Sore ini, tepat nya pada pukul 17.00 kami memulai langkah kami dalam rangka menuntut ilmu dan keinginan menjadi seorang manusia sejati, manusia yang tidak hanya berguna bagi dirinya dan orang lain, namun juga manusia yang dapat memanusiakan orang lain. Matahari sudah bersembunyi diufuk barat, namun kami masih bertekad untuk melanjutkan perjalanan, dan baru saja kami keluar dari lingkungan Universitas Trunojoyo, ada hal yang mengusik hati dan pikiran saya, yaitu gerombolan teman – teman yang tidak mau jalan ke trotoar, namun lebih suka berjalan di aspal. Walaupun menurut saya pribadi itu melanggar hukum lalu lintas dan juga berbahaya, maka dari itu saya memutuskan untuk menegur teman – teman untuk berjalan ke trotoar saja.
Teguran pertama saya tidak digubris karena saya hanya berbicara dari belakang barisan, lalu saya mencoba untuk mendekati dan menegur secara perorangan, dan seperti yang saya duga, mereka mau untuk jalan ke trotoar, saya pun tersenyum puas dan bahagia. Namun, belum berselang 2 menit meeka kembali turun ke aspal, akhirnya saya berpikir, karena pasti ada alas an yang kuat, yang mendasari tindakan mereka, sama seperti alas an saya untuk memutuskan berjalan ke trotoar. Saya pun mulai masuk kebarisan tengah dan menemukan objek penelitian ANSOS saya yang bernama TAKI, saya mencoba memulai obrolan basa – basi kepada Taki dan respon atau tanggapan dari Taki sendiri ini seperti mendukung, akhirnya saya mulai mengumpulkan data lewat Taki ini, saya bertanya kepada Taki sebagai Sample dan Narasumber mengenai fenomena yang terjadi pada sore itu, kenapa sih teman – teman dan kamu sendiri gak mau jalan ke trotar, dan jawaban Taki ini agak tidak masuk akal pada awalnya, karena dia bilang tidak mau jalan di trotoar hanya kaarena dia tidak nyaman jalan di trotoar, malas naik turun, dan malas menghindari pohon yang tumbuh besar di trotoar.
Namun pada akhirnya saya sadar, bahwa kita tidak bisa menghakimi seseorang hanya karena kita atau argument kita merasa benar, tapi kita harus lebih peka kepada lingkungan sekitar dan selalu mencari alasan atau sebab terjadinya suatu fenomena atau kegiatan tersebut. Karena memang kebenaran itu sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah pendapat yang mendominasi sehigga di akui benar. Sampailah kami semua di perempatan jalan raya kamal, dan kami semua langsung naik ke dalam minibus yang sudah dicarikan kakak – kakak senior untuk memudahkan perjalanan kami, suara riuh kendaraan bercampur dengan lantunan merdu suara adzan menemani dalam setiap perjalanan kami, sesampainya kami dipelabuhan, saya belum menemukan suatu kejadian yang menarik perhatian saya, namun setelah kami semua hendak masuk ke kapal, terdapat banyak sekali antrian sepeda motor, mobil, pejalan kaki. Dan setelah kami masuk ke krumunan tersebut ada seorang pengendara motor, dia masih muda dan dia masuk kedalam area antri pejalan kaki. Hal ini membuat saya berpikir keras apa yang melatar belakangi mas ini untuk melakukan hal ini, karena ini sangat mengganggu kenyamanan saya dan pejalan kaki lainnya.
Kemudian saya mencoba menganalisa dan berbaik sangka dan menarik sebuah kesimpulan jika mungkin saja, mas ini memiliki urusan yang sangat mendesak atau terburu – buru sehingga melakukan hal tersebut. Saya tidak terlalu memusingkan fenomena tersebut karena dizaman sekarang melanggar dan mengambil hak orang itu seperti bukan menjadi hal yang baru apalagi tabu, sehingga diri ini telah terlatih untuk tidak heran kepada hal yang semacam itu. Pada pukul 18.05 kami semua naik keatas kapal karena kapalnya sudah dating dan kami semua segera masuk, berdesak – desakan dengan pengendara dan pejalanan kaki lain. Setelah kami sudah sampai di atas dan teman – teman duduk dikursi, saya dan Juan pun melaksanakan sholat maghrib karena memang sudah waktunya sholat maghrib dan kami pun segera mendirikan sholat. Setelah sholat kami segera bergabung duduk bersama yang lain.
Kami pun sampai di pelabuhan Tanjung Perak pada pukul 19.35 dan dipelabuhan itu, kami semua dipisah dan dibentuk kelompok – kelompok wawancara. Dan saya sangat terkejut mendengar nama saya yang disebut pertama dan saya adalah satu – satunya yang sendirian/tidak ada partner wawancara. Saya pun mencoba bersikap biasa saja saat mendengar keputusan kakak senior. Setelah pembagian kelompok selesai, kamipun menuju TP (Tanjungan Plaza) untuk mengumpulkan informasi dari beberapa narasumber yang di tentukan, dan beberapa narasumbernya adalah antara lain 1 satpam, 3 pemilik kios, 2 cleaning service, dan 3 pengunjung. Sesampainya kami di TP, teman – teman langsung meluncur dan berdiskusi mengenai strategi yang akan mereka jalankan untuk mendapatkan informasi sebanyak – banyaknya dan berkualitas, namun saya kini hanya sendiri dan berteman sepi, saya sangat menikmati kesendirian ini, karena satu hal yang saya petik dari ketiadaan seorang partner pada saat ini, yaitu bagaimana caranya saya bisa mandiri dan menyelesaikan, juga bersaing dengan mereka yang ditemani seorang pendamping.
Saya bersemangat, karena saya ingin membuktikan kepada semuanya jika saya bisa walaupun sendiri, bukan untuk dipuji, namun lebih ingin kepada motivasi bagi mereka suatu hari nanti ketika tertimpa kejadian seperti saya saat ini. Jujur saat saya pertama masuk kedalam gedung TP, saya merasa kebingungan karena memang baru pertama kali saya masuk kedalam sana, namun saya berusaha agar tidak terliha mencolok agar tidak dicurigai dan dapat mengumpulkan informasi penting sebanyak – banyaknya.
Dan orang yang bertama saya temui adalah mas Arian, beliau adalah seorang cleaning servis di TP ini, awalnya beliau tidak mau diwawancara dengan alasan takut dimarahin oleh sang atasan, namun setelah saya paksa akhirnya beliau mau diwawancara namun sambil melakukan pekerjaan beliau. Saya mulai bertanya hal – hal yang kurang penting dan bisa dibilang Cuma basa – basi, karena fokus saya bukanlah pada jawaban mengenai pertanyaan saya, karena pasti beliau menjawabnya dengan singkat, karena posisi beliau sedang dalam posisi buah simalakama, beliau mencoba menghargai saya dengan mau saya wawancara dan beliau sendiri juga takut pada atasannya. Maka dari itu, yang menjadi perhatian saya adalah respon tubuh, gesture, dan aura sekitar beliau yang mengindikasikan bahwa mas Arian ini seperti sedang dalam ancaman, terlihat dari bola mata beliau yang terkadang melirik kekanan dan kekiri sambil melanjutkan mengepel lantai namun dengan gerakan yang lebih cepat.
Mungkin yang membuat mas Arian merasa terancam adalah kehadiran saya yang mengganggu jam kerja beliau, dan beliau takut ketahuan oleh atasannya mengingat di gedung tersebut banyak di awasi oleh kamera CCTV. Kemudian saya memutuskan untuk tidak berlama – lama mewawancarai beliau karena saya takut, kehadiran saya membuat pekejaan beliau dalam bahaya, akhirya saya melanjutkan pejalanan dan tidak lama kemudian saya bertemu pak satpam, saa belum sempat bertanya namanya, baru saya memperkenalkan diri dan tujuan saya untuk mewawancarai beliau, namun beliau tidak mau dengan alasan beliau sedang bertugas, padahal jika dilihat beliau hanya berkeliling dan satpam disana juga cukup banyak, dan saya hanya minta waktu 2 menit, dan itupun saya menawarkan untuk beliau tetap berkeliling sambil saya wawancarai, namun tetap saja beliau bersikeras untuk melanjutkan tugas beliau.
Dan satu yang saya tangkap dari respon beliau adalah ada sesuatu yang membuat beliau sepeeti itu dan faktor itu sepertinya sama seperti yang menimpa Mas Arian, namun bedanya adalah respon beliau lebih tenang tidak seperti mas Arian yang terlihat sangat ketakutan dan canggung saat saya wawancara, entah perbedaan dari segi mental atau apa saya tidak tau, tapi satu yang pasti mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu takut ketahuan oleh bos mereka, saat mereka diwawancara dan dianggap melalaikan tugas.
Setelah itu saya melanjutkan perjalanan dan cukup lama saya berputar – putar karena tidak menemukan narasumber yang pas dan akhirnya saya mencoba mendekati mas cleaning service yang sedang berjalan dan akan mengepel lantai sepertinya, namun saya hentikan dan saya mulai memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud saya, namun lagi – lagi tanggapan mas cleaning service yang bernama mas Roni ini sama seperti yang lainnya yaitu enggan untuk saya wawancara dengan alasan sedang bekerja, namun setelah berada di area yang agak tertutup yaitu dibawah tangga, beliau bersedia untuk diwawancara namun dengan syarat tidak lama – lama.
Saya pun mulai melempar pertanyaan yang tidak terlalu penting yaitu bertanya mengenai gaji da nasal dari mas roni ini sendiri, juga mengenai dari mana mas Roni ini mendapat info lowongan pekerjaan. Selain saya bertanya mengenai hal tidak menarik tersebut saya menanyakan apa yang menjadi duka saat bekerja menjadi cleaning service, namun nampaknya mas Roni masih belum mau terbuka karena mungkin beliau takut keresahan beliau menjadi terekspose oleh orang luar dan bisa mengancam pekerjaannya, jadi beliau berkata yang menjadi keresahan beliau adalah kurangnya kerja sama tim antar pegawai cleaning service saja, bukan dari segi atasan atau peraturan yang terlalu ketat dari pihak perusahaan.
Setelah saya rasa cukup, saya pun melanjutkan perjalanan dan masih dalam dugaan yang sama, yaitu setiap pegawai disini ada dalam tekanan. Saat saya berjalan di Mall tersebut hamper semua pelanggan didominasi oleh kaum Tionghoa, pelanggan yang berasal dari Pribumi sendiri sangat minim, mungkin bisa dibilang 25% dan itu yang membeli kira – kira ada 15% dari 25% tersebut. Namun hal ini tidaklah menjadi fokus saya, karena saya masih sibuk mencari narasumber dan informasi sebanyak – banyaknya. Pada akhirnya saya memutuskan untuk keluar karena sudah berkeliling namun tidak menemukan narasumber yang pas, namun saat saya hendak ke pintu keluar saya bertemu dengan security dan saya mulai mendekati beliau dan memperkenalkan diri juga menyampaikan maksud saya, namun bukan tanggapan baik atau sambutan hangat yang saya dapayt, namun saya mendapat respon yang dingin dan sinis dari bapak security yang belum sempat saya tanyakan namanya tersebut, beliau menuturkan bahwa jika ingin melakukan penelitian, wawancara, atau sebagainya di Mall ini harus melakukan perizinan kepada pihak manajemen, dan saya pun akhirnya terkejut namun saya berusaha terlihat tenang dan berusaha tidak terlihat panik dan professional. Dengan nada agak menantang, saya pun menyatakan kesanggupan saya untuk melakukan perizinan kepada pihak manajemen, namun dengan dalih bahwa manajemen tutup karena ini sudah malam, padahal saat itu jam masih menunjukan pukul 20.10 dan rasanya tidak masuk akal jika manajemen sudah tutup pada saat itu, dan beliau langsung menyarankan saya untuk ke lantai 5 di ruang kepala security, dengan gesture dan tanggapan yang seolah – olah saya akan melaksanakan peringtah bapak security tersebut, saya pun merekam percakapan saya dengan bapak security tersebut, mulai dari perkenalan hingga kenapa saya tidak bisa melakukan wawancara di Mall tersebut.
Setelah dirasa cukup saya pun meninggalkan bapak tersebut dengan tenang dan sambil melihat – lihat keatas seolah – olah saya akan naik ke lantai 5 yang disarankan bapak tersebut, setelah itu saya mencoba mewawancarai bapak pemilik kios buah yang ada didalam, dengan nada leamh lembut saya bertanya “pak, boleh minta waktunya sebentar?” dengan nada dingin dan tanpa melakukan kontak mata kepada saya bapak itu menjawab “GAK !” saat itulah perasaan malu, marah, kesal, sedih, juga kecewa menjadi satu. Dan rasanya lebih seperti dilempari kotoran tepat ke wajah saya, tanpa berlama – lama saya pun meninggalkan bapak tersebut dan berencana untuk mencari pemilik kios yang ada di luar Mall saja.
Namun sebelum itu saya mencari narasumber dari kalangan pengunjung terlebih dahulu kaena saya belum mewawancarai 1 orang pengunjungpun. Di sebuah kursi di luar mall terlihat mas – mas yang sedang asik bermain handphone dan saya mencoba mendekati beliau dan mulai memperkenalkan diri, dan dugaan awal saya beliau akan segera pergi tanpa sepatah katapun atau akan dingin tanggapannya kepada saya, namun dugaan saya salah, beliau justru menyambut kedatangan saya dengan senyuman dan juga menjawab pertanyaan saya dengan nada yang menyenangkan hati, saya pun memulai bertanya banyak hal dari yang sekedar basa – basi hingga yang bersifat sosiologis, pertanyaan yang saya maksud yang bersifat sosiologis adalah bagaimana sikap dan sifat atau interaksi antar pengunjung disini, beliau menjawab seperti halnya di kota – kota besar lainnya yang mayoritas penduduknya adalah cuek, acuh tak acuh, dan bisa dibilang apatis. Namun hal itu menjadi fenomena yang lumrah menurut mas jimy ini, karena dikota – kota besar lain juga terjadi fenomena seperti ini. Saya juga bertanya kenapa mas Jimy lebih memilih ke TP untuk membeli sesuatu atau sekedar jalan – jalan, alasannya adalah karena faktor jarak yang relatif dekat dengan rumah beliau, harganya yang relatif murah, dan barangnya terhitung lengkap dan berkualitas, dan juga dari segi keindahan juga lumayan, namun yang paling menunjang adalah karena faktor jarak dan varian barang yang ditawarkan taergolong lengkap.
Dan saya mencoba berspekulasi bahwasannya, mereka semua memilih tempat ini dikarenakan mereka bisa mendapatkan barang yang berkualitas dengan harga yang relatif murah, juga tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka, namun dibalik kemakmuran dan kemegahan TP ada fakta yang sangat miris, karena ketimpangan sosial ini sangatlah mencolok dan respon masyarakat juga seperti apatis kepada mereka para pemilik kios kecil dan PKL di luar Mall, mereka semua lebih memilih membeli ke kios – kios didalam Mall yang KATANYA lebih bersih, higienis, dan brandid, walaupun harganya terpaut jauh lebih mahal dibanding membeli di para PKL dan kios – kios kecil diluar Mall. Saya mendapati salah satu pemilik kios kecil diluar Mall dan saya mencoba mewawancarai beliau, dan respon beliau juga bis dibilang sangat menyenangkan, beliau juga menjawab pertanyaan saya dengan baik meskipun dengan ciri khas orang tua jawa yang masih menggunakan bahasa jawa halus, namun beliau juga tetap mengerti betul apa yang saya tanyakan. Dan yang membuat saya teriris hatinya adalah saat mendengar curahan hati beliau mengenai penghasilan beliau yang hanya mendapat 10k/hari, beliau juga tidurnya di masjid dan terminal.
Kemudian saya melanjutkan mewawancarai pemilik kios yang lain di luar Mall, kali ini beliau adalah seorang ibu – ibu yang sangat mirip dengan ibu saya yang ada dirumah, saat saya bertanya dan beliau sudah mulai menjawab dan bercerita sedikit mengenai dirinya, sayapun seperti bercerita dan berbincang dengan ibu saya yang ada dirumah, beliau menceritakan bahwa disini jarang yang beli, dan jika pun ada itu yang paling banyak adalah dikalangan pegawai, saya menetaskan air mata saat mewawancarai ibu tersebut karena saya teringat kepada ibu saya yang kebetulan juga berdagang sama seperti ibu ini, saya juga sangat merasa prihatin kepada kondisi sosial di lingkungan TP ini, karena dibalik megahnya bangunan Mall yang berdiri kokoh terselip banyak sekali harapan para PKL dan penjualkecil untuk menyambung hidup dan mengadu nasib dari tanah rantau, yang berharap memperbaiki nasib namun kenyataannya adalah berbanding terbalik dengan harapan para PKL dan Pedagang – pedagang kecil.
Dapat disimpulkan jika Mall Tanjungan Plaza ini sebenarnya memiliki poin lebih mempengaruhi masyarakat, karena disinilah beberapa elemen masyarakat bercampur dan berinteraksi, mulai dari pegawai, pengusaha internal (pemilik kios dalam, pedagang dalam) dan pengusaha eksternal (PKL, Pedagang Kecil, Asongan) hingga aparatur negara seperti satpol PP. Namun sungguh disayangkan, sikap apatis telah tertanam dalam masyarakat kita, paham kapitalis dan mainset berniaga kita yang mendasarkan segala sesuatu dengan untung dan rugi membuat Mall ini tidak lebih sebagai tempat atau arena dari para “SAHABAT KAPITALIS YANG BERSIKAP APATIS”.
Sayapun melanjutkan perjalanan dan menemukan pasutri yang sedang berjalan – jalan, kemudian saya mulai memperkenalkan diri dan menyatakan tujuan saya untuk mewawancarai pasutri ini, merekapun bersedia dan mereka juga menjawab dengan baik dan menyambut saya dengan hangat, dan sekali lagi fokus saya bukan kepada jawaban apa yang mereka berikan, namun lebih kepada bagaimana reaksi mereka, dan mainset saya mengenai mereka semua berjiwa APATIS berubah seketika, karena sambutan hangat pasangan suami istri warga pribumi tersebut, dan saya mulai membuat analisa baru, sepertinya para pengunjung terbagi menjadi 2, yaitu menjadi pengunjung yang apatis dan peduli juga toleran kepada sesama.
Pengaruh budaya asing dan globalisasi adalah pengaruh utama para kaum apatis ini tercipta, karena mulai mereka mengenal gadget dan gaya hidup ke barat – baratan, mereka mulai menjadi seseorang yang Apatis dan Acuh terhadap lingkungan sekitar. Sebaliknya, para kaum Toleran dan Peduli ini menurut saya karena mereka memiliki jiwa sosial yang kuat dan pondasi pendidikan karakter yang kuat juga, entah itu dari pendidikan formal (sekolah), lingkungan, atau orang tua, yang jelas mereka semua memiliki modal atau poin lebih untuk menjadi manusia sejati di zaman MANUSIA DIGITAL ini.
