Rabu, 28 Agustus 2019

INSAN YANG BERPIKIR

          Semua hari adalah sama, begitupun dengan pagi, matahari masih terbit di sebelah timur dan akan tenggelam di ufuk barat, awan akan tetap menghiasi langit dibumi kita. terlepas dari semua fatwa dan norma agama, kitalah kendali atas diri kita, dan yang membuat hari menjadi istimewa adalah diri kita, apakah kita akan mengisinya dengan hal yang membosankan seperti hari kemarin, ataukah kita isi dengan hal yang sesekali menuntut kenyataan agar menyuguhkan kebahagiaan dan manfaat, juga kenikmatan dalam setiap secangkir kopi di pagi kita.

         Semua berawal dari pagi hari yang sudah selayaknya mengawali segala aktivitas setiap insan di dunia, diri ini terbangun dari sebuah singgasana yang membuat saya terlelap dalam balutan kenyamanan pada setiap malam. Kemudian saya segera berbenah diri dan melaksanakan kewajiban kepada tuhan saya yang maha Esa, setelah itu semua berjalan sesuai dengan orbit takdirnya, tidak ada hal yang istimewa, sampai saya mulai membaca buku yang diberikan oleh para senior SM semalam, yang berjudul "ATHEIS".

          Jujur saat awal saya menerima buku ini saya merasa takut, bergetar hati dan diri saya, dan ada gejolak dan perasaan hang bercampur, antara takut dan bertanya - tanya "kenapa harus buku ini yang diberikan kepada saya?!". Namun setelah saya membaca isinya dan sudah saya pahami maknanya, walaupun belum keseluruhan, saya seperti sudah mengerti maksud dari kakak senior memberikan buku ini kepada saya, yaitu agar saya tetap kuat dalam pendirian saya walaupun lingkungan tidak mendukung, saya tetap kokoh dalam pendirian saya.

          Entah benar atau tidak, akan tetapi itulah makna yang saya terima dari fenomena semalam, karena buku ini sendiri menceritakan seorang Tokoh yang bernama Hasan yang hidup ditengah keluarga yang menganut hal yang berbau mistis/mistisme dan tarekat, yang sudah biasa melakukan amalan-amalan yang bisa dibilang berat dan menyiksa. Oleh sebab itulah, Hasan merasa sudah sempurna dalam hal berbakti kepada tuhan, sehingga Hasan bertekad untuk menginsafkan orang lain akan kebaikan dengan ilmu tarekat yang Hasan peluk tersebut. Namun setelah Hasan mulai masuk ke dunia luar dan bertemu dengan Rusli teman masa kecilnya, Rusli memperkenalkan Hasan kepada seorang wanita yang bersamanya, kartini dan pada akhirnya Hasan pun jatuh cinta kepada Kartini.

          Kehidupan Rusli dan Kartini begitu bebas, sehingga Hasan bertekad untuk membuat mereka sadar jika mereka berada dijalan yang salah. Namun pemikiran Rusli yang Matrealisme tidaklah selaras dengan pemikiran Hasan yang Mistisme, yang selalu terpaku kepada agama, tuhan, dan amalan-amalan. Hal itulah yang membuat tekad Hasan porak poranda, sehingga saat dia mencoba menasihati Rusli, malah Hasan yang balik terkena khotbah oleh Rusli dengan pemikiran - pemikirannya yang Matrealis, dan pada akhirnya Hasan pun terpengaruh oleh Rusli dan memutuskan untuk menikahi Kartini, walaupun ayahnya sudah menjodohkannya dengan Fatimah. Tentu saja kedua orang tuanya tidak merestui pernikahan tersebut, namun Hasan bersi keras untuk tetap menikahi kartini.

          Setelah menikah mereka tidaklah merasakan kebahagiaan, Kartini tetap dengan kehidupan bebasnya hingga pada suatu malam Kartini pulang bersama Anwar dan membuat Hasan terbakar api cemburu. Hasanpun gelap mata dan memukuli Kartini, sehingga membuat Kartini lari dan bertemu dengan Anwar, kemudian Anwar mengajaknya menginap di Hotel, mengetahui Anwar yang mencoba memperkosa dirinya, Kartinipun melarikan diri. Kemudian Hasan mendengar bahwa ayahnya jatuh sakit, Hasan pun menyesali dan merenungi perbuatannya, kutukan dan maki an ayahnya masih terngiang dalam telinganya ketika dia memutuskan untuk menemui ayahnya, namun TBC yang menyerangnya kambuh dan Hasanpun merasa tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan, dan memutuskan untuk menyewa penginapan.

          Dan kebetulan, penginapan yang disewa oleh Hasan sama dengan penginapan yang disewa oleh Anwar dan Kartini, saat melihat nama mereka di daftar tamu, dan resepsionis pun menjelaskan kejadian yang telah terjadi. Mendengar penjelasan tersebut, sontak membuat Hasan gelap mata dan berlari menembus gelapnya malam, sirine tanda bahaya pun tak dihiraukan oleh Hasan dan pada akhirnya hasanpun tertembak dan berteriak takbir, sebelum pada akhirnya dia tidak lagi bergerak.

          Dari cerita tersebut sayapun menangkap maksud dari kakak senior kepada saya, yaitu agar saya kuat dalam pendirian agama saya dan tidak mudah goyah walaupun di doktrin sana - sini dengan argumen-argumen orang atheis yang pintar sekalipun, dan maksud saya diberi buku tersebut adalah sebagai gambaran atas gejolak yang sebenarnya ada pada diri saya pada awal masuk UTM dan menerima mata kuliah Filsafat, dan juga saat saya berdebat dengan kating saya saat materi Filsafat, dan membuat saya berpikir tentang keberadaan tuhan, yang awalnya ragu namun pada akhirnya menjadi yakin karena Filosofi Otak yang saya ciptakan sendiri.

          Dan saya juga menangkap maksud kakak senior memberi buku ini kepada saya, itu agar saya bisa memiliki kebebasan berpikir dan lebih membuka mata saya terhadap dunia ini dan tidak dibatasi oleh agama saat berpikir, namun saat bertindak tetap berlandaskan kepada norma agama.

          Hikmah akhir yang saya terima pada hari ini adalah, pemikiran saya tidak boleh dibatasi oleh agama, dan tindakan saya tidak boleh melewati batas dan norma agama. Saya juga tidak boleh menilai "BUKU DARI SAMPUL & JUDULNYA", dari yang saya menganggap buku ini akan membuat saya jauh dari keyakinan saya dan malah lebih mengenalkan saya kepada dunia ATHEISME, namun anggapan saya itu ternyata salah, malah buku inilah yang membuat saya sadar dan memperkuat pondasi keyakinan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar