Jumat, 25 Oktober 2019

Resensi Novel Heart of Darknes

Judul : Heart of Darkness

Pengarang : Joseph ConradI

ISBN : 1-85715-174-7

Tebal Buku : 110 halaman


Kisah ini dibuka oleh sosok bernama Marlow pemuda asal Inggris yang memiliki semangat tinggi dan ditunjuk untuk menjdi seorang nahkoda kapal uap memasuki pedalaman Afrika dengan misi khusus dari perwakilan perdagangan Belgia, untuk mengangkut ‘dagangan-penting’ serta mencari pria bernama Kurtz yang diketahui berada di pelosok belantara Afrika. Bertindak selaku narator, sosok Marlow  menuturkan pengalaman pertamanya memasuki belantara Afrika. Naif dan dipicu semangat untuk melakukan aksi yang menegangkan, petualangan yang mendebarkan, tiada yang bisa mempersiapkan hati serta jiwa pemuda Marlow saat menyaksikan dari dekat kehidupan peradaban masyarakat Afrika (tepatnya di wilayah Kongo) pada masa koloni kerajaan Belgia. Dari uraian, ditangkap bahwa sumber utama ‘perdagangan’ adalah gading yang bernilai tinggi dan sangat sulit untuk dikumpulkan (dan berbahaya pula bagi para pemburu yang tak berpengalaman).


Secara perlahan, pembaca dibawa memasuki dunia lain, menyaksikan perlakuan orang-orang kulit putih terhadap penduduk asli yang bisa diibaratkan makhluk tak berharga, hanya bisa dimanfaatkan tenaganya semaksimal mungkin. Perdagangan lain yang tak disembunyikan bahkan disahkan oleh hukum sert otoritas setempat, perdagangan budak antara sesama kaum Afrika. Mereka ditangkap dari desa masing-masing, hanya dipilih yang cukup sehat dan muda, sisanya dibunuh. Kebebasan apa pun lenyap, hak kehidupan kaum budak ini ditentukan sangat tipis batasnya dengan hewan peliharaan, yang acapkali mendapat perlakuan lebih baik. Dirantai di leher dan kaki, diharuskan mengangkut hasil tambang menelusuri medan yang berat dan jauh, tanpa ransum ataupun bekal yang memadai. Jika ada yang tewas, tubuhnya dibiarkan begitu saja untuk digantikan budak lain yang tak kalah menyedihkan kondisinya.


Ketidak-pedulian akan keberadaan kaum Afrika yang digambarkan sebagai ‘makhluk primitif’ ... bodoh, tidak berbudaya, kanibal dan tidak memiliki akhlak atau pun moral, yang justru menjelang akhir kisah menjadi sebuah kontradiksi pada pemikiran Marlow. Pergulatan dalam benak serta jiwa Marlow, terungkap cukup jelas sepanjang deskripsi yang ia tuturkan. Antara rasa takut dan keingin-tahuan menelusuri dunia yang sama sekali berbeda, antara rasa jijik hingga muak, bergulat dengan perasaan manusiawi dari hati nuraninya. Dengan menggunakan sosok Kurtz sebagai pedoman moral – pria yang tak pernah dikenal selain legenda akan keahliannya sebagai pemburu gading ternama, karakter Marlow akhirnya harus berhadapan dengan realita bahwa kepahlawanan yang diagung-agungkan oleh masyarakat (terutama kalangan penguasa Eropa), ternyata justru berbalik 180 derajat yang mengguncang batinnya.


Kurtz sang pemburu gading yang legendaris, tidak lagi memiliki sosok pria perkasa, fisiknya hancur beserta jiwanya, berontak akan misi yang mengharuskan dirinya meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari peradaban yang masih perawan dengan cara apa pun (termasuk melenyapkan siapa pun yang dianggap sebagai penghalang), dan hati nurani yang akhirnya mengakui makhluk-makhluk yang dianggap primitif dan tak berbudaya itu juga manusia, dengan akhlak dan moral yang masih polos. Heart of Darkness mengisahkan perjalanan manusia menelusuri kegelapan pikiran manusia diujung kegilaan, mempertanyakan kebenaran, terombang-ambing antara realita dunia nyata dengan realita dunia impian.

Lebih dari 100 tahun setelah diterbitkan pertama kali, novel ini masih populer. Saya percaya, penulisan Heart of Darkness didorong oleh rasa bersalah. Conrad menghabiskan enam bulan bekerja di Kong pada tahun 1890, sebagai agen yang tidak disengaja, hampir rahasia, dari genosida pertama di era modern. Jutaan orang Kongo dibantai untuk meraup laba bagi raja Belgia, Leopold II. Sepuluh juta orang diperkirakan meninggal dunia. 
Apa yang Conrad lihat di Kongo itu membara dalam  jiwanya selama delapan tahun sampai, dalam beberapa bulan, dia menuliskan novel yang menghantui ini. Kekuatan novel ini berupa kecamannya yang fasih terhadap kesombongan kolonialisme dan pemikiran mengerikan bahwa umat manusia telah benar-benar berperilaku seperti itu. Tapi kekuatan sebenarnya bagi saya adalah ketika saya memungutnya lagi, saya tahu bahwa saya akan kembali menemukan sesuatu yang  baru.

