Kamis, 30 April 2020

Solusi Baru, Masalah Baru

Solusi Baru, Masalah Baru. Ya itulah yang mungkin menjadi hal yang tepat guna menggambarkan segala situasi yang terjadi saat ini. Mulai dari kebijakan dan segala solusi masih belum bisa menyelesaikan segala persoalan yang ada. 

Pandemi Corona Virus Disease-2019 (COVID-19) telah mempengaruhi banyak sektor di Indonesia. Mulai dari perekonomian, sosial, agama, bahkan pendidikan. Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 ini, pemerintah Indonesia telah menginstruksikan untuk melakukan beberapa kegiatan didalam rumah, seperti bekerja dan sekolah, akan tetapi masih banyak yang belum mematuhi hal tersebut, sehingga penyebaran virus corona di tanah air masih berlangsung. Untuk itu pemerintah menyatakan perpanjangan status darurat pandemi corona ditanah air, yang tentu saja juga berpengaruh disektor yang lain seperti pendidikan. 

Pemerintah daerah telah mengeluarkan himbauan kepada seluruh sekolah untuk memperpanjang sistem pembelajaran onlinenya, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, termasuk Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
Universitas Trunojoyo Madura telah menerbitkan surat Edaran yang menyatakan bahwa perpanjangan sistem kuliah online guna pencegahan dan memutus rantai penyebaran virus corona. Surat yang terbit pada hari selasa tanggal 28 April kemarin diharapkan menjadi solusi yang tepat dalam partisipasi Universitas Trunojoyo Madura dalam pemutusan penyebaran mata rantai virus corona. Akan tetapi, layaknya pisau bermata dua, hal ini juga menimbulkan polemik baru dikalangan mahasiswa. Pasalnya, perpanjangan status siapsiaga dalam menghadapi pandemi Corona Virus Disease - 2019 (COVID-19) ini berarti semakin lama pula mahasiswa menjalankan sistem kuliah online ini. 
Tentunya kebijakan tersebut hadir atas anjuran dari pemerintah yang telah menetapkan bahwa segala aktifitas dilakukan dirumah. Pada bulan Maret 2020, Jokowi Dodo selaku presiden Indonesia telah menyampaikan keputusan untuk pencegahan penyebaran COVID-19 bahwa masyarakat mulai dari bekerja, ibadah, serta sekolah atau belajar dirumah saja. Akan tetapi, anjuran tersebut tidak semulus dan sesuai dengan harapan. 

Pasalnya, sistem belajar online ini memang sudah banyak menuai pro dan kontra dari beberapa pihak mulai awal kemunculannya karena dianggap kurang efektif. Alasan tersebut didasari oleh beberapa faktor seperti terkendala sinyal, kuota internet, android yang kurang mendukung, kurang memahami materi yang disampaikan, jadwal yang amburadul, dan aplikasi yang cenderung berat dan memakan banyak kuota. Belum lagi tekanan yang dirasakan oleh mahasiswa selama dirumah yang tentunya menganggur dan terlihat bermain hp (padahal kuliah). 

Dengan beberapa keluhan tersebut, pihak kampus mencoba meringankan beban mahasiswa dengan menerbitkan surat edaran yang menyatakan akan memberikan subsidi berupa pulsa senilai 150.000,- hal ini disambut baik oleh mahasiswa, karena tentu hal ini akan "sedikit" bisa membuat mahasiswa bernafas lega, karena mendapatkan bantuan tersebut. 

Belum lagi bantuan yang dijanjikan oleh pihak kampus berupa subsidi pulsa sebesar 150.000,- tak kunjung diterima oleh mahasiswa. Hal ini dikarenakan program ini terbilang baru di Universitas Trunojoyo Madura, seperti yang dikatakan oleh bapak Syarif selaku rektor di Universitas Trunojoyo Madura. Beliau menyatakan jika pihak kampus masih harus melakukan mekanisme dengan baik dan tepat karena melalui provider (operator) terlebih dahulu, agar tidak terjadi masalah nantinya, dan hal ini juga merupakan program pertama di Universitas Trunojoyo Madura ini. 

Seolah sudah lelah dengan keadaan, mahasiswa terus mengeluhkan perpanjangan tersebut karena dirasa akan menambah kesengsaraan mahasiswa. Tugas yang terus menerus menekan mahasiswa memang dapat membuat mahasiswa semakin diaduk dalam tekanan stres, ditambah saat ini mahasiswa tidak lagi bisa melakukan refreshing dikala mahasiswa telah mancapai titik kebosanan. 

Selain itu, faktor sumber daya manusia (SDM) yang masih terbilang "kaget" dalam menghadapi pandemi ini memang menjadi salah satu faktor terkendalanya pelaksanaan instruksi pemerintah ini dengan baik. 

Akan tetapi, apa mau dikata. Mahasiswa, dosen, pemerintah, dan seluruh masyarakat Indonesia hanya bisa pasrah oleh keadaan. 

Untuk saat ini, semua elemen masyarakat dan pemerintah harus bersatu melawan COVID-19 ditanah air, semua harus bekerja sama dengan kompak, karena ini adalah pandemi global, pandemi yang dirasakan tidak hanya oleh masyarakat Indonesia saja, akan tetapi oleh masyarakat dunia. 
Semua peran diperlukan salah satunya adalah peran "kesadaran diri sendiri" ada baiknya kita semua harus dapat memaklumi semua kendala yang ada, baik dari sisi mahasiswa maupun pihak kampus dan dosen karena dengan saling memaklumi dan mentolerir kita dapat melewati pandemi ini dengan baik. 

Salah satu solusi yang bisa dijadikan pertimbangan adalah menyegerakan pemberian subsidi tersebut kepada mahasiswa, penggunaan aplikasi pembelajaran yang ringan dan dapat dijangkau oleh semua kalangan, dan jangan lupa mengadakan evaluasi terkait sistem pembelajaran yang bisa diadakan minimal dua minggu sekali untuk mengetahui kekurangan - kekurangan selama pembelajaran dan apa saja yang perlu ditingkatkan serta dipertahankan terkait pembelajaran tersebut. 

Keberhasilan penerapan sistem pembelajaran online ini tergantung kepada kita selalu pelaksana, mulai dari mahasiswa dan juga dosen. Semua harus saling bekerja sama untuk mewujudkan kenyamanan bersama. 

Semua kendala dan polemik dalam sistem belajar online yang terjadi selama pandemi COVID-19 ini agaknya harus mendapat perhatian dari semua pihak karena dapat dijadikan bahan evaluasi agar mencapai disiplin yang diharapkan oleh semuanya, agar bersama kita dapat memutus penyebaran Corona Virus Disease - 2019 (COVID-19) agar dapat menjalani kehidupan normal seperti sedia kala. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar