari kita semua selaku kawan seperjuangannya, karena mungkin Roro menganggap kita terlalu acuh, padahal tidaklah demikian.

          Roro merasa kita sebagai kawannya kuranglah perhatian padanya, namun apa mau dikata, itu adalah prasangka dia yang menjadi hak asasi bagi dirinya untuk menilai kita semua selaku kawan seperjuangannya. Entah itu benar atau tidak, jika analisa saya benar, maka kami selaku kawan-kawan anda akan berusaha memantaskan diri agar kita tidak terpecah belah, namun apabila analisa saya salah. Cukuplah kamu tau apa yang ada dipikiran saya, dan saya meminta maaf atas kesalahan saya.

          Setelah itu, semua yang tinggal di asrama pulang dan kemudian disusul oleh kita semua, karena tugas kita telah usai dan selesai. Saya hanya berharap tidak ada perpecahan ditengah kekeluargaan kita. Jika memang kamu (Roro) memutuskan untuk mundur, maka jangan lupakan kami sebagai saudara, jika itu terlalu berat. Maka anggap saja kita sebagai kawan, bukannya lawan

:)

Malam

          Malam ini saya dan kawan-kawan seperjuangan saya di SM ada kegiatan Meet Up untuk mempresentasikan hasil dari pemahaman kita selama 1 minggu dari membaca buku. Saya deg-deg an pada awalnya, namun setelah bebarap menit saya mulai bisa beradaptasi dengan keadaan.

          Kemudian presentasi pun dimulai dan yang mengawali presentasi adalah Cahya atau biasa dipanggil cimeng. Cimeng menceritakan dengan cukup detail bagaimana cerita tersebut dikisahkan, hingga sepertinya kami tidak perlu membaca lagi buku yang dibaca oleh cimeng. Namun, mbak Idah akhirnya menghentikan presentasi cimeng yang terlalu gamblang, jadi pada bagian akhirnya kita tidak tau seperti apa cerita tersebut.

          Diskusipun dimulai dan Kita mulai menanyakan mulai dari hal yang sepele atau bersifat teknis, hingga ke yang bersifat pokok atau makna tersirat & pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dalam novel tersebut. Yang menjadi fokus saya malah ke latar belakang tokoh utama yang ada dinovel tersebut yang dikisahkan sebagai seseorang yang apatis dan sedikit peduli terhadap sesama dan lingkungan sekitar, bahkan saat ibunya meninggal pun dia tidak menangis dalam kisahnya tersebut. Dan dia juga menembak seorang warga Arab karena warga Arab tersebut mengacungkan sebilah pisau kepadanya, Maka dari situlah yang saya ingin tanyakan kepada cimeng.

          Namun cimeng sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalunya, sehingga dia menjadi kepribadian yang seperti itu, karena di novelnya sendiri tidak diceritakan secara rinci bagaimana masa lalu si tokoh utama ini. Akhirnya kami semuapun mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalunya tokoh utama ini.

          Setelah sudah cukup lama beradu argumen mengenai hal ini kemudian giliran mas Time memberikan pertanyaan, beliau menanyakan apa maksud penulis menggambarkan sosok si tokoh utama ini menjadi seorang yang apatis dan dinilai tidak berprikemanusiaan karena tidak menangis saat ibunya meninggal dan malah pergi berkencan dan nonton film komedi, satu hari setelah ibunya telah tiada.

          Karena tidak ada yang tau, akhirnya mas Time pun memberikan sebuah pernyataan yang sama sekali tidak terlintas dipikiran kita. Maksud dari sang penulis ini menggambarkan sosok marsold menjadi seseorang yang acuh terlebih saat ibunya meninggal adalah, karena sang penulis ingin menunjukan bahwa kita seharusnya tidak melakukan hal yang sia-sia. Seperti marsold yang tidak menangisi ibunya ketika ibunya wafat, karena meskipun dia menangis hingga air matanya mengering dan berganti tangis darah, itu tidak akan bisa merubah realita, Dan ibunya juga akan tetap wafat, tidak mungkin karena tangisannya itu ibunya dapat hidup kembali. Kira-kira seperti itulah makna tersirat yang coba untuk disampaikan oleh sang penulis lewat novel tersebut.