Selain itu, novel ini juga ditulis dalam tatanan yang agak rumit, yakni hanya lurus dan tidak memiliki jarak Tab seperti penulisan paragraf pada biasanya. Hal ini mungkin karena penulis ingin menyampaikan pesan berupa kerumitan, kekacauan dan keresahan yang terjadi pada cerita tersebut. Cerita itu juga saat dibedah lebih dalam lagi ternyata masih memiliki Relevansi dengan kehidupan saat ini. Seperti saat munculnya manusia kanibal yang menurut saya itu adalah hasil dari penganalogian wujud seorang koruptor, bahkan lebih kejam dari pada koruptor.

Kelebihan : memiliki makna dan pesan yang dalam, yang disajikan melalui adegan² yang bersifat Metafora.

Kekurangan : Format terkesan rumit, karena tidak menggunakan susunan paragraf seperti biasanya. 

Sabtu, 19 Oktober 2019

Resensi Novel Lelaki Harimau

Judul : Lelaki Harimau
Penulis : Eka Kurniawan
Genre Fiksi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 204 halaman

          Pada bagian awal diceritakan bahwa Margio adalah bocah yang menggiring babi ke dalam perangkap. Namun di sore ketika seharusnya beristirahat menanti musim perburuan, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan pengkhianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. “Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau di dalam tubuhku.”

           Bagi saya ceritanya tidak mudah ditebak. Selain menggunakan alur maju mundur yang cepat, dalam novel ini juga saya temukan beberapa kosakata baru, seperti surau, lenguhan, pejal, begundal, pelor, dan masih banyak lagi. Kata-kata yang sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah saya temukan di novel-novel lain.

           Nama tokoh-tokohnya pun unik. Di sini semua tokohnya memiliki peran yang penting dan membuat saya bersimpati pada tokoh-tokohnya, terutama pada Margio, Nuraeni, dan Komar bin Syueb. Lelaki Harimau bisa dibilang novel psikologis-magis meskipun sisi magis yang ditampilkan hanyalah sedikit. 

            Dan menurut saya, Eka Kurniawan adalah seorang penulis yang sangat cerdas dalam memadupadakan kata dan memainkan plot cerita. Ini terlihat dari caranya menyampaikan gagasannya, kata-kata yang digunakannya, dan plot maju mundur yang tidak biasa.

Resensi Buku Bumi Manusia

Judul : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara

Isi : 535 hlm
ISBN : 979-97312-3-2

          Novel ini menceritakan kehidupan pada tahun 1898 yang berlatar tempat dikota Surabaya, yang tentu saja itu adalah masa pendudukan Hindia Belanda. Namun bukan penindasan Tentara Belanda kepada Rakyat Indonesia yang digambarkan oleh penulis, melainkan lebih kepada keadaan kota Surabaya pada masa itu dan Romansa antara Minke dengan Anelis. Meskipun ada beberapa momen yang menceritakan tentang penindasan Rakyat Indonesia seperti saat Jean Marais bercerita sewaktu dia bergabung dengan Tentara Belanda dan terlibat pada Perang Aceh. Namun menurut saya tetap saja buku ini berfokus untuk menceritakan kondisi kota Surabaya pada massa itu.

          Selain tokoh Minke, Bumi Manusia yang berlatar di Surabaya pada masa kedudukan Hindia Belanda 1898 ini juga menggambarkan seorang "nyai" bernama Nyai Ontosoroh, dan bisa kita lihat pandangan orang mengenai "nyai" pada massa itu adalah buruk, walaupun Nyai Ontosoroh ini sangatlah beda dengan Nyai² lainnya.
           Sosok Minke sendiri disebut oleh penulis terinspirasi dari sosok Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar berbahasa Melayu pertama di Indonesia yang belakangan dikenal juga sebagai Bapak Pers Nasional seperti yang tertulis dilaman CNN INDONESIA saat menceritakan sinopsis novel ini.

            Penulis novel ini juga sering memberikan gambaran² yang jika dibedah lebih dalam lagi kita bisa menemukan pesan yang ingin disampaikan penulis seperti penderitaan seorang Nyai Ontosoroh ketika "dijual" oleh ayahnya sendiri kepada Tuan Mallema yang bisa kita simpulkan bahwa kehidupan wanita pada masa itu bagaikan boneka yang tidak diberikan Hak Asasi apapun, bahkan digambarkan pada novel itu digambarkan jika Nyai Ontosoroh hanya bisa terdiam dan pasrah saat tuan Mallema menciuminya, meneluknya, dan melempar²kannya bagai Boneka Mainannya. Dan dari pengalaman beliau tersebut, kemudian beliau memiliki tekad untuk mendidik Anelis putrinya dengan keras agar tidak bergantung terus kepada pria dan membiarkan Anelis memilih pria pujaannya sendiri.

Kelebihan : Buku ini seolah membawa pembaca kedalam keadaan pada zaman itu, dan merasakan apa yang dirasakan tokoh, dengan demikian, pesan yang disampaikan bisa benar² masuk dengan mudah kepada pembaca.

Kekurangan : Buku ini banyak menggunakan istilah² yang sulit dipahami, mulai dari majas, bahasa yang tinggi, dan istilah² asing, jadi mungkin buku ini tidak cocok untuk anak² atau orang yang baru mulai membaca novel beraliran sastra.