Kamis, 12 Desember 2019

Resensi Novel Love In The Time Of Colera

Judul : Love In The Time Of Cholera
Penerjemah : Ermelinda
Halaman : 649
Penerbit : Ecosystem
Penulis : Gabriel Garcia Marquez

       Love in the Time of Colre adalah salah satu roman terpopuler yang ditulis oleh pemenang nobel sastra asal Kolombia, Gabriel Garcia Marquez. Dalam Love in the Time of Cholera, kita di bawa pada suatu kisah hidup Florentino Ariza, lelaki yang rela berkorban demi cinta sejati dalam hidupnya, Fermina Daza.

        Diceritakan, Florentino Ariza adalah anak haram hasil hubungan ibunya, Transito Ariza dengan seorang pengusaha terkenal. Meski di awal hidup Florentino sang ayah membiayai hidupnya, ia tetap tidak diakui sebagai anak sah (ini pula yang meyebabkan Florentino tidak memakai nama akhir ayahnya, melainkan nama belakang keluarga ibunya), sehingga ia tinggal dalam kesederhanaan bersama Transito Ariza ketika ayahnya wafat. Beruntung, ia memiliki paman yang teramat menyayanginya seperti anak sendiri, Leon XII. Pada cerita-cerita berikutnya, Florentino tidak akan menjadi apa-apa jika bukan jasa dari sang paman ini.

           Hidup di desa yang terkena wabah kolera saat masa kolonial Spanyol, Florentino Ariza kecil adalah anak pemalu dan penyendiri. Maka, ketika atasan tempat ia bekerja sebagai kurir menmintanya untuk menyampaikan telegram ke rumah Fermina Daza, ia hanya bisa termenung menatapi mata indah milik Fermina Daza yang didambanya. Pada suatu kesempatan, akhirnya Florentino berani menyampaikan surat cintanya, yang kemudian bersambung menjadi sebuah jalinan cinta yang memabukkan yang hanya bisa diekspresikan lewat surat karena ayah Fermina Daza, Lorenzo Daza tidak akan meyetujui mereka.

            Ketika apada akhirnya cinta sembunyi-sembunyi yang dirajut Fermina dan Florentina terendus Lorenzo, ia segera memboyong putri semata wayangnya tersebut ke rumah kerabatnya yang jauh dan kembali belasan tahun kemudian. Selama itu, Florentino menunggu dengan sabar. Namun, alangkah mengejutkan bahwa ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Florentino harus menelan penolakan dari Fermina Daza yang sebenarnya juga masih mencintainya.

           Fermina menjalankan hidupnya dan menikah karena terpaksa dengan Dr. Juvenal Urbino yang berasal dari keluarga terpandang. Mereka menikah dalam ketidakharmonisan rumah tangga selama setengah abad hingga akhirnya kematian Dr. Juvenal Urbino memisahkan mereka. Yang membuat roman ini megah adalah kisah kesetiaan Florentino Ariza yang lagi-lagi bersedia menunggu selama setengah abad tersebut demi menjalankan hidup dengan wanita terkasihnya. Meski kali ia menunggu dengan kegetiran yang amat sangat dalam, dan ia bukanlah tipe yang benar-benar bersih dari pengkhianatan. Ia melanggar janjinya sendiri untuk menjaga keperjakaannya selama menunggu Fermina Daza dan bermain api cinta semu dengan banya wanita. Namun, kematian Dr. Juvenal Urbino akhirnya membawa berkah bagi dirinya dan ia berhasil menghabiskan sisa hidupnya dengan Fermina Daza.

          Dalam novel ini, latar kemiskinan dan penjajahan di kawasan Amerika Latin sangat kental terasa. Dengan lihai, Marquez meracik cerita para tokoh-tokohnya dengan berbagai jenis karakter, tidak ada tokoh yang benar-benar baik dan benar-benar jahat, semuanya persis seperti panggung kehidupan seperti pada novel Kejahatan dan Hukuman yang usai saya baca sebelumnya.

Resensi Kejahatan dan Hukuman

Judul : Kejahatan dan Hukuman
Penulis : Fyodor Dostoyevsky
ISBN : 978-979-461-988-9
Halaman : 448
Terbit : 2016
Penerbit :Yayasan Pustaka Obor Indonesia

          Kejahatan dan hukuman adalah novel karya Fyodor Dostoyevsky yang menggambarkan suasana Kepekaan perasaan, pemikiran, kepahitan hidup, intrik, cinta, konflik, kekeluargaan dan persahabatan ditampilkan dengan budaya Rusia.

         Novel ini menceritakan mengenai seorang Mahasiswa bernama Rodion Romanovich Raskolnikov (Rodya) dengan segala permasalahan sosial dan personalnya. Kemiskinan telah membungkam cita-cita, realita kehidupan, juga pikiran, dan terkadang mengguncang psikisnya.

          Hingga pada suatu massa ia bertemu dengan seorang wanita tua lintah darat bernama Alyona Ivanovna yang dinilai kerap memeras dengan memberikan bunga yang mencekik orang yang ingin menggadaikan barang-barang dan membuat orang tersebut semakin jatuh miskin.

          Pada suatu malam, Rodya yang berada dikedai minum mendengar percakapan gila dua orang pemuda yang mendiskusikan untuk membunuh Alyona Ivanovna yang notabennya adalah orang terkaya diantara kemiskinan penduduk didaerah itu, mereka juga mengatakan jika hartanya dibagikan cukup untuk menghidupi orang-orang miskin disekitarnya.

          Oleh sebab itulah kemudian ide gila terlintas dalam benak Rodya, ia berencana untuk menghabisi nyawa wanita tersebut dengan pertimbangan lebih baik membunuh satu orang kaya namun mensejahterakan orang banyak, daripada mempertahankan nyawa satu orang namun menyengsarakan orang lain.

          Pada saat proses pembunuhannya digambarkan jelas oleh sang penulis sehingga saya beranggapan bahwa novel ini akan sangat berbahaya apabila ada seoarng psikopat atau pembunuh bayaran yang membacanya. Dibandingkan novel The Cathcer In The Rye saya lebih setuju novel inilah yang justru harus disukai oleh para pembunuh karena penggambarang pembunuhan sadis itu digambarkan secara jelas. Apalagi dikisahkan bahwa pembunuhan tersebut nyaris tak terendus jejaknya.

             Berbulan-bulan Rodya menanggung beban karena pembunuhan perdananya tersebut. Apalagi dia menghabisi 2 orang sekaligus yaitu Alyona dan adiknya yang sama sekali tak direncanakan oleh Rodya sebelumnya.

            Peristiwa tersebut benar-benar mengguncang jiwa dan mentalnya, dia hanya bisa menyimpang barang jarahan dan kaos kaki yang masih memiliki bercak darah yang memang itu adalah kaos kaki satu-satunya.

           Dounia, adik perempuannya dan Pulcheria Aleksandrovna, ibunya yang tinggal di desa, ayahnya telah meninggal. Kedua perempuan itu datang ke Sankt-Peterburg karena mengikuti tunangan Dounia dan kearena mendengar kabar Rodya sakit.
           Rodya dan ibunya kerap berkirim surat, dalam suratnya, Pulcheria mengatakan bahwa Dounia akan menikah dengan seorang lelaki kaya dan terhormat. Hal itu tentu bisa membuat masalah-masalah finansial keluarga mereka selesai. Tapi Rodya tidak suka dengan alasan itu dan tidak suka dengan Luzhin, tunangan Dounia. Hal tersebut menambah kerumitan hidup Rodya. Di tengah konflik yang menimpanya bertubi-tubi, ia bertemu dengan seorang gadis bernama Sonia. Ia memiliki ketertarikan khusus pada gadis itu. Ia memandang gadis itu memiliki penderitaan yang sama dengannya, kemiskinan dan pahitnya hidup. Ia bersimpati kepada Sonia. Keterlibatan Sonia dalam masalah-masalah yang membelit Rodya, membuat Rodya jatuh hari pada Sonia. Mereka saling jatuh cinta dan Sonia mendampingi Rodya di Siberia.

           Keterampilan Fyodor dalam membungkus cerita ini dengan tidak ditampilkannya secara jelas antara perwatakan antagonis ataupun protagonis yang membuat novel ini seolah-olah memang benar adanya terjadi dan kita dibawa kepada peristiwa tersebut. Namun karena ini merupakan novel terjemahan jadi saya pribadi agak kesulitan untuk memahami makna dan alur ceritanya.

Resensi Novel Arus Balik

Judul Buku : Arus Balik
Penulis        : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit      : Hasta Mitra, 2002
Tebal           : 1192 hlm
ISBN            : 979-8659-04-x

         Arus balik merupakan rangkaian dari tetralogi Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, dan satu naskah yang masih hilang. Seperti karyanya yang lain, Pram kerap menyajikan sebuah cerita yang akan membawa pembaca ikut masuk kedalam cerita tersebut dengan pertimbangan estetika gaya bahasanya.

        Pramodya ananta toer merupakan salah satu sastrawan populer dan bisa dibilang Master Piece khususnya pada bidang Novel Sastra. Pram dengan keikutsertaannya dalam sebuah organisasi yang dianggap sebagai organisasi berbau komunis membuat dirinya hampir menghabiskan seumur hidupnya dalam tahanan di pulau Buru. Bahkan beberapa naskahnyapun dibakar.

         Novel ini menceritakan mengenai kemunduran zaman yang dialami oleh Nusantara, setelah keruntuhan kerajaan Majapahit.

         Kerajaan Majapahit yang menguasai hampir semua negara Indonesia hingga Singapura dan Malaysia yang hanya menjadi dongeng massa lalu pada rakyat zaman itu.

         Layaknya judul pada novelnya, Nusantara yang dulunya mercusuar dari selatan yang menghembuskan angin ke utara, kini harus menerima kenyataan bahwa arus telah berbalik kepada kemunduran yang menyakitkan.

          Wafatnya Adipatih Gajah Mada menjadi titik awal keruntuhan kerajaan Majapahit yang pada massa itu konflik dan perang saudara berkecamuk hingga pada puncaknya, kerajaan Majapahit benar-benar lenyap setelah kehadiran agama Islam ditanah Jawa.

           Kerajaan-kerajaan yang dahulunya dalam kekuasaan Majapahit akhirnya melepaskan diri, para keturunan Majapahit pun lebih memilih berkonsentrasi dengan kerajaan yang masih tersisa, termasuk Raja Tuban Wilwatika yang tidak ingin memperluas daerah kekuasaanya.  "Kedamaian rakyat jauh lebih berarti" ucapnya. Namun hidupnya akan terus berubah bukan hanya karena arus yang terus bergerak namun juga karena faktor eksternal (kedatangan portugis) dan faktor internal (munculnya demak),  namun ada faktor yang tak kalah penting yaitu kehadiran sosok pemuda yang bernama galeng yang muncul ditengah pergejolakan arus tersebut.

          Galeng adalah pemuda desa yang memiliki ketangkasan, kecerdasaan, dan keberanian dibandingkan pemuda lain. Kemampuan nya itu pun di tambah selama masih tinggal di desa, dia sering mendengar "ocehan" dari Rama Cluring yang katanya pernah merasakan kehebatan Majapahit. Kemampuan fisik disertai luasnya wawasan, menjadi modal penting Galeng untuk masuk sebagai pemeran dalam arus balik Nusantara saat itu. Hasilnya babak itu di mulai saat Galeng menghadiri kejuaraan di Tuban bersama kekasihnya Idayu. 

            Kemenengan Galeng sebagai juara dalam kejuaran itu menjadi titik awal pergulatan pemuda desa itu. Munculnya konflik seperti pengkhianatan, kehidupan feodal, munculnya para penjilat yang menambah konflik dalam kerajaan Tuban. Kedatangan Portugis menguasai Kerajaan Malaka menjadi babak awal Galeng sebagai duta Tuban dalam peperangan merebut Malaka, yang di pimpin oleh Adipati Unus (Laksamana Demak), walau akhirnya pasukan Nusantara kalah karena belum bersatunya pasukan kerajaan tersebut.

             Pram pun menyungguhkan, bagaimana rakyat Nusantara saat itu bisa berkerja sama dengan pasukan Portugal (Peranggi). Mulai dari Kerajaan Blambangan dan para pasukan pemberontak Ki Aji Benggala, membuat kita mengetahui cara para penjajah setahap demi setahap mendapat peluang untuk menaklukan Nusantara. Tapi disini, kemampuan Galeng sebagai tokoh Protagonis akhirnya muncul dan daya karismanya mengalahkan aura Raja Walwatika.

           Selain menyajikan pergejolakan kerajaan, kolonialisme, percintaan yang cukup mendominasi. Novel ini juga menyelipkan kisah perjuangan pernyebaran agama islam lewat tokoh firman, seorang musafir yang diutus oleh Sunan Bonang untuk menyebarkan agama Islam ditanah Jawa. Walau tak banyak, namun disinilah letak drama pergulatan seorang firman yang berperang melawan budaya Hindu-Budha yang masih kental di Nusantara, hingga hanya sedikit masyarakat pedalaman yang memeluk agama Islam.

            Pada akhirnya, tanah Jawa yang merupakan daerah yang tenang dan damai berubah menjadi arena pertempuran. Dan galeng yang nantinya berubah menjadi Wiragaleng akhirnya berperan sebagai sosok pahlawan yang akan mengusir Portugis dan akan mempersatukan Nusantara layaknya Mahapatih Gajah Mada.

           Namun seperti yang dikatakan pramodya, bahwa arus telah berbalik, jadi kita hanya bisa melawan dan menekan lebih keras arus tersebut agar Indonesia kembali menjadi Nusantara yang berjaya tak hanya pada massa lalunya, namun juga pada massa ini, dan massa depan nantinya.

Rabu, 11 Desember 2019

Jangan panggil aku mahasiswa paman!

        Masuk kedalam Universitas dan menyandang gelar Mahasiswa merupakan dambaan bagi setiap remaja yang telah usai menyelesaikan studinya di massa putih abu-abu.

        Memang gelar mahasiswa terkesan keren, karena dalam stratifikasi sosial, Mahasiswa tergolong kalangan menengah keatas setelah pengusaha. Namun tak banyak yang menyadari, menyandang gelar mahasiswa juga memberikan tekanan untuk beberapa orang, karena mindset beberapa masyarakat yang masih terbuai oleh idealis kapitalis menuntut bahwa menyandang gelar mahasiswa adalah suatu jaminan gemilang dimasa mendatang.

          Padahal premis tersebut tidak bisa dipukul ratakan kepada setiap mahasiswa, karena kesuksesan seseorang tergantung kepada takdirnya yang telah ditetapkan oleh tuhan bagi mereka yang beriman, dan tergantung kepada usaha yang mereka lakukan bagi setiap mereka yang berpikir rasional.

          Fenomena tersebut menjadi unik karena dewasa ini tak senang untuk menyandang gelar mahasiswa, saya sendiripun masih lebih suka disebut siswa. Dimana belum ada tuntutan yang memberatkan pikiran yang sudah dikacaukan oleh kehidupan kampus apalagi oleh tuntutan Tri Darma Mahasiswa.

           Kita dituntut dapat mengatasi segala peemasalahan, tak hanya persoalan personal, juga persoalan masyarakat bahkan negara.

          "Kita adalah agen of change! Tak seharusnya kita sebagai mahasiswa hanya hidup dalam kamar kos dan mengikuti perkuliahan saja! Saat negara sedang sakit! Maka saatnya kita turun kejalan!" Orasi tersebut terdengar sangat idealis ditelinga kami para MABA yang masih kebingungan akan tugas kami sebagai mahasiswa.

            Mahasiswa baru adalah sasaran empuk bagi beberapa oknum, karena tidak sedikit banyak Maba yang melakukan demo massa bermodalkan ikut-ikutan tanpa memiliki dasar yang kuat atas tuntutannya, melainkan hanya untuk memenuhi eksistensi insta story belaka.

          Masih hangat dibenak kita tentang aksi turun kejalan mahasiswa yang menolak pengesahan RKUHP yang terkesan ngawur. Banyak mahasiswa yang memanfaatkan momen tersebut sebagai ajang adu caption melalui selembar kertas demo yang di junjung kesana kemari.

          Kerap aksi tersebut diwarnai dengan aksi konyol pendemo dari kalangan mahasiswa yang membawa kertas demo dan hanya menginginkan mencari spot foto yang bermutu.

         Menurut saya itu bukanlah aksi, tapi hanya keinginan dalam memenuhi eksistensi ketenaran.

         Aksi-aksi tersebut terkesan lucu dan ironi, karena yang sekarang mereka tuntut yang sekarang sedang duduk dikursi empuk DPR adalah orang-orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan sekarang ini. Mereka juga kerap berdemo hingga larut malam, sebut saja beberapa orang yang ada diatas sana adalah alumni mahasiswa aktivis yang kerap melakukan demonstrasi dan orasi yang berisi sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam peristiwa 1998.

         Dan bagaimana bisa kita yang sekarang sedang berteriak dalam rangka memperjuangkan keadilan bagi masyarakat, dan hanya melakukan aksi selama satu sampai 3 hari yakin bahwa idealisme kita tidak akan terbeli oleh iming-iming jabatan dan gaji buta. Mereka saja yang kerap melakukan aksi besar-besaran dikala itu.

           Aku benci disebut mahasiswa! Karena mahasiswa selalu membicarakan sesuatu yang terkesan idealis, bahkan terlalu utopis dan sukar sekali untuk diwujudkan. Mereka ingin merubah tatanan negara yang bobrok, yang dinilai telah melenceng kepada tujuan utama negara Indonesia. Namun mereka tak sadar telah menjadi bobrok dengan tidak mengikuti kegiatan perkuliahan dikelas dengan dalih membela masyarakat, melawan dan membantah dosen, namun terkadang menjilat pantat dosen dengan harapan mendapat Nilai A.

            Pada akhirnya, saat sudah semester tua barulah tersadar bahwa kita tidaklah mendapatkan apa-apa selama ada diperkuliahan, akhirnya mereka mencoba mengikuti beberapa organisasi dan terjebak dalam politik praktis dalam kampus yang tentu saja sama bobroknya dengan politik praktis di suatu negara. Merek saling senggol, menerkam, dan memakan saudaranya sendiri, siapa yang kuat itu yang menang. Hukum manusia tak lagi berlaku, Homo Homini Lupus pun terlihat pada massa ini. Semua idealisme mengenai peradilan hanya terkesan Omong Kosong, semua yang diperjuangkan sia-sia.

             Jika ditanya "mengapa ikut politik kampus?" Mereka pasti menjawab "membangun relasi dan mencari ilmu yang tidak didapat dalam perkuliahan" yang kemudian generasi inilah yang akan menggantikan generasi yang didemo oleh mahasiswa-mahasiswa selanjutnya.

          Sehingga semua hanya terkesan seperti siklus dialegtika yang kemudian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya mahasiswalah yang menjadi borok atas setiap kebobrokan negara.

Maka dari itu, panggil saja aku siswa kampus paman.

Gak singkron

         Hay guys! Kali ini gue mo ngebahas tentang sistem pembelajaran di negara kita. Haha... Agak kejauhan keknya sih, tapi ya gitulah,

         Menurut kalian udah sesuai belum sih sistem yang dah diterapin sama pemerintah tentang sistem pendidikan dinegara kita buat kita?

         Misal aja nih tentang program full day dan zonasi yang sempat viral dan jadi ladang cari makan beberapa siaran tv yang nyari dan nggoreng fenomena itu. Hmm.... gimana menurut lu pada?

          Pasti bingung, haha... Jujur ini tulisan gue yang paling kagak jelas, bahasanya aneh, campuran, dan terkesan kek gak relevan sama topik yang dibahas.

          Oke deh balik ke topik. Kita jan terlalu jauh ngebahas tentang negara, kita bahas tentang hal kecil dulu deh. Misal aja nih tentang guru yang gak konsisten ama muridnya.

          Guru-guru bilang ke muridnya kalo nilai tuh kagak penting, yang penting kita tuh paham sama teorinya, dan mereka katanya lebih menghargai nilai jelek tapi jujur ketimbang nilai bagus hasil nyontek. Hmm...

           Tapi premis tersebut berbanding terbalik dengan semua realita yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan negara Indonesia, dimana semua murid merasa terancam apabila mendapat nilai jelek karena merasa takut tidak naik kelas, atau seorang mahasiswa yang hanya iya-iya saja dan terkesan menjilat juga mencium pantat dosen dengan harapan mendapat nilai cumlaude, padahal sudah bukan rahasia lagi jika mahasiswa dituntut kritis dan wajar bila skeptis, tapi realitanya?

           Semua idealisme itu terkesan terbeli oleh kepahitan realita yang menyayat-nyayat keadaan dan juga mendoktrin semua pikiran masyarakat agar menyalahkan sistem pemerintah yang dinilai salah. Padahal tidak semuanya kesalahan terletak pada yang diatas.

           Mungkin melalui goresan maya kecil ini bisa merubah keadaan walau sedikit atau setidaknya memberikan penjelasan juga membuka pemikiran anda-anda sekalian.

Salam literasi :'v

Selasa, 10 Desember 2019

Fastabiqul Khoirot, ghoiri Fastabiqul Haq

          "Sejak kapan sih ada takaran baik dan buruk?"

          Pertanyaan yang terdengar receh namun sulit untuk menjawabnya, dan ketika ada yang bisa menjawab pasti akan terus terbantah dan terjebak dalam dunia Dialegtika yang abadi.

           Akan banyak teori yang bermunculan bila membahas fenomena tersebut, namun anehnya kelahiran 1 teori akan melahirkan 10 bantahan terhadap teori tersebut, selalu mendebatkan hal itu yang terkesan kurang kerjaan,

    hahaha... Gak, cuma becanda... Sans..sans...

           Meskipun banyak teori yang terbantahkan namun ada satu teori yang menurut saya banyak di anut oleh banyak orang yaitu tentang teori kontrak sosial, teori ini cukup banyak disetujui oleh banyak masyarakat karena sepertinya memang teori inilah yang menurut saya paling rasional dan masuk akal.

          Teori kontrak sosial merupakan sebuah perjanjian yang mencakup hukum, norma, etika, dan lain sebagainya, yang disetujui oleh kelompok atau komunitas tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa memang tidak ada takaran yang pas mengenai fenomena ini. Namun melalui teori ini, kita dapat memahami bahwa sejatinya takaran etika itu memang tidak bisa di generalisasikan, karena semua norma atau klasifikasi baik buruk itu hanya berlaku pada komunitas-komunitas yang telah membuat norma dan batasan etikanya masing-masing.

             Jadi kita sebenarnya tak perlu memusingkan mengenai nilai baik dan buruk, indah dan jelek, atau berlomba dalam kebenaran. Karena itu semua kembali pada perspektif dan individu masing-masing.

             Tuhan saja tak memerintahkan kita untuk menjadi yang benar, karena gelar maha benar hanya milik tuhan. Misalkan dalam islam Allah SWT hanya berfirman Fastabiqhul khoirot bukannya Fastabiqul haq, karena kita hidup bukan untuk menjadi benar dan berlomba mencari kebenaran, namun memerintahkan kita berlomba dalam kebaikan.

Jadi mulai sekarang jangan saling menghakimi ya...

Filsafat Dasar

Tidak ada pengertian yang pakem mengenai filsafat sebenarnya, karena kata Muhammad Hatta
"kita tidak perlu mengetahui apa itu filsafat untuk brlajar filsafat. Namun kita dapat memaknai sendiri apa itu filsafat setelah kita belajar filsafat."

Karena memang, semakin kita mengenal filsafat maka semakin kita pusing dibuatnya. Karena ada premis yang cukup menarik dari seorang dosen "kamu belum belajar filsafat jika kamu belum bingung".

Sontak pernyataan tersebut membuat saya bertanya-tanya, mengapa bisa demikian? Bukannya tujuan kita belajar itu supaya tidak bingung atau paham ya? Aneh....

Jika ditelisik dari segi bahasa, Filsafat memiliki 2 kata yaitu Filo (cinta) dan Sofi (kebijaksanaan).

Mungkin pernyataan bahwa nama adalah sebuah doa sangat pas bila dikaitkan dengan arti filsafat tersebut, karena mungkin dulu penamaan filsafat bertujuan agar semua filsuf maupun orang yang belajar filsafat dapat memiliki rasa cinta dan kebijaksanaan yang tinggi kepada semua persoalan.

Secara teori, dasar filsafat dibagi menjadi tiga :

1. Ontologi (wujud/hakikat) = adalah tentang bagaimana wujud atau objek dari filsafat tersebut.

2. Epistimologi (sumber ilmu pengetahuan) = adalah tentang bagaimana kita dapat mengetahui fungsi dari filsafat ilmu tersebut.

3. Aksiologi (penerapan) = adalah tentang bagaimana penerapan filsafat ilmu itu digunakan.

Misalkan ketiga unsur ini kita analogikan kepada sebuah gelas, kira-kira hasilnya akan seperti ini.
Gelas akan berperan sebagai ontologi (wujud benda), dan proses pemikiran bagaimana kita dapat mengetahui fungsi gelas tersebut adalah Epistimologi (sumber ilmu pengetahuan), dan kita tahu bahwa fungsi gelas itu ternyata sebagai tempat minuman itu adalah aksiologi (penerapan).

Adapun ciri-ciri yang dimiliki filsafat adalah :
1. Radikal (mengakar/tuntas)
    Sudah menjadi hal yang maklum dalam dunia para filsuf, bahwasannya dalam memikirkan suatu masalah mereka harus terus dituntut berpikir secara radikal atau berpikir hingga kedasar-dasarnya atau mengakar.

2. Universal (umum)
    Filsafat harus memiliki paham yang objektif, bukannya subjektif, karena sejatinya filsafat itu haruslah bisa diterima oleh masyarakat luas. Meskipun sebenarnya ada aliran filsafat yang seolah memiliki paham dogmatis, namun kebanyakan itu terletak pada aliran-aliran filsafat kuno seperti filsafat naturalisme.

3. Konseptual (terkonsep)

4. Koheren & Konsisten (tetap dan saling berhubungan)

5. Sistematis (terstruktur)

6. Komperhensif (menyeluruh)

7. Bebas (tidak subjektif atau terikat)

8. Bertanggung jawab (dapat dipertanggung jawabkan)

9. Rasional & logis
    Bukan filsafat namanya jika belum rasional (masuk akal) dan logis (dapat dikonfirmasi oleh panca indra).