          Sebenarnya masih banyak hal absurd dan makna-makna yang terkadung dalam novel tersebut, namun saat itu sudah larut malam, dan akhirnya saya & adji mendapat giliran presentasi hasil baca kita 1 minggu ini. Setelah selesai presentasi dan sesi tanya jawab juga diskusi, akhirnya pertemuan ini berakhir pada pukul 00.56 dan saya pun akhirnya pulang ke kos.

Selasa, 03 September 2019

Drastis!

          Pagi ini diawali dengan materi dengan mas Citra, beliau adalah salah satu dari 4 pendiri SM, beliau memaparkan materi yang bisa dibilang cukup unik dan antimainstream. Karena beliau menyampaikan materi Filsafat Ilmu, namun dari sudut pandang yang berbeda. Jika Filsafat selalu identik dengan hal Materialis (wujud nyata/kasat mata), beliau memaparkan hal yang sebaliknya. Beliau mencoba menjelaskan keberadaan kekuatan diluar indra dan nalar manusia. Ya... Keberadaan hal Imaterialis (tidak kasat mata).

          Keberadaan hal Imaterial sebenarnya bukanlah hal yang baru ditelinga kita, bahkan di kitab suci kita Al-Qur'an itu juga kita di wajibkan untuk beriman (percaya) kepada hal yang bersifat Imaterial (ghaib). Karena tuhan kita (Allah SWT) juga bersifat ghaib.

          Kemudian, mas Citra mencoba memberikan pemahaman kepada kami, beliau mengatakan, mampukan kita melihat wajah tuhan di setiap apa yang kita lihat, Karena sesungguhnya semua yang terjadi di atas muka bumi ini adalah kehendak tuhan. Meskipun kami belum bisa melakukan hal tersebut, namun mas Citra membuat kami semua membuka mata akan ada kuasa tuhan disetiap kejadian, bahkan di hal yang terkecil sekalipun.

          Beliau memaparkan jika kita tidak bisa melihat hal Imaterial tersebut bukan karena hal tersebut tidak ada. Namun karena kita masih memiliki Tabir Penghalang, yang menghalangi pandangan kita terhadap hal-hal tersebut, tabir itu bisa tercipta karena dosa - dosa juga keburukan - keburukan kita. Namun hikmah dari hal tersebut adalah, kita sebagai manusia bisa melakukan hal yang selayaknya manusia normal lakukan. Bayangkan saja jika TABIR tersebut dibuka, dan kita bisa melihat hal - hal nonmateri seperti isi hati, pikiran, tujuan, alasan sifat orang lain, dan kenyataan - kenyataan didunia ini, maka sudah dipastikan, kita tidak akan mampu untuk menyangga beban seberat itu. Dan mungkin dunia akan dipenuhi oleh orang - orang gila.

          Kemudian pagi berlanjut ke siang, dan sayapun pulang ke kos an bersama Aryo, karena sepeda motor Aryo masih belum ditemukan usai insiden kemarin, akhirya dia berjalan bersama saya.

          Sesampainya di kos, saya langsung tidur karena kelelahan, dan hari ini pun berubah drastis, dari yang semula menarik dan seru, menjadi hari yang OVER MEMBOSANKAN!

           Kemudian seperti yang saya bicarakan tadi, tak ada hal yang istimewa, bahkan sampai saya melakukan perjalanan hingga sampai di kampus. Pelajarannya pun sungguh membosankan dan tidak ada sensasi serunya sedikit pun. Bahkan dosennya pun seperti salah saat membawakan materinya, hal itu terbukti ketika saya bertanya kepada beliau, apakah materi yang beliau bawakan itu benar, dan saya bandingkan dengan pengetahuan yang saya di SMK dahulu, beliau malah menjawab "saya juga bingung sebenarnya mana yang benar". Woowww! Sungguh luar biasa bukan.

          Setelah saya merasa tidak puas dengan pelajaran beliau, saya pun tidak menanyakan hal apapun lagi agar beliau segera mengakhiri mata kuliah beliau dan agar kami bisa segera sholat ashar dan pulang.

          Setelah itu saya berencana untuk ngopi dengan kawan-kawan saya. Namun karena mood saya sudah rusak gara-gara matkul siang tadi akhirnya saya memutuskan untuk tidur dan bermimpi.

Negri Ngeri

          Malam ini saya berencana kumpul bersama kawan-kawan saya sambil mengerjakan tugas, mood saya sangat baik pada saat itu. Bahkan saya berangkat dengan rasa suka cita, dengan harapan selain bisa mengerjakan tugas, kami juga bisa membahas hal-hal yang menarik seperti Filsafat, Kebebasan Berpikir, dan hal yang menyangkut kehidupan lainnya.

          Malam pun semakin menunjukan kesunyiannya, dan kami masih terjebak dalam belenggu pena yang mengukir sebuah goresan dengan iming - iming masa depan cerah dengan sebuah ijazah. Setelah dirasa cukup kami mengerjakan tugas, kami beristirahat sejenak dengan sedikit memanikan ponsel kami sembari ditemani secangkir teh yang menambah syahdunya lingsir wengi.

          Perlahan bibirku pun menyentuh secangkir teh dan menenggaknya secara perlahan, harum teh yang khas memanjakan lubang hidung, hangatnya yang mengusir sepi, dan segarnya yang menolak dahaga membuat kami semakin syahdu dan larut dalam manisnya malam ini. Kemudian kenikmatan tersebut tiba - tiba sirna ketika saya melihat berita bahwa Bendera Bintang Kejora telah berkibar disalah satu kantor milik Negara, dan melihat hal tersebut saya seperti merasa terhina, karena bagaimana mungkin kita hanya diam saja melihat hal tersebut, saya ingin action untuk negara ini, namun apalah daya, saya belum punya kuasa apa - apa untuk merubah negara ini.

          Kemudian saya lanjutkan scrol di beranda fb saya dengan perasaan agak marah dan kecewa, lalu saya melihat berita bahwa ada disakah satu masjid yang mulai mengajak jamaah nya untuk mendirikan khilafah dan mereka semua dengan lantangnya meneriakkan khilafah - khilafah. Kemudian saya tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut dan memilih untuk melanjutkan scrol beranda fb saya.

          Kemudian saya melihat berita Bapak Presiden yang membahas mengenai pemindahan ibu kota. belum lagi berita tersebut yang memaparkan tentang kekurangan dan dampak yang akan ditimbulkan jika ibukota pindah. Maka semakin tersungkurlah harapan saya mengenai nasib negara ini, saya seperti disungkurkan oleh negara ini sendiri, dan terkapar oleh kenyataan - kenyataan ini.

          Saya berpikir, haruskah kita semua fokus kepada itu, padahal masih ada masalah yang lebih urgent lagi dibanding hal tersebut, dan hal ini tidak bisa di anggap sepele karena mengancam keutuhan NKRI, dan pastinya akan banyak oknum-oknum dari luar yang memanfaatkan momen ini untuk menghancurkan Indonesia, jika pemindahan ibukota akan berdampak buruk bagi keutuhan di Indonesia, mengapa harus dilakukan. Bukannya harusnya kita lebih fokus kepada masalah-masalah saudara kita di Papua dan juga Idiologi Khilafah ini, namun sekali lagi, apalah daya hamba.

          Diri ini hanya salah satu debu yang berserakan di atas muka bumi ini yang tidak lain dan tidak bukan keberadaannya sangat tidak di inginkan dan mengganggu peradaban saja.

:')