Selasa, 26 November 2019

Baru Keluar Goa

        "Ahoy umat manusia!" Saya adalah seseorang yang baru saja keluar dari goa karena bertapa selama 50 tahun dalam rangka pembersihan dosa. Saya membawa misi untuk mengajarkan apa yang bisa kalian lakukan dalam rangka peleburan dosa.

        Saya ingin menuntun kalian, para insan untuk menjadi sejatinya insan, hingga kalian menyadari apa yang dimaksud seorang insan yang sebenarnya

          Mungkin kalian sekarang masih dalam belantara kesesatan yang nyata, namun saya disini berperan sebagai lentera yang menerangi setiap jiwa-jiwa yang mungkar.

   Sayapun berjalan hingga menemukan sebuah desa yang dibalut dalam keramaian.

   Tentu saja saya langsung melontarkan fatwah

         "Wahai penduduk desa! Marilah kita sama² bermunajat kepada hyang widji, janganlah kalian terlena pada sesuatu yang fana dan sementara, sejatinya hidup adalah kembali kepadanya, bukan terlena atas setiap cobaan yang diberikan olehnya"

           *Prok! Bogem mentah tiba-tiba mendarat di pipi sebelah kanan ku hingga membuat saya tersungkur. "Kenapa anda memukul saya?!" Raungku sambil meringis menahan sakit. Dia hanya tersenyum mendengar umpatanku. "Kenapa kau tersenyum?!" Gusarku.

          Kemudian ia menarik kerah bajuku dan membangunkanku. Kemudian membersihkan debu yang menempel di badan dan pakaian. Kemudian ia pergi dengan senyum manis liciknya.

         Lalu hati ini bergumam sinis "apa dia sudah gila? Atau dia seorang psikopat?!" Saya masih dirundung kebingungan yang amat mendalam.

         Akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa wilayah ini mungkin tidak cocok untuk dakwah² saya. Kemudian saya berlanjut ke desa selanjutnya.

Lalu tiba-tiba *Jedug! Bola berukuran kepala manusia menghantam tempurung kepalaku. "Aduh! Apa lagi ini gusti.....?!" Cibir hati ini.

          Tak lama seorang anak datang dengan menertawakanku dan mengambil bola tersebut. Saat bocah itu berbalik saya menarik pakaiannya dan hendak menanyakan mengapa dia menertawakan saya? Namun ia melempar bola itu kewajah dan mengenai mata kanan saya hingga saya tertunduk menahan sakit.

           "Gusti.... Mengapa dunia ini begitu aneh?!" Gundahku merengek kepada sang hyang widji. Kemudian akhirnya saya mengambil sebuah belatih dan menghunuskannya kepada anak itu. Sontak itu membuat teman anak itu berteriak dan menarik perhatian orang-orang dewasa.

         Orang-orang ini pun melihat kejadian itu dan dengan tatapan kejamnya mereka berlari menghampiri saya dengan membawa senjatanya masing².

        "Kejar dia!" "Bunuh orang itu!" Teriakan itulah yang membuat gentar jiwa dan ragaku, kaki inipun seolah memiliki kehendak sendiri dan berlari tanpa perintah. Saya berlari sekencang mungkin hingga akhirnya saya terpojok karena mendapati jalan buntu.

        Merekapun mengepung dan berencana membunuh saya, "Oh gusti... Bantulah hambamu yang mencoba membawa insan yang sesat ini kedalam karuniamu gusti..." Hati ini tak ada hentinya bermunajat, dan meminta pertolongan, hingga pada akhirnya mereka menyerangku dan aku membela diri.

        "Hiaaaa.....!!" Jleb! Sring! Jris! Jruess! Jreett!

         Tak terasa semua massa itu terkapar dan saya tetap dalam posisi kuda² bertahan, itu adalah pembunuhan masal pertama saya, bola mata ini rasanya ingin melompat dari kantungnya melihat mayat² itu. Nafas terengah-engah dan dengan perasaan bersalah yang menyelimuti jiwa.

        Saya bersimpuh diantara puluhan mayat, dan dengan gemetar memandang belatih dan kedua tangan yang bermandikan darah yang saya anggap pendosa.

         Kemudian terbesit dalam nurani, "siapa yang sebenarnya pendosa? Aku? Atau para mayat ini?!"

        "Aku mungkin bukan tidak sesat, namun aku adalah pendosa, aku adalah manusia yang tak pantas disebut seorang insan, aku adalah seorang durjana yang tak tau hinanya"

"Huaaa......!"

         Sayapun berniat mengakhiri hidup dengan belatih yang sama, namun masih ada gejolak dalam nurani bahwa dosa orang yang mengakhiri hidupnya adalah dineraka selama-lamanya. Akhirnya diri inipun berniat untuk bertapa dalam goa 100 tahun mungkin, dalam rangka penyucian dosa ini.

    Jlek! Jlek! Jlek! Langkah kaki ini mengantar saya kedalam goa dan saya mulai bersila diatas batu pensucian.

           Jresss! Tanpa pikir panjang, belatih inipun menoyak daging, darah pun menodai batu suci ini hingga akhirnya saya sudah telah terputus pada hal duniawi dan menunggu apakah nanti saya bisa terlahir kembali.
  

Kamis, 21 November 2019

Shit!

      "Kriuukkkk!" Bunyi perutku meraung memohon mulut untuk membantu menyuapkan makanan padanya. Entah apa yang merasukiku, tanpa ada yang menyuruh sayapun mencari sumber pengenyagan yang bisa memuaskan perut ini.

       Sebenarnya awalan itu tidak ada kaitannya dengan kejadian yang ingin saya tulis ini, namun itu hanyalah secuil curahan hati saya mengenai kondisi yang selalu saya alami di pagi hari. Hahaha.....

                  Oke kita mulai saja ya...

       Ini adalah kisah seorang insan, anak manusia yang menapaki jejak kehidupan, ia lahir kedunia dari keluarga yang tidak miskin, kurang kaya, tapi sederhana. Ia piawai dalam beberapa hal, bisa dibilang multi talent, katanya...

        Mulai dari mencaci, menghina, menggurui, dan menghakimi orang lain itulah keahlian diri ini Haha.... Mungkin memang terkesan jelek, namun sebenarnya tidaklah demikian. Karena sejujurnya diri ini jauh lebih buruk dari pada itu Hahaha.... Buruk, bahkan saya merasa seakan-akan semua keburukan makhluk di dunia ada dalam diri ini. Dan yang jauh lebih buruk dari pada itu adalah diri ini tidak menyadari bahwasannya orang² disekitar merasa jijik, benci, dan terganggu dengan sifat diri ini.

          "Tak tau diri!" Itulah mungkin julukan yang pas untuk diri ini. Karena maskipun mereka sudah menyalakan kode keras bahwasannya mereka terganggu atas kehadiran diri ini. Namun diri ini serasa telah menutup mata, dan telinga sehingga tidak bisa merasakan kode itu.

          Saya sadar, bahwa saya bahwa saya bukanlah nabi, jadi tak sepatutnya diri ini menggurui dan menceramahi apalagi menghakimi mereka yang ada disekitarku, dan memandang sebelah mata mereka yang ada disekitar. Sekali lagi diri ini bukanlah nabi diantara kalian. Jadi tak sepantasnya diri ini bersikap arogan.

           "Sombong!" Julukan lain yang melekat pada diri ini, karena diri ini kerap memamerkan kebolehan yang tak seberapa ini kepada hal layak. "Jijik Cok!" Mungkin kata itulah yang ingin mereka lontarkan pada diri ini, namun diri ini tak kunjung menyadari. "Bangsat!"

             Kadang saya juga bingung, mengapa diri ini bisa demikian, karena diri ini juga tak kunjung sadar atas perilaku yang diperbuat, "Anjing memang!"

              Bagaikan kaum Majusi yang kehilangan api, diri ini juga terkadang merasakan bingung "kenapa mereka menjauhi ku? Padahal kan diri ini hanya ingin berbagi pengetahuan berbalut kesombongan saja, apa yang salah sih?!"

             Entah mereka yang tak asik, ataukah diri ini yang over arogan?!

            Mungkin ini sudah waktunya untuk diri ini meninggalkan cangkang dan mencari dunia lain yang menerima saya. Namun semakin diri ini mencari dunia Ideal Milik Plato semakin diri ini tenggelam kepada ekspektasi Utopis yang membawa diri ini pada kenyataan yang distopis.

             "Kenapa sih?! Whats wrong baby?!" Apakah seharusnya saya sendiri yang merubah diri ini? Namun kelihatannya mustahil. Selama diri ini masih memiliki Egosentris yang cukup tinggi, maka selamanya saya tak akan bisa merubah diri ini. Bahkan diri saya sendiri. "Fuck you All! Bitch!"

              Okelah... Sepertinya bukannya saya harus mencari dunia Ideal milik Plato, tapi sudah seharusnya diri ini merubah sikap agar bisa menciptakan sendiri dunia Idial milikku sendiri...

            Haha....oke, doakan saja ya teman²

*"H0r0R.....".....Ng3r1".....

Sebuah Rasa

          Kutarik nafas dalam² dan kuhembuskan kembali dengan perlahan, itulah yang aku lakukan pagi ini. Ini bukanlah kali pertamanya aku begadang sampai pagi, dan layaknya begadang seperti biasanya, saya juga merasakan kantuk, namun tak begitu berarti.
           Yah... Begitulah, aku menghabiskan malam bersama kawan² seperjuangan saya. Mereka bukan hanya kawan, namun semacam ada ikatan darah namun tak sedarah entah apa itu namanya, yang jelas saya nyaman ketika bersama mereka.
            Walau terkadang kami sering terjebak dalam sebuah dialektika kehidupan yang memaksa kami untuk berdebat sekalipun itu hal yang receh, namun tetap saja itu tak mengurangi, bahkan itu malah membuat varian baru dalam rasa persaudaraan tersebut.
             Entah saya yang terlalu idealis hingga saya melupakan semua sisi buruk mereka ataukah memang mereka benar² tempat ke 2 saya untuk pulang. Namun satu hal yang pasti, berkat mereka saya akhirnya mengetahui sebuah rasa persaudaraan tanpa harus berpatok pada sebuah ikatan.
               Tak banyak sih yang bisa ku ungkapkan untuk mereka, hanya ingin berbisik lembut ditelinga saudaraku bahwa aku sangat menyayangi kalian semua, ibarat sepasang kaki, kalianlah pasangan kaki untuk saya, karena tanpa kalian, saya merasa pincang dan tak sempurna. Namun tentu saja kalimat itu tak terucap karena sudah pasti itu akan menjadi bumerang sehingga saya akan jadi bulan-bulanan mereka saja..
                Hahaha.... Terkadang mereka juga bangsat, namun tak bisa dipungkiri itulah varian rasa yang telah tercipta seperti apa yang saya katakan tadi. Varian itu tidaklah membuat saya muak atau bahkan jenuh, akan tetapi ingin sekali hati ini untuk menambahkan varian rasa dalam sebuah cangkir persaudaraan ini.
                 Saya senang walau ada diantara mereka yang menjadikan saya sebagai bulan-bulanan dan ada juga sebagian dari mereka yang menjadi korban bulan-bulanan saya. Namun itulah rasa hang saya bicarakan, semua teraduk larut dalam sebuah cangkir persaudaraan yang nikmat.
                 Teruntuk kalian, wahai para saudara tak sedarahku. Jagalah ukuwah ini, boleh saja kita saling mencela atau menghina terbalut sebuah tawa, namun jangan sampai menimbulkan perpecahan dan perceraian diantara kita. Karena harta terbaik yang kumiliki sekarang ini adalah kalian

Selasa, 19 November 2019

Pulang

Judul : Pulang
Penulis : Leila S Chudori
Tema : Sejarah
Halaman : 464

          Dalam buku ini, pihak korban yang menjadi tokoh utama ialah para terduga komunis. Mereka mengalami berbagai pelanggaran hak asasi, kehilangan status kewarganegaraan, sampai pada pelecehan seksual yang dilakukan aparat pemerintah saat melakukan interogasi. Di akhir bukunya, Leila menuliskan bahwa ia melakukan sejumlah wawancara terhadap beberapa tahanan politik saat menulis buku ini, jadi kemungkinan besar ada banyak fakta di balik status buku ini sebagai fiksi.

          Secara singkat novel ini menceritakan tentang tokoh bernama Dimas, seorang eksil politik yang terpaksa mengembara ke berbagai negara karena paspornya dicabut oleh pemerintah Indonesia kala itu. Hal yang menarik ialah tokoh Dimas yang digambarkan memiliki tendensi politik netral. Ia bergaul dengan banyak simpatisan komunis, namun ia juga sering berdiskusi dengan tokoh lajur kanan. Walaupun begitu, ia dan keturunannya tetap terkena imbas atas tuduhan komunis yang seolah menempel permanen di wajahnya.

           Selain mengungkap sisi lain dari peristiwa G30S PKI, novel ini juga berlatar belakang kisruh paris 1968 dan juga Lengsernya orba dengan bergantinya Sistem pemerintahan menjadi Reformasi pada tahun 1998.

Kelebihan : Novel ini mengungkap kejadian yang tidak diungkap oleh media masa, jadi kita juga bisa menilai kejadian tersebut dari dua sisi, dan tidak melulu menyalahkan para anggota dari PKI.

Kekurangan : Banyak menggunakan istilah asing yang tidak semuanya diberikan keterangan dibawah bukunya.

Selasa, 05 November 2019

Go Set a Watcman

Judul : Go Set a Watchman
Penulis : Harper Lee
Rilis : 2015
Halaman : 288
Penerbit : Mizan
Bahasa : Indonesia

          Go Set a Watchman mengisahkan kehidupan para tokoh di To Kill A Mockingbird 20 tahun kemudian. Jean Louise Finch/Scout kembali ke Maycomb Alabama untuk mengunjungi ayahnya, Atticus yang sudah mulai menua. Namun, kota kelahirannya tak lagi seperti dulu, begitu pun sang ayah. Scout harus berjuang mengatasi masalah-masalah pribadi dan politis tentang sang ayah dan kota kecil yang dulu membentuk siapa dirinya.

          Novel ini mengisahkan bagaimana Scout menerima dan beradaptasi dengan perubahan dan peristiwa-peristiwa menggemparkan yang membentuk Amerika di pertengahan 1950-an, Go Set a Watchman memberikan pandangan baru tentang kisah klasik karya Harper Lee. Menggugah, lucu sekaligus menggebrak tatanan sosial masyarakat Amerika saat itu.

Kekurangan : cerita yang disajikan kurang menarik karena konflik yang ditampilkan kurang nyata dan terkesan monoton. Selain itu dalam novel ini juga didominasi oleh ingatan/flashback si tokoh utama pada cerita To Kill a Mockingbird

Kelebihan : Sampul menarik, bahasa yang digunakan ringan, Konflik yang disajikan cukup menarik walaupun hanya berupa flashback dan konflik perseorangan saja.