Kemudian kami beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan menuju taman Bungkul, dan sela perjalanan saya melihat ke kanan dan ke kiri banyak sekali pasangan muda mudi, kelompok pemuda, dan komunitas yang bangga menonjolkan almamater mereka masing – masing, saya tidak terlalu menghiraukan fenomena tersebut karena didaerah asal saya di Jember juga banyak fenomena seperti itu, bahkan tidak jarang mereka terlibat konflik fisik antar personal atau bahkan komunitas. Yang menjadi perhatian saya adalah mengapa fenomena PENGKOTAK – KOTAK AN SOSIAL masih saja marak terjadi, bahkan mirisnya ini dalam lingkup pemuda yang seharusnya pemuda ini sebagai penerus bangsa yang dapat mengisi kemerdekaan Indonesia dengan hal yang bermanfaat, paling tidak dengan mempersatukan semua perbedaan menjadi sejalan dan selaras seperti semboyan “BHINEKA TUNGGAL IKA” dan “NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA” dalam satu landasan “PANCASILA”.
Setelah itu, sampailah kami semua di taman Bungkul pada pukul 21.30 dan saya mulai melakukan observasi lingkungan, dan yang pertama kali menarik perhatian saya adalah adanya komunitas TIK – TOK, mereka berjoget dan bersuka cita bersama – sama, dan yang sangat menarik perhatian saya adalah adanya Waria dalam komunitas tersebut, dan saya langsung berpikiran negatif kepada mereka, karena seperti yang kita tau, pelaku LGBT selain dilarang keras oleh agama, mereka juga melanggar kodrat mereka sebagai seorang yang sudah ditakdirkan seperti itu. Kemudian kami semua berkumpul dan duduk melingkar disalah satu titik di taman Bungkul ini untuk mendapatkan tugas selanjutnya, dan saat ini saya tidak sendirian namun ditemani kawan saya yang bernama EKA, dan kami semua mendapatkan tugas untuk mewawancarai 3 Komunitas, 3 Pengunjung taman, dan 2 Pedagang. Kamipun segera berangkat dan mencari narasumber yang dimaksud, belum juga menemukan Narasumber, kami malah menemukan wanita pingsan, dan anehnya tidak ada satu orang pun yang mau menolong wanita tersebut, disamping wanita tersebut hanya terlihat suaminya yang kebingungan sementara orang – orang disekelilingnya hanya melihat saja, bahkan ada juga yang masih bermain dengan ponselnya.
Kemudian kami mencoba menolong wanita tersebut dan kemudian datanglah bapak pedagang minuman yang menyarankan untuk membawa mbaknya tersebut ke posko, akhirnya kawan saya ini membantu membopong wanita tersebut bersama dengan suaminya, saya tidak berani ikut membopong karena posisinya beliau adalah wanita bersuami dan beliau juga memakai rok, jadi sangat tidak memungkinkan jika saya ikut membopong beliau. Kemudian karena sempat ter ulur jatah waktu kami untuk mencari informasi mengenai Taman Bungkul dan Penduduknya ini, kamipun segera bergegas untuk mencari narasumber, dan narasumber pertama kita adalah ibu Yati, seorang PKL yang sudah berjualan selama kurang lebih 10 tahun, beliau dari Lamongan dan beliau juga memiliki buah hati kelahiran 2001 namun sudah menempuh Semester 4 di salah satu Universitas Swasta yang ada dikota Lamongan, anaknya ini bisa kuliah berkat mendapat beasiswa prestasi dan hasil jualan brondong jagungnya. Betapa saya kagum dengan beliau, hanya dengan berjualan brondong jagung sudah bisa mengkuliahkan sang buah hatinya demi meraih cita – cita.
Kemudian kami berlanjut ke Nenek Sumiyati penjual kedelai dan kacang rebus, beliau sudah jualan sudah hampir 30 tahunan, dan ketika saya bertanya apa yang membuat nenek bertahan dan memilih untuk berjualan Kedelai dan Kacang Rebus, beliau menjawab, karena beliau sudah tua dan tidak memiliki keterampilan khusus, beliau hidup sebatang kara, semua saudaranya meninggal, suaminya pun demikian dan beliau juga tidak dikaruniai seorang anak, maka itulah yang semacam menjadi cambuk bagi beliau untuk terus dan tetap semangat menyambung nyawa walau sudah dalam usia senja, karena memang tidak ada lagi bahu untuk bersandar dan tangan yang mengusap air mata si nenek ketika air matanya berlinang dan menggenang.
