Sabtu, 31 Agustus 2019

Agent Of Change!

          Pagi ini saya, Hilmy, Adji, dan Mas Raju sedang sarapan bersama di sebelah barat sekber. Kami menikmati setiap suapan nasi yang masuk kedalam mulut sebagai tanda rasa syukur kami kepada sang ilahi rabbi.

          Sampai pada akhirnya, makanan kami telah habis, dan kamipun memulai obrolan santai kami. Obrolan kami dimulai dari ilmu apa yang kami dapat, dan kami disuruh untuk menyebutkan 3 hal yang kami dapat oleh mas Raju, akhirnya kamipun menyebutkan 3 hal tersebut dan beliau menyayangkan karena kita hanya mendapat pelajaran yang tersirat saja, dan terpaku kepada hal yang tinggi, seperti yang menyangkut idiologi, kenegaraan, lingkungan, dan hal yang lain.

          Tanpa disadari, banyak hal sepele yang pengaruhnya itu sangat besar, khususnya bagi masyarakat kita di Indonesia. Seperti kenapa orang Cina cenderung memakai pakaian santai seperti boxer dan kaos oblong saja ketika berbelanja di Mall, namun mereka membeli barang yang bisa dikatakan banyak. Dan kenapa malah orang Indonesia memakai baju rapi, bagus, dan keren, namun pada kenyataannya hanya foto-foto saja. Padahal sejatinya Mall itu untuk berbelanja, bukan sebagai tempat fashion show atau tempat untuk memamerkan apa yang kita miliki.

          Beliau juga menuturkan jika masyarakat kita sekarang ini telah bertransisi menjadi masyarakat Bungkus, karena banyak dari kita lebih mementingkan apa barang - barang BRANDID, yang terkadang kita ini tidak membutuhkan barang tersebut sebenarnya. Namun karena demi "GENGSI!" Apapun rela dibeli.

          Padahal, sejatinya pakaian adalah untuk menutup badan agar tidak telanjang, sepatu & sendal sebagai alas kaki, dan celana tetap pada hakikatnya yaitu sebagai penutup tubuh bagian bawah. Namun semua fungsi tersebut telah digantikan oleh fungsi yang lebih primer di masa kini, yaitu adalah fungsi PAMER, berapa banyak orang yang rela membeli barang brandid dengan harga selangit, demi memperoleh sebuah pengakuan. Dan lebih mirisnya lagi, mereka lebih suka membeli di Toko atau swalayan dan mall-mall besar yang sudah jelas milik pengusaha kaya walau harganya terpaut jauh dari harga di pasar tradisional, dan kita juga cenderung menawar harga baeang yang ada di pasar tradisional. Jadi kita lebih suka memperkaya pengusaha kaya, dan memiskinkan pedagang kecil.

          Dan mindset itulah yang harus kita rubah, agar kita tidak lagi gengsi untuk memakai pakaian yang biasa-biasa saja ketika di Mall, kita lebih prioritaskan Fungsi dari pada Gengsi, dan kita juga harus lebih memprioritaskan pedagang kecil agar kita bisa berpartisipasi dalam mensejahterakan rakyat kecil.

          Kemudian mas Raju memberi kami tugas untuk berbincang dengan orang yang belum kami kenal, beliau meminta kami untuk mencari informasi dari orang yang tidak kami kenal tersebut, dan menuliskan di blog ini.

          Akhirnya saya mulai pergi ke masjid dan menemui mas Ibnu, selaku pengurus masjid di kampus UTM, dengan modus mencari kunci kos saya. Kemudian saya bicara bahwa kunci saya sudah ketemu dan saya mulai bertanya tanya mengenai beliau, mulai dari asalnya darimana dan basa-basi lainnya. Kemudian kami mulai ngobrol mengenai hal yang agak personal dan pribadi, dan beliau memaparkan jika beliau ikut salah satu Ormek.

          Kemudian beliau bertanya kepada saya, apakah saya ikut Ormek atau tidak, dan saya bilang jika masih bingung, dan dengan nada berusaha mempengaruhi agar saya tertarik, entah itu hanya nethink saya ataukah memang fakta, namun saya berusaha tidak terlihat ilfil dan malah cenderung bersikap seperti tertarik agar bisa mendapat informasi yang banyak, namun beliau masih agak membatasi dan tidak terlalu terbuka, mungkin karena saya masih belum tentu untuk masuk ke Ormeknya beliau, jadi beliau masih belum bisa terbuka mengenai ormek beliau kepada saya.

          Setelah saya rasa cukup dan takutnya beliau malah curiga terhadap saya, dan akhirnya saya kembali ke kos untuk istirahat.

4 komentar:

  1. Kurang seru gak debat musit, tapi seengak e lumayan drpd isuk2 mlungker na kosan

    BalasHapus
  2. Mas belajar penggunaan EYD lagi ya...jangan lupa mampir ke blog bunuhdiridigaris97 (dalam bahasa Indonesia).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang ada aturan ya ketika kita nulis cerita diblog harus menggunakan EYD,

      Ini cerita bebas bro...bukan surat kantor😂😂😂

      Hapus