Pena Maya ✒️
Selamat datang kakak - kakak senior, saya harap kakak menikmati catatan harian dan perjalanan saya. Spirit Mahasiswa!✒️📷🖋️
Senin, 05 Mei 2025
Membangun Kesadaran tentang Persatuan dan Keadilan, Lanjut Gak Nih?
May Day dan Perjuangan Kelas Bawah Mencetak Kerja 8 Jam Sehari!
Minggu, 03 Oktober 2021
Rangkuman Pelatihan Jurnalistik
Kamis, 30 April 2020
Solusi Baru, Masalah Baru
Kamis, 12 Desember 2019
Resensi Novel Love In The Time Of Colera
Judul : Love In The Time Of Cholera
Penerjemah : Ermelinda
Halaman : 649
Penerbit : Ecosystem
Penulis : Gabriel Garcia Marquez
Love in the Time of Colre adalah salah satu roman terpopuler yang ditulis oleh pemenang nobel sastra asal Kolombia, Gabriel Garcia Marquez. Dalam Love in the Time of Cholera, kita di bawa pada suatu kisah hidup Florentino Ariza, lelaki yang rela berkorban demi cinta sejati dalam hidupnya, Fermina Daza.
Diceritakan, Florentino Ariza adalah anak haram hasil hubungan ibunya, Transito Ariza dengan seorang pengusaha terkenal. Meski di awal hidup Florentino sang ayah membiayai hidupnya, ia tetap tidak diakui sebagai anak sah (ini pula yang meyebabkan Florentino tidak memakai nama akhir ayahnya, melainkan nama belakang keluarga ibunya), sehingga ia tinggal dalam kesederhanaan bersama Transito Ariza ketika ayahnya wafat. Beruntung, ia memiliki paman yang teramat menyayanginya seperti anak sendiri, Leon XII. Pada cerita-cerita berikutnya, Florentino tidak akan menjadi apa-apa jika bukan jasa dari sang paman ini.
Hidup di desa yang terkena wabah kolera saat masa kolonial Spanyol, Florentino Ariza kecil adalah anak pemalu dan penyendiri. Maka, ketika atasan tempat ia bekerja sebagai kurir menmintanya untuk menyampaikan telegram ke rumah Fermina Daza, ia hanya bisa termenung menatapi mata indah milik Fermina Daza yang didambanya. Pada suatu kesempatan, akhirnya Florentino berani menyampaikan surat cintanya, yang kemudian bersambung menjadi sebuah jalinan cinta yang memabukkan yang hanya bisa diekspresikan lewat surat karena ayah Fermina Daza, Lorenzo Daza tidak akan meyetujui mereka.
Ketika apada akhirnya cinta sembunyi-sembunyi yang dirajut Fermina dan Florentina terendus Lorenzo, ia segera memboyong putri semata wayangnya tersebut ke rumah kerabatnya yang jauh dan kembali belasan tahun kemudian. Selama itu, Florentino menunggu dengan sabar. Namun, alangkah mengejutkan bahwa ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Florentino harus menelan penolakan dari Fermina Daza yang sebenarnya juga masih mencintainya.
Fermina menjalankan hidupnya dan menikah karena terpaksa dengan Dr. Juvenal Urbino yang berasal dari keluarga terpandang. Mereka menikah dalam ketidakharmonisan rumah tangga selama setengah abad hingga akhirnya kematian Dr. Juvenal Urbino memisahkan mereka. Yang membuat roman ini megah adalah kisah kesetiaan Florentino Ariza yang lagi-lagi bersedia menunggu selama setengah abad tersebut demi menjalankan hidup dengan wanita terkasihnya. Meski kali ia menunggu dengan kegetiran yang amat sangat dalam, dan ia bukanlah tipe yang benar-benar bersih dari pengkhianatan. Ia melanggar janjinya sendiri untuk menjaga keperjakaannya selama menunggu Fermina Daza dan bermain api cinta semu dengan banya wanita. Namun, kematian Dr. Juvenal Urbino akhirnya membawa berkah bagi dirinya dan ia berhasil menghabiskan sisa hidupnya dengan Fermina Daza.
Dalam novel ini, latar kemiskinan dan penjajahan di kawasan Amerika Latin sangat kental terasa. Dengan lihai, Marquez meracik cerita para tokoh-tokohnya dengan berbagai jenis karakter, tidak ada tokoh yang benar-benar baik dan benar-benar jahat, semuanya persis seperti panggung kehidupan seperti pada novel Kejahatan dan Hukuman yang usai saya baca sebelumnya.
Resensi Kejahatan dan Hukuman
Judul : Kejahatan dan Hukuman
Penulis : Fyodor Dostoyevsky
ISBN : 978-979-461-988-9
Halaman : 448
Terbit : 2016
Penerbit :Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Kejahatan dan hukuman adalah novel karya Fyodor Dostoyevsky yang menggambarkan suasana Kepekaan perasaan, pemikiran, kepahitan hidup, intrik, cinta, konflik, kekeluargaan dan persahabatan ditampilkan dengan budaya Rusia.
Novel ini menceritakan mengenai seorang Mahasiswa bernama Rodion Romanovich Raskolnikov (Rodya) dengan segala permasalahan sosial dan personalnya. Kemiskinan telah membungkam cita-cita, realita kehidupan, juga pikiran, dan terkadang mengguncang psikisnya.
Hingga pada suatu massa ia bertemu dengan seorang wanita tua lintah darat bernama Alyona Ivanovna yang dinilai kerap memeras dengan memberikan bunga yang mencekik orang yang ingin menggadaikan barang-barang dan membuat orang tersebut semakin jatuh miskin.
Pada suatu malam, Rodya yang berada dikedai minum mendengar percakapan gila dua orang pemuda yang mendiskusikan untuk membunuh Alyona Ivanovna yang notabennya adalah orang terkaya diantara kemiskinan penduduk didaerah itu, mereka juga mengatakan jika hartanya dibagikan cukup untuk menghidupi orang-orang miskin disekitarnya.
Oleh sebab itulah kemudian ide gila terlintas dalam benak Rodya, ia berencana untuk menghabisi nyawa wanita tersebut dengan pertimbangan lebih baik membunuh satu orang kaya namun mensejahterakan orang banyak, daripada mempertahankan nyawa satu orang namun menyengsarakan orang lain.
Pada saat proses pembunuhannya digambarkan jelas oleh sang penulis sehingga saya beranggapan bahwa novel ini akan sangat berbahaya apabila ada seoarng psikopat atau pembunuh bayaran yang membacanya. Dibandingkan novel The Cathcer In The Rye saya lebih setuju novel inilah yang justru harus disukai oleh para pembunuh karena penggambarang pembunuhan sadis itu digambarkan secara jelas. Apalagi dikisahkan bahwa pembunuhan tersebut nyaris tak terendus jejaknya.
Berbulan-bulan Rodya menanggung beban karena pembunuhan perdananya tersebut. Apalagi dia menghabisi 2 orang sekaligus yaitu Alyona dan adiknya yang sama sekali tak direncanakan oleh Rodya sebelumnya.
Peristiwa tersebut benar-benar mengguncang jiwa dan mentalnya, dia hanya bisa menyimpang barang jarahan dan kaos kaki yang masih memiliki bercak darah yang memang itu adalah kaos kaki satu-satunya.
Dounia, adik perempuannya dan Pulcheria Aleksandrovna, ibunya yang tinggal di desa, ayahnya telah meninggal. Kedua perempuan itu datang ke Sankt-Peterburg karena mengikuti tunangan Dounia dan kearena mendengar kabar Rodya sakit.
Rodya dan ibunya kerap berkirim surat, dalam suratnya, Pulcheria mengatakan bahwa Dounia akan menikah dengan seorang lelaki kaya dan terhormat. Hal itu tentu bisa membuat masalah-masalah finansial keluarga mereka selesai. Tapi Rodya tidak suka dengan alasan itu dan tidak suka dengan Luzhin, tunangan Dounia. Hal tersebut menambah kerumitan hidup Rodya. Di tengah konflik yang menimpanya bertubi-tubi, ia bertemu dengan seorang gadis bernama Sonia. Ia memiliki ketertarikan khusus pada gadis itu. Ia memandang gadis itu memiliki penderitaan yang sama dengannya, kemiskinan dan pahitnya hidup. Ia bersimpati kepada Sonia. Keterlibatan Sonia dalam masalah-masalah yang membelit Rodya, membuat Rodya jatuh hari pada Sonia. Mereka saling jatuh cinta dan Sonia mendampingi Rodya di Siberia.
Keterampilan Fyodor dalam membungkus cerita ini dengan tidak ditampilkannya secara jelas antara perwatakan antagonis ataupun protagonis yang membuat novel ini seolah-olah memang benar adanya terjadi dan kita dibawa kepada peristiwa tersebut. Namun karena ini merupakan novel terjemahan jadi saya pribadi agak kesulitan untuk memahami makna dan alur ceritanya.
Resensi Novel Arus Balik
Judul Buku : Arus Balik
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra, 2002
Tebal : 1192 hlm
ISBN : 979-8659-04-x
Arus balik merupakan rangkaian dari tetralogi Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, dan satu naskah yang masih hilang. Seperti karyanya yang lain, Pram kerap menyajikan sebuah cerita yang akan membawa pembaca ikut masuk kedalam cerita tersebut dengan pertimbangan estetika gaya bahasanya.
Pramodya ananta toer merupakan salah satu sastrawan populer dan bisa dibilang Master Piece khususnya pada bidang Novel Sastra. Pram dengan keikutsertaannya dalam sebuah organisasi yang dianggap sebagai organisasi berbau komunis membuat dirinya hampir menghabiskan seumur hidupnya dalam tahanan di pulau Buru. Bahkan beberapa naskahnyapun dibakar.
Novel ini menceritakan mengenai kemunduran zaman yang dialami oleh Nusantara, setelah keruntuhan kerajaan Majapahit.
Kerajaan Majapahit yang menguasai hampir semua negara Indonesia hingga Singapura dan Malaysia yang hanya menjadi dongeng massa lalu pada rakyat zaman itu.
Layaknya judul pada novelnya, Nusantara yang dulunya mercusuar dari selatan yang menghembuskan angin ke utara, kini harus menerima kenyataan bahwa arus telah berbalik kepada kemunduran yang menyakitkan.
Wafatnya Adipatih Gajah Mada menjadi titik awal keruntuhan kerajaan Majapahit yang pada massa itu konflik dan perang saudara berkecamuk hingga pada puncaknya, kerajaan Majapahit benar-benar lenyap setelah kehadiran agama Islam ditanah Jawa.
Kerajaan-kerajaan yang dahulunya dalam kekuasaan Majapahit akhirnya melepaskan diri, para keturunan Majapahit pun lebih memilih berkonsentrasi dengan kerajaan yang masih tersisa, termasuk Raja Tuban Wilwatika yang tidak ingin memperluas daerah kekuasaanya. "Kedamaian rakyat jauh lebih berarti" ucapnya. Namun hidupnya akan terus berubah bukan hanya karena arus yang terus bergerak namun juga karena faktor eksternal (kedatangan portugis) dan faktor internal (munculnya demak), namun ada faktor yang tak kalah penting yaitu kehadiran sosok pemuda yang bernama galeng yang muncul ditengah pergejolakan arus tersebut.
Galeng adalah pemuda desa yang memiliki ketangkasan, kecerdasaan, dan keberanian dibandingkan pemuda lain. Kemampuan nya itu pun di tambah selama masih tinggal di desa, dia sering mendengar "ocehan" dari Rama Cluring yang katanya pernah merasakan kehebatan Majapahit. Kemampuan fisik disertai luasnya wawasan, menjadi modal penting Galeng untuk masuk sebagai pemeran dalam arus balik Nusantara saat itu. Hasilnya babak itu di mulai saat Galeng menghadiri kejuaraan di Tuban bersama kekasihnya Idayu.
Kemenengan Galeng sebagai juara dalam kejuaran itu menjadi titik awal pergulatan pemuda desa itu. Munculnya konflik seperti pengkhianatan, kehidupan feodal, munculnya para penjilat yang menambah konflik dalam kerajaan Tuban. Kedatangan Portugis menguasai Kerajaan Malaka menjadi babak awal Galeng sebagai duta Tuban dalam peperangan merebut Malaka, yang di pimpin oleh Adipati Unus (Laksamana Demak), walau akhirnya pasukan Nusantara kalah karena belum bersatunya pasukan kerajaan tersebut.
Pram pun menyungguhkan, bagaimana rakyat Nusantara saat itu bisa berkerja sama dengan pasukan Portugal (Peranggi). Mulai dari Kerajaan Blambangan dan para pasukan pemberontak Ki Aji Benggala, membuat kita mengetahui cara para penjajah setahap demi setahap mendapat peluang untuk menaklukan Nusantara. Tapi disini, kemampuan Galeng sebagai tokoh Protagonis akhirnya muncul dan daya karismanya mengalahkan aura Raja Walwatika.
Selain menyajikan pergejolakan kerajaan, kolonialisme, percintaan yang cukup mendominasi. Novel ini juga menyelipkan kisah perjuangan pernyebaran agama islam lewat tokoh firman, seorang musafir yang diutus oleh Sunan Bonang untuk menyebarkan agama Islam ditanah Jawa. Walau tak banyak, namun disinilah letak drama pergulatan seorang firman yang berperang melawan budaya Hindu-Budha yang masih kental di Nusantara, hingga hanya sedikit masyarakat pedalaman yang memeluk agama Islam.
Pada akhirnya, tanah Jawa yang merupakan daerah yang tenang dan damai berubah menjadi arena pertempuran. Dan galeng yang nantinya berubah menjadi Wiragaleng akhirnya berperan sebagai sosok pahlawan yang akan mengusir Portugis dan akan mempersatukan Nusantara layaknya Mahapatih Gajah Mada.
Namun seperti yang dikatakan pramodya, bahwa arus telah berbalik, jadi kita hanya bisa melawan dan menekan lebih keras arus tersebut agar Indonesia kembali menjadi Nusantara yang berjaya tak hanya pada massa lalunya, namun juga pada massa ini, dan massa depan nantinya.