Kamipun melanjutkan perjalanan dan menemukan komunitas musik, kamipun mulai bertanya tentang mengapa mereka memilih tempat ini untuk media inspirasi mereka, dan lagi – lagi faktor jarak adalah yang paling dominan, setelah itu baru faktor estetika atau keindahan dan kenyamanan taman itu sendiri, dan setelah itu saya mencari narasumber dari golongan pengunjung taman, dan dari ke-3 narasumber yang saya wawancarai semuanya menyatakan alasan yang seperti itu, namun ada satu pernyataan yang cukup menarik dari salah satu narasumber, yaitu mengenai kenyamanan diarea taman itu sendiri, salah satu narasumber yang bernama mas Ryan dan temannya mas Adi, dia mengatakan bahwa mereka nyaman ditaman Bungkul karena rata – rata pengunjung taman mematuhi rambu – rambu taman seperti dilarang merokok, walaupun masih ada yang melanggar namun itu tidaklah banyak, mungkin hanya 7% pengunjung saja, dan itulah poin lebih yang ada ditaman Bungkul.
Kemudian kami menemui komunitas PSHT atau biasa disebut TERJAL (Terate Jalanan), kami hanya menanyakan seputar kegiatan yang biasa dilakukan ketika bertemu ditaman itu apa dan apa tujuan komunitas TERJAL itu sendiri, mereka memberikan jawaban atas pertanyaan saya, bahwasannya komunitas mereka itu melakukan MEET UP atau ketemuan tidak lain adalah untuk mempererat tali silaturahmi antar WARGA PSHT dari seluruh Indonesia. Kemudian kami menjumpai komunitas yang bisa dibilang unik dan yang mengusik hati saya untuk bertanya mulai dari saya sampai ditaman ini, yaitu komunitas Tik-Tok, komunitas ini memiliki visi dan misi yang sama dengan komunitas lain, yaitu sebagai sarana silaturahmi antar anggota pecinta TIK-TOK dari berbagai daerah, mereka sering melakukan MEET UP, dan yang pada awalnya mainset saya mengenai komunitas ini buruk karena saya menganggapnya adalah Komunitas LGBT itu berubah drastis setelah saya mendengar salah satu pernyataan ketua komunitas TIK-TOK yang bernama BTS ini, mereka sering juga melakukan bakti sosial dan masyarakat, maka memang benar jika kita “TIDAK BOLEH MENILAI BUKU DARI SAMPULNYA.”
Setelah dianggap sudah cukup mendapat informasi dan waktunya juga sudah habis, maka kami berkumpul ke titik awal untuk mendengarkan materi mengenai perbedaan antara lingkungan di TP dan Taman Bungkul ini, dengan menahan kantuk kami mendegarkan dengan seksama materi yang diberikan. Setelah materi selesai, saya kira kami akan diberi waktu beristirahat, mengingat ini sudah pukul 23.30, ternyata kami masih harus melanjutkan perjalanan dan perjalanan tersebut ditempuh dengan jalan kaki, setelah kami sampai dipos kumpul yang selanjutnya, kak Raju memberikan sedikit himbauan, dan pembekalan sebelum kita melanjutkan perjalanan dan menjalankan tugas. Kak Raju menhimbau kepada kami agar kami selalu waspada dan berhati – hati, juga saling menjaga satu sama lain terutama untuk yang laki – laki agar menjaga yang perempuan.
Setelah himbauan selesai kemudian dibacakanlah lokasi yang akan kita tuju, lokasinya bernama Stasiun Wonokromo, nama itu terdengar familiar ditelinga saya dan saya seperti pernah mendengarnya, namun saya tidak tau persis dimana tempatnya, kemudian Kak Raju menjelaskan sekilas tentang Stasiun Wonokromo itu sendiri dan kemudian saya baru paham jika itu adalah tempat yang bisa dibilang cukup berbahaya, apalagi jika untuk seorang perempuan. Mulai dari situlah timbul rasa khawatir pada diri saya karena pasti saya akan dipasangkan dengan perempuan, karena sudah tidak mungkin lagi jika saya sendirian, karena saya sudah pernah melakukan tugas sendirian di TP.
Dan ketika pembacaan kelompok jantung saya berdebar – debar, dan berharap tidak mendapatkan partner yang lemah dan cengeng apalagi penakut, dan setelah dibacakan ternyata saya satu kelompok dengan Lina, maba dari Tangerang. Dan saya belum tau pasti dia seperti apa, namun saya berharap dia bisa saya ajak kerja sama. Aryo mendapat giliran pertama untuk pergi kelokasi dan saya melihat dari raut muka aryo seperti ada kekhawatiran pada diri aryo, dan kekhawatiran tersebut juga yang saya alami saat ini, karena ini adalah dunia bebas dan yang tanpa penjagaan kecuali penjagaan dari Tuhan yang maha esa dan dari diri kita sendiri.
Setelah nama kami dipanggil dan dipersilahkan untuk menuju kelokasi, kamipun segera pergi kelokasi bersama – sama, dan pada saat awal saya menuju kelokasi tersebut saya tenang – tenang saja karena saya menganggap Lina bukanlah wanita yang lemah, dia juga pernah mengikuti Pencak Silat Elang Putih di Tangerang dan mencapai tingkatan sabuk ke-2, jadi Lina juga saya anggap bisa menjaga dirinya walaupun tetap saya akan menjaga dia karena dia adalah tanggung jawab saya yang diberikan oleh kakak – kakak senior.
