Senin, 05 Mei 2025

Membangun Kesadaran tentang Persatuan dan Keadilan, Lanjut Gak Nih?



Sebagai warga negara Indonesia, kita sering kali dihadapkan pada pertanyaan tentang mengapa kita bersatu padahal kita memiliki latar belakang suku, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda. Pertanyaan ini sebenarnya sangat penting untuk kita jawab, karena jawaban atas pertanyaan ini dapat membantu kita memahami kompleksitas integrasi sosial di negara kita.

Sejarah kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan telah membentuk identitas nasional kita. Kita telah berjuang bersama-sama untuk mencapai kemerdekaan dan membangun negara yang kita cintai hari ini. Namun, perjalanan kita tidaklah mudah. Kita masih memiliki banyak tantangan dan masalah yang perlu kita atasi bersama-sama.

Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi adalah penindasan dan ketidakadilan. Kita masih memiliki banyak kasus penindasan dan ketidakadilan yang perlu kita atasi. Kita perlu membangun kesadaran dan empati untuk menghapus segala bentuk penindasan dan ketidakadilan di negara kita.

Membangun kesadaran dan empati bukanlah tugas yang mudah. Kita perlu memahami bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan perspektif yang berbeda-beda. Kita perlu mendengarkan suara-suara yang tidak pernah didengar sebelumnya. Kita perlu memahami bahwa keadilan dan kesetaraan adalah hak-hak dasar yang harus kita perjuangkan bersama-sama.

Namun, jika kita dapat membangun kesadaran dan empati, kita dapat menciptakan perubahan yang nyata. Kita dapat membangun masyarakat yang lebih adil dan setara. Kita dapat menciptakan masa depan yang lebih baik untuk generasi yang akan datang.

Jadi, mari kita bangun kesadaran dan empati bersama-sama. Mari kita mendengarkan suara-suara yang tidak pernah didengar sebelumnya. Mari kita memahami bahwa keadilan dan kesetaraan adalah hak-hak dasar yang harus kita perjuangkan bersama-sama.

Kita dapat melakukannya jika kita bersatu dan bekerja sama. Kita dapat menciptakan perubahan yang nyata jika kita memiliki kesadaran dan empati yang tinggi. Mari kita bangun masa depan yang lebih baik untuk Indonesia, dengan kesadaran dan empati yang tinggi.

Langkah-Langkah yang Dapat Kita Ambil

1. Mendengarkan Suara-Suara yang Tidak Pernah Didengar Sebelumnya: Kita perlu mendengarkan suara-suara dari masyarakat yang terpinggirkan dan tidak memiliki akses yang sama dengan kita.
2. Membangun Kesadaran dan Empati: Kita perlu memahami bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan perspektif yang berbeda-beda. Kita perlu membangun kesadaran dan empati untuk menghapus segala bentuk penindasan dan ketidakadilan.
3. Bekerja Sama untuk Menciptakan Perubahan: Kita dapat menciptakan perubahan yang nyata jika kita bekerja sama dan memiliki kesadaran dan empati yang tinggi.

Pertanyaan untuk Diri Sendiri

- Apa yang dapat saya lakukan untuk mempromosikan keadilan dan kesetaraan di negara saya?
- Bagaimana saya dapat membangun kesadaran dan empati untuk menghapus segala bentuk penindasan dan ketidakadilan?
- Apa yang dapat saya lakukan untuk menciptakan perubahan yang nyata di masyarakat?

Mari Kita Bangun Kesadaran dan Empati Bersama-Sama!

Kita dapat menciptakan masa depan yang lebih baik untuk Indonesia jika kita memiliki kesadaran dan empati yang tinggi. Mari kita bangun kesadaran dan empati bersama-sama, dan mari kita menciptakan perubahan yang nyata di masyarakat. Kita dapat melakukannya jika kita bersatu dan bekerja sama. Mari kita bangun masa depan yang lebih baik untuk Indonesia!

May Day dan Perjuangan Kelas Bawah Mencetak Kerja 8 Jam Sehari!

Hari Buruh: Sebuah Perjuangan untuk Keadilan Sosial

Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional. Namun, di balik perayaan ini, terdapat sejarah yang panjang dan kompleks tentang perjuangan buruh untuk mendapatkan hak-hak dan keadilan sosial. Dalam artikel ini, kita akan membahas sejarah Hari Buruh dan menganalisisnya dari aspek sosiologis.

Akar Perjuangan Buruh

Pada akhir abad ke-19, Amerika Serikat mengalami perubahan besar dalam dunia industri. Buruh bekerja selama 12 jam sehari, 6 hari seminggu, dengan upah yang rendah dan kondisi kerja yang buruk. Mereka tidak memiliki hak-hak yang sama dengan pengusaha, dan diperlakukan seperti mesin yang hanya berfungsi untuk menghasilkan keuntungan.

Namun, buruh tidak diam saja. Mereka mulai bersatu dan berjuang untuk mendapatkan hak-hak dan perbaikan kondisi kerja. Pada tanggal 1 Mei 1886, gerakan buruh di Amerika Serikat melakukan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari.

Konflik Kelas dan Gerakan Sosial

Perjuangan buruh ini menunjukkan adanya konflik kelas antara buruh dan pengusaha. Buruh berjuang untuk mendapatkan hak-hak dan perbaikan kondisi kerja, sementara pengusaha berusaha untuk mempertahankan keuntungan mereka. Namun, gerakan buruh ini juga menunjukkan bagaimana kelompok masyarakat dapat bersatu dan berjuang untuk mencapai tujuan bersama.

Gerakan sosial ini tidak hanya terbatas pada Amerika Serikat, tapi juga menyebar ke seluruh dunia. Buruh di berbagai negara mulai bersatu dan berjuang untuk mendapatkan hak-hak dan keadilan sosial.

Peran Negara dan Globalisasi

Negara memainkan peran penting dalam menentukan hak-hak buruh dan kondisi kerja. Pada awalnya, negara cenderung mendukung kepentingan pengusaha, namun seiring waktu, negara mulai mengakui hak-hak buruh dan membuat peraturan untuk melindungi mereka.

Globalisasi juga memainkan peran penting dalam isu buruh. Gerakan buruh di berbagai negara dapat bersatu dan berbagi pengalaman untuk mencapai tujuan bersama. Peringatan Hari Buruh Internasional menunjukkan bagaimana isu buruh dapat menjadi isu global.

Kesimpulan

Sejarah Hari Buruh menunjukkan bagaimana dinamika sosial dapat membentuk perjuangan buruh dan perubahan sosial. Dengan memahami aspek sosiologis dari sejarah Hari Buruh, kita dapat lebih memahami kompleksitas isu buruh dan pentingnya perjuangan untuk mencapai hak-hak dan keadilan sosial.

Mari kita peringati Hari Buruh dengan semangat perjuangan dan solidaritas untuk mencapai keadilan sosial bagi semua.

Minggu, 03 Oktober 2021

Rangkuman Pelatihan Jurnalistik

Straight News:
- Menginfokan 
- 5W+1H

Deeb News:
- MENJELASKAN
- lebih banyak kepada How dan Why
- Pemetaan Masalah
- Wawancara Mengakar/Mendalam

Investigasi:
- Menuduh/Menunjukan akar masalah/pelaku
- Lebih banyak membahas What dan Who
- menelusuri kronologi masalah
- melacak pelaku/kesalahan dan akibatnya.

Nb: Investigasi sudah pasti Deeb, tapi jika Deeb News belum tentu investigasi




Agenda setting: menentukan berita apa yang akan dipublish pada publik (tujuan pemberitaan).

Framing: pembingkaian fakta dalam berita, sehingga bisa menjadi seperti yang diinginkan oleh reporter atau jurnalis. Framing bisa dilakukan melalui:

- Angle
- Data
- Jurnalistik Foto
- Statemen
- Diksi
- Narasumber


Angle: Sudut pandang yang digunakan jurnalis dalam menulis berita agar terfokus.


Pengkajian Data Berita:

- Bisa cek sebelum liputan (Dalam Rared):
   - Searching data di google
   - Data Wawancara lalu (berita runing)
   - Dll

- Bisa setelah/recek saat editing:
   - Mengkonfirmasi melalui Narasumber
  - Mencari di Internet
  - Dll




Sumber Berita:

- Kredibilitas (Dapat dipercaya): Sesuai Porsi atau Bidang, misal menanyakan pertanyaan kepada Bendahara/yg berhubungan.

- Akurasi (Ketepatan): memiliki data/memiliki dasaran yg kuat kepada statemennya, misalkan saksi mata ditanyai mengenai kecelakaan.

- Verifikasi (pengecekan ulang): Bisa kepada narasumber lain yg relevan atau melalui Data di internet/tertulis.


Strata Narasumber:

- Narasumber Utama adalah pihak yang bersangkutan secara langsung, biasanya pelaku atau korban.

- Narasumber Pembantu: pihak oposan atau biasanya narasumber yang dijadikan pihak pengkonfirmasi (menanggapi) dari narasumber utama.

- Narasumber Figuran: biasanya dijadikan narasumber yang dimintai pendapat dan harapanya terkait narasumber2 diatasnya

Kamis, 30 April 2020

Solusi Baru, Masalah Baru

Solusi Baru, Masalah Baru. Ya itulah yang mungkin menjadi hal yang tepat guna menggambarkan segala situasi yang terjadi saat ini. Mulai dari kebijakan dan segala solusi masih belum bisa menyelesaikan segala persoalan yang ada. 

Pandemi Corona Virus Disease-2019 (COVID-19) telah mempengaruhi banyak sektor di Indonesia. Mulai dari perekonomian, sosial, agama, bahkan pendidikan. Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 ini, pemerintah Indonesia telah menginstruksikan untuk melakukan beberapa kegiatan didalam rumah, seperti bekerja dan sekolah, akan tetapi masih banyak yang belum mematuhi hal tersebut, sehingga penyebaran virus corona di tanah air masih berlangsung. Untuk itu pemerintah menyatakan perpanjangan status darurat pandemi corona ditanah air, yang tentu saja juga berpengaruh disektor yang lain seperti pendidikan. 

Pemerintah daerah telah mengeluarkan himbauan kepada seluruh sekolah untuk memperpanjang sistem pembelajaran onlinenya, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, termasuk Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
Universitas Trunojoyo Madura telah menerbitkan surat Edaran yang menyatakan bahwa perpanjangan sistem kuliah online guna pencegahan dan memutus rantai penyebaran virus corona. Surat yang terbit pada hari selasa tanggal 28 April kemarin diharapkan menjadi solusi yang tepat dalam partisipasi Universitas Trunojoyo Madura dalam pemutusan penyebaran mata rantai virus corona. Akan tetapi, layaknya pisau bermata dua, hal ini juga menimbulkan polemik baru dikalangan mahasiswa. Pasalnya, perpanjangan status siapsiaga dalam menghadapi pandemi Corona Virus Disease - 2019 (COVID-19) ini berarti semakin lama pula mahasiswa menjalankan sistem kuliah online ini. 
Tentunya kebijakan tersebut hadir atas anjuran dari pemerintah yang telah menetapkan bahwa segala aktifitas dilakukan dirumah. Pada bulan Maret 2020, Jokowi Dodo selaku presiden Indonesia telah menyampaikan keputusan untuk pencegahan penyebaran COVID-19 bahwa masyarakat mulai dari bekerja, ibadah, serta sekolah atau belajar dirumah saja. Akan tetapi, anjuran tersebut tidak semulus dan sesuai dengan harapan. 

Pasalnya, sistem belajar online ini memang sudah banyak menuai pro dan kontra dari beberapa pihak mulai awal kemunculannya karena dianggap kurang efektif. Alasan tersebut didasari oleh beberapa faktor seperti terkendala sinyal, kuota internet, android yang kurang mendukung, kurang memahami materi yang disampaikan, jadwal yang amburadul, dan aplikasi yang cenderung berat dan memakan banyak kuota. Belum lagi tekanan yang dirasakan oleh mahasiswa selama dirumah yang tentunya menganggur dan terlihat bermain hp (padahal kuliah). 

Dengan beberapa keluhan tersebut, pihak kampus mencoba meringankan beban mahasiswa dengan menerbitkan surat edaran yang menyatakan akan memberikan subsidi berupa pulsa senilai 150.000,- hal ini disambut baik oleh mahasiswa, karena tentu hal ini akan "sedikit" bisa membuat mahasiswa bernafas lega, karena mendapatkan bantuan tersebut. 

Belum lagi bantuan yang dijanjikan oleh pihak kampus berupa subsidi pulsa sebesar 150.000,- tak kunjung diterima oleh mahasiswa. Hal ini dikarenakan program ini terbilang baru di Universitas Trunojoyo Madura, seperti yang dikatakan oleh bapak Syarif selaku rektor di Universitas Trunojoyo Madura. Beliau menyatakan jika pihak kampus masih harus melakukan mekanisme dengan baik dan tepat karena melalui provider (operator) terlebih dahulu, agar tidak terjadi masalah nantinya, dan hal ini juga merupakan program pertama di Universitas Trunojoyo Madura ini. 

Seolah sudah lelah dengan keadaan, mahasiswa terus mengeluhkan perpanjangan tersebut karena dirasa akan menambah kesengsaraan mahasiswa. Tugas yang terus menerus menekan mahasiswa memang dapat membuat mahasiswa semakin diaduk dalam tekanan stres, ditambah saat ini mahasiswa tidak lagi bisa melakukan refreshing dikala mahasiswa telah mancapai titik kebosanan. 

Selain itu, faktor sumber daya manusia (SDM) yang masih terbilang "kaget" dalam menghadapi pandemi ini memang menjadi salah satu faktor terkendalanya pelaksanaan instruksi pemerintah ini dengan baik. 

Akan tetapi, apa mau dikata. Mahasiswa, dosen, pemerintah, dan seluruh masyarakat Indonesia hanya bisa pasrah oleh keadaan. 

Untuk saat ini, semua elemen masyarakat dan pemerintah harus bersatu melawan COVID-19 ditanah air, semua harus bekerja sama dengan kompak, karena ini adalah pandemi global, pandemi yang dirasakan tidak hanya oleh masyarakat Indonesia saja, akan tetapi oleh masyarakat dunia. 
Semua peran diperlukan salah satunya adalah peran "kesadaran diri sendiri" ada baiknya kita semua harus dapat memaklumi semua kendala yang ada, baik dari sisi mahasiswa maupun pihak kampus dan dosen karena dengan saling memaklumi dan mentolerir kita dapat melewati pandemi ini dengan baik. 

Salah satu solusi yang bisa dijadikan pertimbangan adalah menyegerakan pemberian subsidi tersebut kepada mahasiswa, penggunaan aplikasi pembelajaran yang ringan dan dapat dijangkau oleh semua kalangan, dan jangan lupa mengadakan evaluasi terkait sistem pembelajaran yang bisa diadakan minimal dua minggu sekali untuk mengetahui kekurangan - kekurangan selama pembelajaran dan apa saja yang perlu ditingkatkan serta dipertahankan terkait pembelajaran tersebut. 

Keberhasilan penerapan sistem pembelajaran online ini tergantung kepada kita selalu pelaksana, mulai dari mahasiswa dan juga dosen. Semua harus saling bekerja sama untuk mewujudkan kenyamanan bersama. 

Semua kendala dan polemik dalam sistem belajar online yang terjadi selama pandemi COVID-19 ini agaknya harus mendapat perhatian dari semua pihak karena dapat dijadikan bahan evaluasi agar mencapai disiplin yang diharapkan oleh semuanya, agar bersama kita dapat memutus penyebaran Corona Virus Disease - 2019 (COVID-19) agar dapat menjalani kehidupan normal seperti sedia kala. 

Kamis, 12 Desember 2019

Resensi Novel Love In The Time Of Colera

Judul : Love In The Time Of Cholera
Penerjemah : Ermelinda
Halaman : 649
Penerbit : Ecosystem
Penulis : Gabriel Garcia Marquez

       Love in the Time of Colre adalah salah satu roman terpopuler yang ditulis oleh pemenang nobel sastra asal Kolombia, Gabriel Garcia Marquez. Dalam Love in the Time of Cholera, kita di bawa pada suatu kisah hidup Florentino Ariza, lelaki yang rela berkorban demi cinta sejati dalam hidupnya, Fermina Daza.

        Diceritakan, Florentino Ariza adalah anak haram hasil hubungan ibunya, Transito Ariza dengan seorang pengusaha terkenal. Meski di awal hidup Florentino sang ayah membiayai hidupnya, ia tetap tidak diakui sebagai anak sah (ini pula yang meyebabkan Florentino tidak memakai nama akhir ayahnya, melainkan nama belakang keluarga ibunya), sehingga ia tinggal dalam kesederhanaan bersama Transito Ariza ketika ayahnya wafat. Beruntung, ia memiliki paman yang teramat menyayanginya seperti anak sendiri, Leon XII. Pada cerita-cerita berikutnya, Florentino tidak akan menjadi apa-apa jika bukan jasa dari sang paman ini.

           Hidup di desa yang terkena wabah kolera saat masa kolonial Spanyol, Florentino Ariza kecil adalah anak pemalu dan penyendiri. Maka, ketika atasan tempat ia bekerja sebagai kurir menmintanya untuk menyampaikan telegram ke rumah Fermina Daza, ia hanya bisa termenung menatapi mata indah milik Fermina Daza yang didambanya. Pada suatu kesempatan, akhirnya Florentino berani menyampaikan surat cintanya, yang kemudian bersambung menjadi sebuah jalinan cinta yang memabukkan yang hanya bisa diekspresikan lewat surat karena ayah Fermina Daza, Lorenzo Daza tidak akan meyetujui mereka.

            Ketika apada akhirnya cinta sembunyi-sembunyi yang dirajut Fermina dan Florentina terendus Lorenzo, ia segera memboyong putri semata wayangnya tersebut ke rumah kerabatnya yang jauh dan kembali belasan tahun kemudian. Selama itu, Florentino menunggu dengan sabar. Namun, alangkah mengejutkan bahwa ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Florentino harus menelan penolakan dari Fermina Daza yang sebenarnya juga masih mencintainya.

           Fermina menjalankan hidupnya dan menikah karena terpaksa dengan Dr. Juvenal Urbino yang berasal dari keluarga terpandang. Mereka menikah dalam ketidakharmonisan rumah tangga selama setengah abad hingga akhirnya kematian Dr. Juvenal Urbino memisahkan mereka. Yang membuat roman ini megah adalah kisah kesetiaan Florentino Ariza yang lagi-lagi bersedia menunggu selama setengah abad tersebut demi menjalankan hidup dengan wanita terkasihnya. Meski kali ia menunggu dengan kegetiran yang amat sangat dalam, dan ia bukanlah tipe yang benar-benar bersih dari pengkhianatan. Ia melanggar janjinya sendiri untuk menjaga keperjakaannya selama menunggu Fermina Daza dan bermain api cinta semu dengan banya wanita. Namun, kematian Dr. Juvenal Urbino akhirnya membawa berkah bagi dirinya dan ia berhasil menghabiskan sisa hidupnya dengan Fermina Daza.

          Dalam novel ini, latar kemiskinan dan penjajahan di kawasan Amerika Latin sangat kental terasa. Dengan lihai, Marquez meracik cerita para tokoh-tokohnya dengan berbagai jenis karakter, tidak ada tokoh yang benar-benar baik dan benar-benar jahat, semuanya persis seperti panggung kehidupan seperti pada novel Kejahatan dan Hukuman yang usai saya baca sebelumnya.

Resensi Kejahatan dan Hukuman

Judul : Kejahatan dan Hukuman
Penulis : Fyodor Dostoyevsky
ISBN : 978-979-461-988-9
Halaman : 448
Terbit : 2016
Penerbit :Yayasan Pustaka Obor Indonesia

          Kejahatan dan hukuman adalah novel karya Fyodor Dostoyevsky yang menggambarkan suasana Kepekaan perasaan, pemikiran, kepahitan hidup, intrik, cinta, konflik, kekeluargaan dan persahabatan ditampilkan dengan budaya Rusia.

         Novel ini menceritakan mengenai seorang Mahasiswa bernama Rodion Romanovich Raskolnikov (Rodya) dengan segala permasalahan sosial dan personalnya. Kemiskinan telah membungkam cita-cita, realita kehidupan, juga pikiran, dan terkadang mengguncang psikisnya.

          Hingga pada suatu massa ia bertemu dengan seorang wanita tua lintah darat bernama Alyona Ivanovna yang dinilai kerap memeras dengan memberikan bunga yang mencekik orang yang ingin menggadaikan barang-barang dan membuat orang tersebut semakin jatuh miskin.

          Pada suatu malam, Rodya yang berada dikedai minum mendengar percakapan gila dua orang pemuda yang mendiskusikan untuk membunuh Alyona Ivanovna yang notabennya adalah orang terkaya diantara kemiskinan penduduk didaerah itu, mereka juga mengatakan jika hartanya dibagikan cukup untuk menghidupi orang-orang miskin disekitarnya.

          Oleh sebab itulah kemudian ide gila terlintas dalam benak Rodya, ia berencana untuk menghabisi nyawa wanita tersebut dengan pertimbangan lebih baik membunuh satu orang kaya namun mensejahterakan orang banyak, daripada mempertahankan nyawa satu orang namun menyengsarakan orang lain.

          Pada saat proses pembunuhannya digambarkan jelas oleh sang penulis sehingga saya beranggapan bahwa novel ini akan sangat berbahaya apabila ada seoarng psikopat atau pembunuh bayaran yang membacanya. Dibandingkan novel The Cathcer In The Rye saya lebih setuju novel inilah yang justru harus disukai oleh para pembunuh karena penggambarang pembunuhan sadis itu digambarkan secara jelas. Apalagi dikisahkan bahwa pembunuhan tersebut nyaris tak terendus jejaknya.

             Berbulan-bulan Rodya menanggung beban karena pembunuhan perdananya tersebut. Apalagi dia menghabisi 2 orang sekaligus yaitu Alyona dan adiknya yang sama sekali tak direncanakan oleh Rodya sebelumnya.

            Peristiwa tersebut benar-benar mengguncang jiwa dan mentalnya, dia hanya bisa menyimpang barang jarahan dan kaos kaki yang masih memiliki bercak darah yang memang itu adalah kaos kaki satu-satunya.

           Dounia, adik perempuannya dan Pulcheria Aleksandrovna, ibunya yang tinggal di desa, ayahnya telah meninggal. Kedua perempuan itu datang ke Sankt-Peterburg karena mengikuti tunangan Dounia dan kearena mendengar kabar Rodya sakit.
           Rodya dan ibunya kerap berkirim surat, dalam suratnya, Pulcheria mengatakan bahwa Dounia akan menikah dengan seorang lelaki kaya dan terhormat. Hal itu tentu bisa membuat masalah-masalah finansial keluarga mereka selesai. Tapi Rodya tidak suka dengan alasan itu dan tidak suka dengan Luzhin, tunangan Dounia. Hal tersebut menambah kerumitan hidup Rodya. Di tengah konflik yang menimpanya bertubi-tubi, ia bertemu dengan seorang gadis bernama Sonia. Ia memiliki ketertarikan khusus pada gadis itu. Ia memandang gadis itu memiliki penderitaan yang sama dengannya, kemiskinan dan pahitnya hidup. Ia bersimpati kepada Sonia. Keterlibatan Sonia dalam masalah-masalah yang membelit Rodya, membuat Rodya jatuh hari pada Sonia. Mereka saling jatuh cinta dan Sonia mendampingi Rodya di Siberia.

           Keterampilan Fyodor dalam membungkus cerita ini dengan tidak ditampilkannya secara jelas antara perwatakan antagonis ataupun protagonis yang membuat novel ini seolah-olah memang benar adanya terjadi dan kita dibawa kepada peristiwa tersebut. Namun karena ini merupakan novel terjemahan jadi saya pribadi agak kesulitan untuk memahami makna dan alur ceritanya.

Resensi Novel Arus Balik

Judul Buku : Arus Balik
Penulis        : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit      : Hasta Mitra, 2002
Tebal           : 1192 hlm
ISBN            : 979-8659-04-x

         Arus balik merupakan rangkaian dari tetralogi Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, dan satu naskah yang masih hilang. Seperti karyanya yang lain, Pram kerap menyajikan sebuah cerita yang akan membawa pembaca ikut masuk kedalam cerita tersebut dengan pertimbangan estetika gaya bahasanya.

        Pramodya ananta toer merupakan salah satu sastrawan populer dan bisa dibilang Master Piece khususnya pada bidang Novel Sastra. Pram dengan keikutsertaannya dalam sebuah organisasi yang dianggap sebagai organisasi berbau komunis membuat dirinya hampir menghabiskan seumur hidupnya dalam tahanan di pulau Buru. Bahkan beberapa naskahnyapun dibakar.

         Novel ini menceritakan mengenai kemunduran zaman yang dialami oleh Nusantara, setelah keruntuhan kerajaan Majapahit.

         Kerajaan Majapahit yang menguasai hampir semua negara Indonesia hingga Singapura dan Malaysia yang hanya menjadi dongeng massa lalu pada rakyat zaman itu.

         Layaknya judul pada novelnya, Nusantara yang dulunya mercusuar dari selatan yang menghembuskan angin ke utara, kini harus menerima kenyataan bahwa arus telah berbalik kepada kemunduran yang menyakitkan.

          Wafatnya Adipatih Gajah Mada menjadi titik awal keruntuhan kerajaan Majapahit yang pada massa itu konflik dan perang saudara berkecamuk hingga pada puncaknya, kerajaan Majapahit benar-benar lenyap setelah kehadiran agama Islam ditanah Jawa.

           Kerajaan-kerajaan yang dahulunya dalam kekuasaan Majapahit akhirnya melepaskan diri, para keturunan Majapahit pun lebih memilih berkonsentrasi dengan kerajaan yang masih tersisa, termasuk Raja Tuban Wilwatika yang tidak ingin memperluas daerah kekuasaanya.  "Kedamaian rakyat jauh lebih berarti" ucapnya. Namun hidupnya akan terus berubah bukan hanya karena arus yang terus bergerak namun juga karena faktor eksternal (kedatangan portugis) dan faktor internal (munculnya demak),  namun ada faktor yang tak kalah penting yaitu kehadiran sosok pemuda yang bernama galeng yang muncul ditengah pergejolakan arus tersebut.

          Galeng adalah pemuda desa yang memiliki ketangkasan, kecerdasaan, dan keberanian dibandingkan pemuda lain. Kemampuan nya itu pun di tambah selama masih tinggal di desa, dia sering mendengar "ocehan" dari Rama Cluring yang katanya pernah merasakan kehebatan Majapahit. Kemampuan fisik disertai luasnya wawasan, menjadi modal penting Galeng untuk masuk sebagai pemeran dalam arus balik Nusantara saat itu. Hasilnya babak itu di mulai saat Galeng menghadiri kejuaraan di Tuban bersama kekasihnya Idayu. 

            Kemenengan Galeng sebagai juara dalam kejuaran itu menjadi titik awal pergulatan pemuda desa itu. Munculnya konflik seperti pengkhianatan, kehidupan feodal, munculnya para penjilat yang menambah konflik dalam kerajaan Tuban. Kedatangan Portugis menguasai Kerajaan Malaka menjadi babak awal Galeng sebagai duta Tuban dalam peperangan merebut Malaka, yang di pimpin oleh Adipati Unus (Laksamana Demak), walau akhirnya pasukan Nusantara kalah karena belum bersatunya pasukan kerajaan tersebut.

             Pram pun menyungguhkan, bagaimana rakyat Nusantara saat itu bisa berkerja sama dengan pasukan Portugal (Peranggi). Mulai dari Kerajaan Blambangan dan para pasukan pemberontak Ki Aji Benggala, membuat kita mengetahui cara para penjajah setahap demi setahap mendapat peluang untuk menaklukan Nusantara. Tapi disini, kemampuan Galeng sebagai tokoh Protagonis akhirnya muncul dan daya karismanya mengalahkan aura Raja Walwatika.

           Selain menyajikan pergejolakan kerajaan, kolonialisme, percintaan yang cukup mendominasi. Novel ini juga menyelipkan kisah perjuangan pernyebaran agama islam lewat tokoh firman, seorang musafir yang diutus oleh Sunan Bonang untuk menyebarkan agama Islam ditanah Jawa. Walau tak banyak, namun disinilah letak drama pergulatan seorang firman yang berperang melawan budaya Hindu-Budha yang masih kental di Nusantara, hingga hanya sedikit masyarakat pedalaman yang memeluk agama Islam.

            Pada akhirnya, tanah Jawa yang merupakan daerah yang tenang dan damai berubah menjadi arena pertempuran. Dan galeng yang nantinya berubah menjadi Wiragaleng akhirnya berperan sebagai sosok pahlawan yang akan mengusir Portugis dan akan mempersatukan Nusantara layaknya Mahapatih Gajah Mada.

           Namun seperti yang dikatakan pramodya, bahwa arus telah berbalik, jadi kita hanya bisa melawan dan menekan lebih keras arus tersebut agar Indonesia kembali menjadi Nusantara yang berjaya tak hanya pada massa lalunya, namun juga pada massa ini, dan massa depan nantinya.