Sesampainya kami di Rel kereta api pertama dan hendak belok ke kanan Lina mulai menghela nafas, dan saya tidak terlalu menhiraukan karena saya anggap itu adalah helaan nafas biasa karena gugup atau masih grogi untuk menuju tempat seperti itu.
Semakin lama helaan nafas Lina semakin cepat dan lebih seperti ke orang yang terkena asma atau sesak nafas, dan mulai dari situlah saya bertanya kenapa dia seperti itu, saya bertanya apakah dia takut, namun dia menjawab tidak, mungkin karena dia tidak ingin menjadi beban pada misi kali ini, jadi dia tidak mengakui ketakutannya tersebut, lalu saya mencoba mengajaknya sholat, mengingat ini sudah pukul 01.30 dini hari dan kami belum melaksanakan sholat isya’, akhirnya kamipun memutuskan untuk sholat terlebih dahulu di mushola stasiun dan bapak satpam yang melihat kami seperti menaruh curiga kepada kami, karena memang untuk apa anak muda laki-laki dan perempuan malam – malam ditempat yang seperti itu, namun saya tidak terlalu menghiraukan pak satpam tersebut, mengingat kondisi Lina yang seperti ketakutan setengah mati dan helaan nafas yang semakin cepat setiap waktunya.
Setelah kami usai melaksanakan sholat isya’, sayapun bertanya kepada Lina apakah masih ingin melanjutkan perjalanan atau misinya ataukah hanya duduk – duduk saja dimushola sini sambil mengamati lingkungan sekitar, namun Lina memilih agar kami melanjutkan misi tersebut, karena masih penasaran dengan apa yang dimaksud oleh mas Raju ada hal positif yang bisa kita ambil di dalam tempat sekelas pelacuran ini. Karena mainset Lina tadi adalah tempat ini adalah tempat yang penuh dosa, sesat, dan penuh kegelapan, dan hal itulah yang membuat Lina ketakutan dan menciptakan sebuah helaan nafas yang semakin cepat setiap waktunya. Kemudian saya mencoba memberikan pengamatan sekilas saya mengenai tempat ini, dan akhirnya dia mulai mengerti tentang pernyataan mas Raju yang ada hal positif pada tempat itu.
Kamipun mulai menyusuri rel kereta api tersebut, dengan mengamati lingkungan sekitar, dan pada akhirnya kami memutuskan untuk duduk di salah satu rel kereta dan tetap mengawasi lingkungan sekitar, kami juga berbincang – bincang mengenai hasil pengamatan kami tentang situasi di Stasiun Wonokromo ini, setelah bertukar pendapat mengenai hasil pengamatan kami masing – masing, kemudian ada 3 orang pemuda yang menuju kearah kami, pada awalnya saya tidak menaruh curiga, namun Lina yang merasa khawatir dan cemas karena kedatangan pemuda tersebut, apalagi ke-3 pemuda tersebut dalam pengaruh alkohol, kami tau karena dari tadi kami sudah mengawasi kegiatan mereka. Dan ketika semakin dekat akhirnya saya mulai curiga dan kamipun meninggalkan tempat tersebut, namun mereka masih mengikuti kami dan beruntungnya pada saat itu ada pak satpam yang bertugas sehingga kami bisa sedikit mendekat ke pak satpam tersebut.
Kemudian ada bapak – bapak yang sedang menghitung uang dipinggiran stasiun, dan saya mulai mendekati bapak tersebut dengan maksud ingin menggali lebih dalam lagi informasi mengenai Lokasi ini, namun sungguh disayangkan, respon bapak ini malah seperti ketakutan dan seperti ada tekanan psikologis dari bapak tersebut yang sangat jelas terlihat dari gestur beliau saat saya hendak menanyakan beberapa hal kepada bapak tersebut. Saya sendiri tidak mengerti apa yang sudah terjadi disini, namun setelah saya berpikir dan berdiskusi dengan kawan saya, diduga bapak tersebut ketakutan karena menganggap saya ini adalah Intel atau polisi yang sedang menyamar, dan bapak tersebut tidak mau ikut campur mengenai hal apapun mengenai tempat ini, karena ketika beliau ikut campur maka akan menjadi buah simalakama untuk bapak tersebut.
Kemudian karena jam sudah menunjukan pukul 02.45 kamipun segera meninggalkan tempat tersebut dan sambil berjalan kami sambil berdiskusi, dan ditengah perjalanan kami dikagetkan dengan adanya adegan seperti itu di bawah pohon yang sangat gelap, dan seketika kami mengehntikan perbincangan kita, dan kita bukannya merasa jijik atau apa, akan tetapi kami merasa prihatin dan miris kepada tempat dan para pegawai disini, karena mereka menunggu dari tengah malam hingga dini hari hanya untuk pekerjaan yang seperti itu, dan mirisnya lagi ditengah pemberitaan dan argumen pemerintah mengenai Keamanan dan Kenyamanan juga Kemakmuran Rakyat adalah yang Utama yang sedang gencar di gembor – gemborkan, akan tetapi masih ada saja pekerja malam seperti ini yang mereka semua ini berawal dari himpitan ekonomi dan kurangnya keterampilan mereka sehingga mereka kesulitan mendapat pekerjaan sehingga mengambil jalan pintas seperti ini.
Sesampainya kami di pos yang dimaksud, kami hanya bertemu Aryo dan teman satu timnya, kami tidak menemukan kakak – kakak senior satupun, dan kami menunggu cukup lama, ketika kami menunggu itu ternyata aryo sedang kebelet dan akhirnya kamipun mencari toilet untuk aryo dan setelah aryo merasa puas, kamipun segera menemui kakak – kakak senior karena sudah dihimbau agar segera berkumpul untuk memaparkan hasil Analisa Sosial yang telah dilakukan di Stasiun Wonokromo ini. Setelah selesai acara tukar informasi dan pikiran kita langsung berlanjut ke pasar Waru dan mencari masjid untuk melaksanakan sholat subuh, pukul 05.00 kami sampai dipasar waru dan segera mencari masjid untuk sholat, karena waktunya sudah hampir habis, usai sholat dan beristirahat kami segera berkumpul untuk menjalankan tugas yang selanjutnya.
Kami mendapat tugas untuk mewawancarai pedagang, dan pembeli, dan dari sekian banyak hasil wawancara baik itu pedagang ataupun pembeli rata-rata jawaban yang paling dominan kenapa mereka berjualan/membeli di pasar waru ini adalah karena faktor jarak yang relatif dekat, namun yang menarik dari lingkungan pasar ini adalah sikap orang – orangnya yang saling menghargai dan tidak angkuh kepada pendatang seperti kami. Setelah itu kami melanjutkan ke terimnal Purabaya dan mendapat tugas untuk mewawancarai supir, kondiktur/kenek, pedagang asongan, dan pengamen. Setelah pembagian kelompok selesai dan saya ditemani oleh partner perempuan saya segera mencari narasumber dan narasumber pertama kali adalah ibuk penjual kopi yang sedang duduk berjualan didepan bus, kami menanyakan beliau tidur dimana dan berapa penghasilannya, dan beliau menjawab beliau tinggal ditempat yang ada diterminal, tempat itu disewakan dan biaya sewanya adalah 20k/hari, dan beliau juga menyatakan bahwa penghasilannya tidak banyak, namun cukuplah untuk kebutuhan sehari – hari.
Setelah itu kami mewawancarai pengamen yang mereka itu adalah satu keluarga kandung 2 perempuan sebagai kakak dari 1 adik laki – lakinya yang masih duduk dibangku kelas 4 SD, dan saya lihat kehidupan mereka juga tidak terlalu sulit, atau bahkan bisa dibilang berkecukupan, karena ayahnya sendiri supir supliyer mobil dan mereka saya lihat juga memegang ponsel bagus, dan adiknya juga lihai bermain Mobile Legend. Itu artinya sekarang mengamen bukan lagi sebuah pelarian seseorang dimana orang tersebut benar-benar membutuhkan uang, namun hanya sebagai pelarian dimana kala mereka malas bekerja, namun menginginkan hasil yang instan dan banyak.
Kemudian kami melanjutkan mewawancarai pak kondiktur/kenek dan sopir sekaligus, saya bertanya apa yang melatar belakangi mereka lebih memilih bekerja di bus?. Mereka semua menjawab karena keterbatasan biaya pada saat itu membuat beliau tidak bisa melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi dan juga keterbatasan keterampilan yang akhirnya mereka lebih memilih pekerjaan ini. Setelah itu kamipun berkumpul untuk makan dan setelah makan ada sesuatu yang membuat kami agak kesal, yaitu saat kita menjelang pulang wahyu membuat kesalahan yang sebenarnya itu bukan karena kecerobohan, namun memang karena faktor dia sebagai seorang manusia yang tempatnya salah juga lupa. Dia disuruh membeli masker, namun dia membelinya di Alfamart yang sebenarnya itu berlawanan dengan prinsip awal kita untuk tidak memperkaya orang kaya dan mencekik orang kecil/miskin.
Setelah kesalahan tersebut, kami semua dinyatakan gagal dalam Pradiklat ini, namun masih ada harapan untuk kami semua dan itu ada pada hari selasa ini keputusannya. Besar harapan saya untuk tetap bisa bergabung dengan UKM LPM SM ini, karena saya selain ingin mencari saudara, saya juga ingin mengenal diri saya sebagai seorang manusia. Setelah itu kami semua kembali ke Madura pada pukul 12.35 dan sampai di Madura sekitar pukul 14.15 karena saya dan Hilmy masih harus menunggu jemputan agar bisa kembali ke Madura.